Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 29


__ADS_3

"Mulai hari ini, aku tak ingin lagi kamu membahas semua masa lalu yang ada. Aku sudah melupakan semua masa lalumu. Kamu harus begitu juga," ucap Amar, dibalas anggukan pasrah Anna.


Setelah itu, Amar dan Anna bergabung bersama kedua mertua dan Anan. Beberapa waktu bermain dengan Anan, melihat kemandirian dan kepandaian Anan bela diri, membuat ibu Amar sungguh jatuh pada bocah itu. Hingga ia memutuskan untuk menambah waktu menginap di sana.


Pada sore hari, Amar mengajak Anna memeriksa kandungan ke klinik langganan yang tak lain bertemu dengan Dokter Yoga. Namun, ada yang berbeda dengan Dokter Yoga. Ia terlihat sedikit lebih sibuk bermain dengan ponselnya.


"Sepertinya, kamu sedang dekat dengan seseorang ya, Dok?" tanya Anna dengan nada bercanda. Namun, Amar yang duduk di sampingnya hanya memasang wajah datar.


"Ah, bukan. Hanya saja ini ada gadis gila yang terus menerorku minta ganti rugi. Waktu aku kasih uang, dia malah tidak mau. Dia maksa minta kontak dan tak berhenti menghubungiku setiap waktu."


Amar tak henti memperhatikan tingkah Dokter Yoga. Ia mencoba membaca apakah Dokter Yoga masih ingin merebut istrinya, atau sudah pasrah.


"Waah, sepertinya dia gadis unik?" ucap Anna membuat Amar memutar kepala menatap istrinya yang terlihat lebih ceria.


"Ekhem, ini berarti sebentar lagi kapal bujang lapuk ini akan berlayar?" sela Amar.


Anna dan Dokter Yoga serempak menatap Amar setelah mendengar pernyataannya. Amar kembali berdehem tipis lalu membuang muka melihat sisi lain.

__ADS_1


"Maafkan suamiku ya, Dok? Biasanya dia tidak begini." Anna mencubit pinggang Amar membuat sang suami menggeliat.


"Geliii," ringisnya.


Dokter Yoga terkekeh sejenak. "Sepertinya, kalian sudah jauh lebih dekat. Rencananya kalau masih kayak dulu, mengabaikan Anna saat dia hamil, aku akan terang-terangan membawa istri orang yang sedang hamil ini," candanya.


Amar mendekap Anna dengan erat. "Tidak! Tidak akan ada yang namanya kesempatan untuk ditikung oleh siapa pun, termasuk kamu. Dia akan terus kugenggam, dan aku pastikan masa kebodohan itu tak akan pernah terulang."


Dokter Yoga menanggapi memasang wajah biasa. "Syukur lah, kalau dia begitu, tandanya ia masih tergolong suami normal." Dokter Yoga kembali melirik ponselnya yang bergetar.


Anna dan Amar dalam diam mengamati tingkah laku pria yang mengenakan jas putih itu. Beberapa waktu setelah membalas pesan, ia baru menyadari tengah dilirik oleh pasangan suami istri tersebut.


"Kami ke sini kan berharap agar Anna tidak terlalu parah mualnya, mana resepnya?" tanya Amar blak-blakan.


Anna menggenggam tangan suaminya dan menggelengkan kepala. Dokter Yoga kembali terkekeh dan menggelenkan kepala.


"Maaf, saya hampir lupa." Ia segera menuliskan beberapa resep dalam selembar notes khusus lalu menariknya.

__ADS_1


"Nah, di sini ada beberapa vitamin yang baik untuk pertumbuhan otak bagi janin. Tidak hanya itu, saya juga sudah memberikan satu resep untuk mengurangi rasa mual berlebih. Jika sudah tidak mual lagi, kamu boleh menghentikan mengonsumsinya." Ia menyerahkan kepada Anna, tetapi direbut oleh Amar.


"Ini adalah tanggung jawabku." Amar langsung menarik tangan istrinya. "Ayo Sayang. Kita harus segera menebusnya ke apotek."


Anna terlihat merasa bersalah oleh tingkah Amar. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Baik lah, Dok. Maafkan suamiku ya? Terima kasih." Anna ingin menyalami Dokter Yoga, tetapi Amar langsung menyambut tangan Anna dan menggenggamnya.


"Dah, kami pergi dulu. Thanx!" Dengan cuek Amar menarik istrinya keluar. Dokter Yoga seakan maklum, kembali menggelengkan kepala.


Keesokan hari, rasa mual yang dialami Anna sedikit berkurang karena dibantu oleh beberapa resep yang diberikan oleh Dokter Yoga. Anna pun telah bersiap seperti Amar dengan pakaian kerjanya.


"Loh? Kamu mau ke mana?" Amar menatap Anna dengan heran.


"Seperti biasa, aku kan harus bekerja juga."


"Bagaimana kalau kamu di rumah saja? Urusan salon kita serahkan saja pada mereka," pinta Amar.


Anna menggelengkan kepala cepat. "Aku sudah terbiasa bekerja, jadi bingung hanya sekedar duduk menunggu di rumah."

__ADS_1


"Kamu kan bisa memasak untukku? Kedua orang tuaku kan masih di sini?"


__ADS_2