
Anna hanya menganggukan kepala memeluk Zico. Karena, tak dipungkiri semenjak menjadi sepasang kekasih, semua biaya percint4an di antara mereka selalu keluar dari kantong Anna. Sungguh sesuatu yang mengejutkan baginya, Zico mengeluarkan uang menyewa kamar hotel demi malam itu. Malam yang membuatnya takut ditinggalkan oleh lelaki ini, yang mau menerimanya yang hanyalah seorang anak pungut dari keluarga Cakradinata.
"Sayang, yang kayak tadi malam kita ulang lagi yuk?" ajak Zico. "Kamu, sungguh membuatku candu. Apalagi mendengar des4hanmu, aaahh, membuatku menggil4." Zico membisikannya tepat pada daun telinga Anna, tak hanya itu, dikecup dan ditiupnya beberapa kali.
"Jangan! A-aku ...."
Anna semakin gugup karena perbuatan Zico yang semakin menjadi. Kali ini, ia sengaja mengecup kulit di balik daun telinga gadis itu.
"Aaaah, ka-kamu? Jangan begitu," ucapnya dengan nada rendah.
"Ayooo, lagi yah Sayang? Ayoo, kita ulang memadu kasih ini? Kita akan menikah kok.
"Aku mohon, tunggu lah sampai kita benar-benar sudah sah di hadapan semua saksi. Jangan begini ...." Anna menekuk wajahnya dengan rasa sungguh bercampur aduk.
"Apa sebenarnya, kamu tidak mencintaiku?" Nada suara Zico, terdengar meninggi memasang raut kecewa berat.
"Baik lah, aku tidak akan memaksamu. Mungkin aku memang tak pernah pantas untuk berada di sampingmu—"
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata begitu?" Anna menyela ucapan Zico dan menggenggam tangan lelaki yang akan beranjak ini.
"Aku sungguh sangat mencintaimu. Aku sudah utuh menjadi milikmu, aku tak mungkin bisa berpaling darimu. Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkan aku." Suara Anna mendayu memohon agar Zico tidak marah lagi padanya.
Tanpa ia ketahui, di balik tubuh dengan ekspresi yang tidak bisa ia lihat, bibir Zico tersungging sebuah senyum licik. Kembali ia rasakan Anna semakin menggenggamnya erat. Semaki lebar tawa itu dan Anna kini sudah masuk ke dalam perangkapnya.
*
*
*
Anna yang telah merasa gusar, telah beberapa kali mencoba untuk menghubungi kontak yang sengaja ia beri label dengan tanda hati. Akan tetapi, ia tidak tahu kemelut apa yang terjadi pada keluarga Zico yang memang kesulitan dalam menyiapkan lamaran pada kekasih anak mereka.
"Zico, ibu dan bapakmu ini tidak memiliki banyak uang. Jika harus terus mengikuti kekasihmu itu, maka sedikit gaji yang kau beri kepada kami, tidak akan sanggup untuk terus membuat kami bisa bertahan hidup!" ucap ibu Zico.
"Ayo lah, Bu, Pak ... Dia itu gadis kaya raya. Jika aku mendapatkannya, maka nasib kita semua akan berubah. Siapa tau ayahnya Sugiono Cakradinata itu akan memberikanku kedudukan tinggi? Nanti, aku akan menguras semua harta yang ia punya. Mereka tentu tak akan keberatan jika suami dari putri kesayangannya mengambil sedikit sisa yang tak mereka ingat."
__ADS_1
"Tapi, kami tidak memiliki pakaian yang bagus untuk datang ke sana! Bapak dengar dari rekan kerjamu, gajimu lumayan besar di kantormu itu. Ke mana habisnya? Apa hanya untuk foya-foya belaka?" tanya orang tua Zico yang laki-laki.
Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran laki-laki itu. Ia segera menghubungi Anna, beberapa kali mencoba melatih postur wajah agar terlihat semenyedihkan mungkin.
"Sayang, maaf kami sepertinya akan datang terlambat. Bapak dan Ibuku belum mendapatkan pinjaman baju juga. Jadi karena itu kami belum sampai di sana. Karena mereka mesti menunggu tamu yang berasal dari luar, yang mau meminjamkan pakaian agar bisa digunakan untuk datang ke sana dan melamarmu."
Anna tertegun sejenak mendengar ucapan Zico. Ia yang terlalu cantik dalam balutan kebaya, tak mungkin akan masih sabar dalam menunggu. Ia segera membuka mobile banking dan mentrasnfer sejumlah uang.
Tak beberapa lama setelah mentransfer uang, keluarga Zico pun datang dan melamar Anna untuk Zico. Namun, semua biaya ditanggungkan dari keuangan Anna yang diserahkan kepada Zico, untuk membeli seserahan serta cincin tunangan.
Namun, Anna tak mempermasalahkan itu. Baginya, yang penting Zico akan menjadi suaminya. Semua harga pada dirinya, telah diambil paksa, membuat Anna seolah benar-benar kehilangan harga diri.
Usai ditentukan tanggal pernikahan, Anna memberanikan diri untuk tak lagi menggunakan pil kontras3ps1. Ia ingin segera perpaduan cinta mereka berdua menjadi seorang bayi. Agar tak perlu berlama dalam penantian buah hati dalam masa pernikahan.
Namun, nahas ... Keputusannya itu berakhir celaka. Zico meninggalkannya dalam kehamilan yang tak diketahui oleh laki-laki itu.
Dan kini (kembali pada masa sekarang), Zico tak diterima kembali oleh keluarganya. Keluarganya murka, saat ia memberikan kabar telah bercerai dengan Silvi. Menantu kaya yang membuat keluarga mereka tak pernah melarat lagi.
__ADS_1
Pintu rumah itu tertutup rapat, membiarkan Zico berdiri di tengah derasnya hujan.
"Dasar anak tak tahu diri! Udah tahu bininya kaya raya, kenapa kali ini malah sok-sokan memiliki harga diri yang tinggi? Pergi lah! Jangan pernah kembali sebelum kau rujuk, atau punya istri yang lebih kaya raya! Tidak apa tua, asal uangnya banyak. Tak apa mandul, asal dia mau membantu membiayakan masa tua kami!"