
Zico telah mendapatkan hasil laboratorium mengenai tes DNA antara dia dan Anan. Membaca hasil itu membuat bibir Zico tersungging senyum puasnya.
"Anan memang adalah anakku. Jadi sampai kapan rahasia ini akan kamu simpan Anna? Apa menunggu aku mati dulu baru kau akan katakan bahwa aku ini adalah ayah Anan?"
Zico bergerak menuju sekolah Anan. Ia berharap menjadi orang yang lebih dahulu sampai, sehingga ia bisa dengan leluasa menceritakan semua hal itu. Zico pun berdiri, menunggu tepat di depan sekolah Anan. Padahal, bel pertanda pulang belum berbunyi.
Namun, setelah sekolah sepi, tak ada lagi siswa yang keluar dari bagian gedung sekolah, membuat perasaan Zico bertanya heran. Beberapa kali ia memutar kepala, tak juga melihat kedatangan Anna atau suaminya.
"Maaf, Pak, menunggu siapa?" tanya seorang pria berpakaian security.
"Oh, saya ingin menjemput Anan, Pak. Tapi, sepertinya dia sudah pulang," ucap Zico dengan raut kecewa.
"Owalaah, Anda siapanya Nak Anan?" tanya sang security dengan spontan.
Zico menggaruk kepala bagian belakang. "Saya saudara papanya."
"Ooh, gituu. Pantesan mirip. Saya pikir siapa gitu kan? Anan tidak masuk hari ini, Pak. Coba tanyakan alasannya kepada papanya Anan."
Ada rasa kecewa hinggap dalam hati Zico. Ia melirik jauh menatap ke arah salon Anna yang tak jauh dari sekolah ini. Setelah berbincang beberapa saat, Zico mampir ke salon tersebut. Namun, nihil. Salon itu juga tutup.
"Kenapaaaa? Kenapa di saat semua kenyataan telah terkuak, aku malah tidak bisa bertemu dengan anakku. Dar4h dagingku?"
Brak
__ADS_1
Brak
Brak
Zico tersentak mendengar suara ribut yang berasal dari arah atas. "Apa di sana ada maling?"
Zico mencoba mendorong pintu tersebut, tetapi dikunci. Zico mulai berpikir cepat menggeser jemari pada ponselnya mencari kontak Anna. Namun, ternyata nama Anna sudah tidak ada lagi tersimpan di sana.
"Ini pasti kerjaan Silvi menghapus kontak Anna."
Zico kembali mencoba memikirkan cara agar bisa melihat keadaan di bagian atas bangunan ini. Jika benar di dalam sana ada pencuri, maka semua harta benda Anna akan dicuri.
"Wooi! Siapa di dalam?" teriak Zico.
"Paaapaaaaaa!" teriak bocah itu.
Zico terperenjat mendapat panggilan yang tiba-tiba seperti itu, ia terduduk di atas lantai seakan belum siap mendapat serangan yang terasa manis di jantungnya.
*
*
*
__ADS_1
Pada sebuah rumah mewah, Anna dan Amar terlihat gusar. Pintu kamar Anan berhasil didobrak dan mereka sangat terkejut mengetahui sebuah kenyataan bahwa Anan telah menghilang.
Para security terlihat menundukan wajah memasang raut penuh sesal. "Maafkan kami, Tuan, Nyonya, gara-gara kami teledor, Tuan Muda kabur pun kami tidak menyadarinya."
"Kalian itu saya bayar buat bekerja! Bukan buat tiduran!" bentak Amar dengan Amarah hingga ke ubun-ubun.
"Ma-maafkan kami, Pak," ucap mereka semakin gugup.
"Kalau terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka kalian bukan hanya saya pecat! Tapi juga akan saya penjarakan!"
*
*
*
Zico mengusap kepala Anan dengan handuk karena baru saja selesai mandi. "Coba panggil aku dengan Papa lagi!"
"Papa," ucap Anan singkat.
"Aah, lega sekali. Papa bersyukur kamu tahu bahwa Papa Zico adalah papamu yang sebenarnya."
Anan menganggukan kepala bersiap membuka mie instan dalam cup yang telah disiapkan oleh Zico. Ia segera menyeruput mie tersebut dan menikmati makanan itu dengan lahap. Zico terheran melihat bocah ini begitu menyukai mie cup ini.
__ADS_1
"Kamu mengingatkan Papa pada masa sebelum mengenal mamamu. Hanya ini yang bisa Papa beli, sebagai lauk jadi teman nasi," ucap Zico matanya mengawang jauh pada masa kelam.