Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
75. Melamarmu Kembali


__ADS_3

Amar, Anna, dan Anan sedang menengadahkan tangan bermunajat mendoakan Nenek tenang di alam sana. Setelah itu, kembang yang tadi sengaja dibeli, kini mulai ditebarkan di atas pusara Nenek kesayangan.


Meskipun Anan kebingungan, ia membantu menuangkan air mawar ke atas pusara orang yang tak dikenalnya.


"Nek, sekarang aku sudah membawanya. Aku mohon, restui kami untuk memulaik semua dari awal. Nenek tahu kan, bagaimana upayaku untuk mencarinya?" ucap Amar mengusap nisan neneknya.


Anna mengusap nisan pada sisi berlawanan. Bulir bening kembali menjatuhi pipinya. "Nek, aku tidak tahu meski mengatakan apa. Namun, aku hanya ingin mengatakan kepada Nenek, aku sangat berterima kasih pada Nenek yang selalu saja membantuku. Hanya saja, kala itu, aku terlalu keras kepala."


Amar kembali menggenggam tangan Anna yang terus mengusp pusara Nenek Andari. "Nek, sekarang Nenek bisa melihat cicit Nenek yang sangat tampan."


Anan yang masih terlihat bingung, melongo mendengar ucapan Papa Amar. "Apakah ini makan Nenek Anan?" tanyanya memastikan.


"Bukan, ini makam Neneknya Papa. Papa sangat menyayanginya. Namun, sayang, Nenek tidak bisa bertahan lebih lama lagi menunggu kalian kembali. Setidaknya, mulai hari ini Nenek sudah lega."


"Mama kenapa dulu kita pergi jauh dari Papa?" Anan masih belum terlalu berani untuk mendekat kepada Anna.


"Jagoan, kenapa jauh-jauh begitu? Ayo sini!" Amar mengulurkan tangannya dan Anan bergerak cepat menggapai tangan pria yang disangkanya sebagai ayah.


Amar merangkul Anan dan mengusap kepalanya. Hal ini tak lepas dari pantauan Anna. Namun, memilih diam karena melihat keceriaan anaknya. Kali ini, ia merasa tak tega bila memberitahukan kepada putranya ini, bahwa sebenarnya Amar, bukan lah ayah biologisnya.

__ADS_1


'Biar lah ... Biar lah ia tahu bahwa Amar lah ayahnya. Lagian, ayah bilogisnya sendiri tidak tahu bahwa Anan adalah darah dagingnya.'


Raut Amar terlihat sangat sedih. Tentu saja, karena baginya, Nenek Andari lebih dari sekedar Nenek baginya. Nenek adalah segalanya bagi dirinya. Anna mengusap punggung Amar. Tanpa Amar mengatakannya pun, Anna sudah sangat mengerti, apa yang dirasakan oleh pria yang berebapa bulan tinggal bersama dengannya dulu.


Beberapa waktu mereka saling menguatkan, akhirnya mereka memilih untuk beranjak. Kedua tangan itu kali ini tergenggam dengan leluasa. Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka.


"Apakah kamu sudah bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanya Amar.


Anna menggeleng pelan. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada mereka. Mereka pasti menanyakan alasanku pergi meninhgalkan kota ini."


"Bagaimana kalau kita temui mereka. Aku ingin melamarmu kembali kepada mereka. Karena, dulu ... Aku belum bersungguh-sungguh terhadapmu."


"Akhiri saja. Kamu hanya lah milikku! Jadi, akhiri lah hubunganmu dengannya. Karena, aku akan melamarmu, benar-benar untuk menjadi istriku seutuhnya." Amar membelai pipi Anna penuh kasih.


Anna merasakan hangat pada wajahny setelah mendapat belaian itu. "Aah, apa yang kamu lakukan?" Anna menepis tangan Amar.


Akan tetapi, tangan itu kembali digenggam oleh Amar. Ia menarik Anna terus mendekat dan jarak yang tadinya cukup jauh, kali ini semakin mengecil.


"Papa Mama ngapain?" Tiba-tiba, Anan muncul di antara mereka. Anna beranjak menjauh membuang rasa canggung yang menggelayuti dirinya. Ia menepuk pipinya yang merona dan terasa panas.

__ADS_1


Cup


Tiba-tiba Amar mengecup pipinya. "Terima kasih, Sayang." Amar berlalu dan menggendong Anan di punggungnya menuju kendaraan yang sedang terparkir.


Kendaraan pun melaju meninggalkan kompleks pemakaman elite tadi. Tangan Amar dan Anna saling tergenggam dan semburat senyuman bahagia kini menghiasi wajah keduanya.


"Papa Mama kok senyum-senyum terus?" Kali ini, Anan bersedia duduk di belakang sendirian. Ia kembali mengintip kedua orang tuanya bergantian.


Tangan Anna perlahan ingin membelai Anan, tetapi udah keduluan oleh Amar mengusap kapala Anan.


"Duduk baik-baik, Jagoan! Kita lagi di jalan!"


Anan kembali pada posisi duduknya. "Anan seneng banget semenjak Papa ada. Mama juga seneng banget," soraknya.


Amar melirik Anna yang terlihat merona tersenyum tipis. "Senyum yang lebar dong? Kita akan bertemu keluargamu."


Tak lama kemudian, di depan pintu rumah luas milik keluarga Candradinata, tampak pemuda sekitar dua puluh tahunan, menatap tajam kepada Amar.


"Berani sekali kau ke sini?"

__ADS_1


__ADS_2