Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
92. Keterangan


__ADS_3

"Hahaha ... Tumben sekali seorang yang tak pernah peduli, sampai memikirkan pada hal seperti itu!" Anna tertawa sinis menatap Zico dan Silvi bergantian.


"Lebih baik, kalian pergi sebelum aku memanggil pihak yang berwajib, bukan untuk mengusir, tetapi memenjarakan kalian karena tindakan tidak menyenangkan pada kekuarga kami!" Amar membuka pintu yang terbuat dari kaca, menunjuk ke luar.


Zico tersenyum tipis. "Kenapa kalian takut seperti ini? Kalau kalian ketakutan begini, kalian membuatku semakin yakin bahwa Anan adalah anakku, meskipun tidak diizinkan untuk melakukan tes DNA."


"Karena Anan adalah anak suamiku, berarti kami juga memiliki hak untuk mengasuhnya. Kamu kan sudah mengasuhnya selama ini, kini giliranku dan suamiku yang mengasuhnya!" ucap Silvi dengan lantang.


"Hahaha! Segitu tidak percaya diri kah kamu? Kenapa tidak kau saja yang melahirkan anaknya? Kenapa kau harus mengusikku dan anakku?" Anna berjalan menyenggol pundak Silvi.


"Ooh, atau jangan-jangan kau ini mandul ya?" ucap Anna dengan penuh penekanan.


Silvi terdiam sejenak, melirik Zico, suaminya. "A-aah ... Kau jangan mengada-ada! Kita ini sedang membicarakan Anan! Jadi jangan coba-coba beralih dari pokok pembahasan kita!"


"Selamat siang?" Terdengar suara dari arah luar. Dua pria berseragam memberi tanda hormat terhadap Amar yang sedari tadi berjaga di pintu.

__ADS_1


"Selamat siang, Pak. Saya mohon bantuan dari Bapak untuk mengamankan mereka. Karena tereka telah mengganggu istri saya dan usaha yang telah dirintisnya."


Kedua polisi tersebut memohon diberi tempat untuk lewat dan segera bergerak menuju Silvi dan Zico. Kedua orang tersebut tampak sedikit ketakutan, tetapi terlihat jelas rasa takut itu ditepis dengan segera.


"Selamat siang, kami harap kalian berdua ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan!"


Silvi mendengkus berjalan cepat keluar dari salon yang dirintis oleh Anna. "Kita lihat saja, siapa yang bakalan menang!" ucap Silvi ketika melewati Anna dan Amar. Zico mengekor bagai anak ayam mengejar induknya.


Dua polisi tadi memohon diri. "Kami akan menunggu pelapor di kantor. Kami harap, Bapak dan Ibu pelapor memberikan keterangan juga dengan benar."


"Kamu jangan takut! Kali ini, kamu bisa menyerahkan segalanya padaku. Kita akan memenangkan semua ini." Amar memeluk Anna dan begitu juga dengan sebaliknya.


*


*

__ADS_1


*


"Kami hanya ingin meminta izin kepada mereka untuk membiarkan kami tes kecocokan DNA antara Anan dengan saya. Hanya itu saja," ucap Zico memberikan keterangan di hadapan polisi.


"Seharusnya Bapak dan Ibu juga menghormati keputusan mereka jika tidak memberikan izin. Itu adalah hak mereka, karena sudah jelas tertulis pada akta kelahiran Ananda Fajra Kusuma adalah anak dari Amar Fajra Kusuma." Ia menyerahkan foto kopi akta yang diserahkan oleh Anna.


"Ini bisa saja asal tulis kan, Pak? Karena saya yakin, Anan adalah darah daging saya! Saya berhak untuk memastikannya! Jika benar adanya, Anan juga harus tahu bahwa saya adalah ayah kandungnya. Orang yang membuatny hadir di muka bumi ini."


Mendengar keterangan Zico barusan, membuat Anna merasa geram. Kedua tangannya telah aktif mengganggam rok span selutut yang ia kenakan. Amar menyadari kekalutan Anna dan menggenggam tangan yang sedari tadi sibuk dengan rasa menggebu. Anna menatap mata Amar dengan dalam.


Amar mengusap kepala Anna dengan lembut dan menganggukan kepalanya. "Bagaimana pun, aku yakin kita yang akan menang."


...****************...


__ADS_1


__ADS_2