Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
54. Surat Perpisahan


__ADS_3

Amar menatap panjang kepada Anna. "Apa maksudmu tidak mau? Bukan kah, kamu sudah mencintaiku?"


Mata Anna liar melirik ke segala arah. "Ah, kenapa kamu seyakin itu mengatakannya?" Anna menjawab secara refleks. Amar mengerutkan keningnya karena tidak bisa mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Anna.


"Kamu bicara terlalu cepat. Kamu kan tahu, aku masih belajar membaca gerakan bibir. Kalau kamu cepet-cepet kayak gitu, aku belum mampu memahaminya."


Napas Anna terhela panjang. Akhirnya ia bangkit dan mengetik kembali pada ponselnya.


Lebih baik, kamu fokus saja pada operasi ini. Setelah ini, semua akan baik-baik saja.


*


*


*


Anna melihat Amar, masih tidur pengaruh bius total saat operasi operasi tadi.


"Apakah operasinya lancar, Dok?"


"Selama tiga jam proses operasi tadi, Alhamdulillah semua lancar," terang Dokter spesialis THT yang menangani Amar kali ini.


"Apakah setelah ini dia akan langsung bisa mendengar dengan baik?" tanya Anna kembali.


"Mungkin tidak secara langsung. Namun, secara perlahan seiring penyembuhan pada bagian gendang telinga, maka pendengaran suami Ibu akan pulih."


Anna menganggukkan kepalanya lagi. Ia melihat ke Arah Amar dan memutar tubuhnya. Kepalanya menggeleng.


"Terima kasih, Dok. Semoga, setelah ini, dia bisa menjalani hari-hari seperti biasa membali."


Dokter tersebut mengangguk mantap lalu pamit meninggalkan ruang rawat ini. Sementara itu, Anna mengambil selembar kertas dan spidol yang sengaja disiapkan di dalam tas. Beberapa waktu, ia menulis di atas lembaran surat itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia menghubungi Nenek Andari. Dengan segera, Nenek Andari menjawab panggilan tersebut.


"Iya, Na? Nenek sudah hampir sampai di rumah sakit."


"Baik lah, Nek. Terima kasih ya, Nek?"


Nenek Andari menyemburatkan keurutan di keningnya yang tak mulus lagi. "Kenapa kamu berterima kasih?"


"Terima kasih untuk segalanya." Anna menutup panggilannya, dan menaruh ponselnya di atas lembaran kertas yang ditulisnya tadi.


Anna mendekati brangkar di mana Amar masih terlelap. Ia menatap dalam pada tubuh yang tertidur itu. Setelah itu ia pergi, mengambil langkah berbeda dari arah yang biasa ia lewati. Nenek pun telah berjalan di lorong rumah sakit menuju ke kamar Amar.


Dengan semangat, Nenek membuka pintu kamar Amar. "Bagaimana ope—" Nenek terdiam dan terlihat bingung memanjangkan leher mencari satu sosok.


Nenek menuju kamar mandi yang ada di ruanga rawat tersebut dan mengetuknya. "Anna, apa kamu berada di dalam?"


Namun, tak terdengar sahutan sedikit pun. Nenek memutar kepalanya, tetapi tak ada bayangan Anna sedikit pun. Lalu, Nenek mencari ponsel yang berada di dalam tas tangannya. Beliau segera menghubungi kontak terakhir yang dihubungi.


Suara musik beralun, Nenek sudah mengenal musik yang menjadi nada panggil di ponsel Anna. Nenek memutar kepala melirik arah kiri dan kanan mencari sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari benda yang sudah dikenal, terletak di atas nakas.


Ujung mata Nenek mengerut. Ia membuka lembaran kertas itu. Namun, penglihatan Nenek yang tidak begitu bagus, hanya bisa melihat tulisan-tulisan mengeluarkan bayangan buram.


Nenek mengorek kembali tas, mencari benda sakti teman mata tuanya. Tanpa berlama-lama, kaca mata segera dipasang dan Nenek mulai membaca apa yang tertulis.


*Dear Bang Amar


Halo, Bang ... Semoga di saat membaca surat ini, pendengaranmu semakin membaik.


Aku, hanya ingin mengatakan ... aku pergi ...


Jagalah Nenek dan jagalah dirimu sendiri dengan baik.

__ADS_1


Jangan minum alkohol lagi, jangan mabuk-mabukan lagi.


Semoga, setelah ini ... Kamu menemukan orang yang bisa kamu sayangi dengan tulus, tanpa terikat dengan masa lalumu*.


Pada bagian bawah, ada pesan untuk Nenek Andari


*Dear Nenek Andari yang baik hati.


Terima kasih, Nek. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih sudah menerima aku yang h*na ini di rumah Nenek.


Namun, maafkan aku, Nek.


Aku tidak bisa lagi bertahan. Bang Amar tak pernah memikirkanku. Aku hanyalah sosok pengganti yang tak bisa menggantikan keberadaan Luna di hatinya.


Setelah ini, aku akan menjalani hidupku yang baru. Aku akan melahirkan anak ini tanpa membebani siapa pun, termasuk Nenek dan Bang Amar.


Jika Bang Amar bisa menemukan sosok yang bisa menggantikan Luna di hatinya, jangan halangi keinginannya untuk menikah kembali. Aku berjanji tidak akan muncul di kehidupannya lagi.


Jika orang tuaku mencari dan menghubungiku, tolong katakan bahwa aku baik-baik saja.


Kepada kedua orang tua Bang Amar, aku mohon maaf telah merebut posisi Luna dari posisinya. Sekarang, posisi itu telah aku kembalikan. Bang Amar boleh langsung melayangkan talak dan gugatan cerai.


Lewat ini, aku berikan kuasa kepada Nenek untuk menggantikan aku menerima perceraian itu.


Maafkan aku, Nek ... Jagalah kesehatan Nenek dengan baik. Semoga, aku masih bisa bertemu dengan Nenek.


Salam sayang ... Annasya Putri Cakradinata*.


Air mata Nenek, jatuh satu persatu. Nenek terduduk pada kursi yang ada di samping brangkar Amar.


Saat malam datang, Amar telah sadar dari tidurnya. Bagian telinga kiri, masih tertutup perban. Kepalanya liar melihat ke segala arah. Ia hanya menemukan Nenek tertunduk, tak tahu kenapa.

__ADS_1


"Nek, Anna di mana? Kenapa belum kelihatan juga?"


Nenek bangkit memuukul tangan Amar menggunakan surat yang ditulis oleh Anna tadi.


__ADS_2