
Anan berlari dan terus berlari keluar dari rumah kos yang ditempati oleh Zico. "Papa Anan hanya Papa Amar. Anan tidak kenal Papa Zico!" tangisnya sepanjang jalan.
Ketika sampai pinggir jalan, Anan terlihat cukup kebingungan. Dia harus ke arah mana?
Namun, akhirnya ia memilih arah secara asal dan berlari. Ia ingin kembali menuju rumah megah yang beberapa waktu terakhir telah ditempati bersama Anna dan Amar. Akan tetapi, ia masih belum terlalu hapal ke mana arahnya dengan benar.
Kepala Aziel kembali berputar antara kiri dan kanan. Di mana rumah Papa Amar? Anan menyeka air mata dengan lengan pakaian yang ia kenakan. Kali ini ia mulai menyusiri trotoar. Ternyata, area ini adalah tempat yang belum pernah ia singgahi.
"Papa, Mama, maafkan Anan. Anan mau pulang. Tapi tidak tahu ini di mana," tangisnya kebingungan. Air mata yang sudah berjatuhan, diseka kembali menggunakan pakaiannya hingga mengering.
Bahkan, semua peralatannya tertinggal di kosan Zico. Anan tidak memiliki apa pun untuk membawanya pulang. Dia hanya bisa berjalan menuju arah yang semakin tidak menentu.
Matahari mulai turun dari singgasananya, tetapi Anan masih berjalan pada arah yang tak tentu. Sampai lah pada persimpangan jalan yang sangat banyak. Aziel terduduk di antara pembatas jalur dua memandangi para bocah yang menari dan menyanyi demi mendapatkan uang dari belas kasih pengendara yang berhenti.
Kruuucuuuk
Perutnya telah bergemuruh. Ketika berada di ruko ibunya yang sudah tidak beroperasi lagi itu, Anan tidak menemukan apa pun untuk di makan. Ketika makan mie seduh dibuatkan oleh Zico pun, tak habis disantapnya.
Anan menepuk tangannya. "Ekhemmm ...." Ia mencoba untuk mengatur suara. Perutnya sudah meronta untuk diisi. Maka jalan pintas yang ia lihat tak lain meniru apa yang dilakukan oleh para pengamen itu.
__ADS_1
"Pelangi, pelangi ... Ekhemmm ...." Anan masih menguji suaranya agar tidak terlalu serak dalam bernyanyi. Ia berlatih sedikit diiringi dengan tepukan tangan.
Ketika lampu merah menyala, Aziel ikut berlari menyanyikan lagu yang ia ingat. Sayangnya, lagu yang ia ingat hanya lah lagu ketika ia masih TK dulu. "Pelangi pelangi, alangkah indahmu—"
Lagu yang ia nyanyikan belum selesai, ia telah disodorkan selembar uang dengan nominal dua ribuan. Ia beralih pada kendaraan lain dan seperti tadi, sebelum selesai menyanyi ia mendapatkan uang, dan lampu hijau pun menyala.
Anan segera menghitung uang yang ia dapatkan dan wajahnya sumringah karena memiliki uang kertas itu sebanyak sepuluh lembar. "Anan sudah bisa beli makanan." Bocah itu beralih menyeberang hendak menuju warung nasi yang tak jauh dari sana.
Akan tetapi, dari belakang sebuah tangan menarik pakaiannya dengan mudah dan Anan ditarik menuju pojok bangunan yang agak kumuh. Setelah itu, Anan didorong kasar hingga terjatuh.
"Lu siape berani mangkal di wilayah kami?" bentak seorang pria gempal, tangannya dipenuhi tato, berwajah sangar.
"Aaah, ma-maaf, Om. Apa salah saya?" tanyanya bingung.
"Aggh, aaagh, aaagghhh!"
Teriakan Aziel terdengar oleh seseorang yang sedang bertengkar dengan seorang perempuan.
"Hei, Om? Gimana nih? Pakaian saya kotor gara-gara kau!" bentak gadis berambut panjang itu.
__ADS_1
"Aaagghh, aampuuun!"
Pria yang menjadi lawan bicara gadis itu tak bisa fokus mendengar ocehan gadis yang terkena tumpahan kopi. Ia hanya beranjak dan menjauh.
"Hei, Om?" teriak gadis itu mengejar laki-laki itu.
Pria itu mengintip apa yang terjadi dan melihat seorang anak kecil yang terus ditendang oleh pria dewasa bertubuh kekar.
"Aampuun!" pekik anak itu kesakitan.
Sang pria tadi mencoba melihat siapa anak kecil tersebut. Dia sangat terkejut dan marah mendapati bahwa anak kecil itu adalah anak yang sangat ia kenal.
"ANAN? HOOI! KALIAN KURANG AJAR!" bentaknya.
"HALO PAK POLISI, DI SINI ADA PREMAN MENYERANG ANAK SAYA!"
Mendengar seseorang melapor pada polisi, pria yang menghajar Anan tadi kabur pontang panting bersama kawanannya. "Awas kalau kau mangkal lagi di sini!" teriaknya berlalu.
Pria itu segera mendekati Anan, diikuti oleh gadis yang mengomel tadi.
__ADS_1
"Anan? Apa kamu tidak apa-apa?" Wajah pria itu terlihat sangat sedih dan khawatir.
Anan membuka matanya melihat siapa yang berada di hadapannya. "Om, Dokter?" Lalu, Anan layu tak sadarkan diri.