
"Karena Amar sedang membantuku untuk membalas bajingan itu secara elite. Biar dia tahu rasanya dihina dan melebihi hinanya diriku yang ditinggal dalam keadaan hamil anak si keparat itu."
Nenek Andari menatap wajah Anna cukup panjang. Tanpa disangka, Nenek Andari menarik telinga Anna.
"Yaaa aaampuuun ... Kenapa kamu pendendam sekali? Siapa yang mengajarkanmu untuk menyimpan dendam seperti itu?" Nenek Andari tidak melepas jeweran pada telinga Anna.
"Sakit, Nek ... Saaakiiit," teriak Anna.
Nenek Andari melepaskan tarikan pada telinga Anna. "Kamu tidak boleh jadi pendendam kayak gitu. Tidak baik! Apalagi saat ini kamu lagi hamil. Nanti akan menurunkan sesuatu yang tidak baik kepada anak yang ada dalam kandunganmu."
Amar tersenyum tipis mendengar kemarahan Nenek kepada Ana. "Ayo kita pergi, nanti dia menunggu kita terlalu lama."
Anna masih mengusap telinganya yang panas karena jeweran dari nenek. Amar merangkul pundak Nenek Andari menuju mobilnya yang sedang terparkir di depan beranda. Sementara itu, Anna mengikuti di belakang sedikit mengernyitkan wajah merasakan perih di telinganya.
Zico terlihat keluar dari kendaraan membukakan pintu bagian penumpang di belakang. Nenek dipersilakan masuk, begitu juga Anna. Setelah itu, Amar memilih duduk di samping kemudi.
Zico telah siap dengan kendaraan yang akan ia bawa. Seluruh penumpang pun duduk dengan tenang pada posisi masing-masing. Sang supir dadakan pun langsung melaju mengikuti perintah pria yang duduk di sampingnya.
"Anna, kenapa kamu terlihat sangat lesu?" tanya Nenek mengusap rambut Anna.
Anna melirik Nenek, ternyata Nenek Andari mengedipkan mata kepadanya. "Anna lapar, Nek, belum makan."
__ADS_1
"Duuuh, kasian sekali cucu menantu Nenek. Nanti kamu makan yang banyak ya? Agar kamu siap nanti untuk menjadi."
Amar seolah tidak tertarik dengan obrolan dua wanita yang ada di belakang memilih memandangi penampakan yang ada di luar jendela. Zico tak berhenti melirik dua wanita yang asik mengobrol lewat spion depan.
Sejak kapan mereka bisa sedekat itu? Bahkan, kenapa Pak Amar malah memilih Anna menjadi istrinya? Kenapa bukan yang lain? Apa tanggapannya ketika tahu Anna sudah tidak per*w*n lagi?
Atau, Pak Amar ini hanya pria bodoh yang bisa dikelabui oleh anak pungut bod*h itu?
**Meski Anna jauh lebih cantik dibanding Silvi, setidaknya aku mendapat istri seorang gadis per*w*n, anak kandung dari pengusaha kaya raya.
Jika memang Anna adalah istrinya, lebih baik aku mengundurkan diri setelah ini. Meski pun perjanjian kontrak masih dua tahun lagi, tetapi aku sudah tidak tahan jika harus bertemu dengannya setiap ke kantor.
Aku yakin, Papa Mertua akan memberikan posisi bagiku yang mau menikahi anaknya itu**.
"Oh, tidak, Pak. Saya melihat istri Anda dan Nenek terlihat sangat akrab. Mereka seperti orang yang sudah lama saling mengenal," ucap Zico.
"Oh, begitu?"
"Benar sekali, Pak. Sejak kapan kalian saling mengenaln dan memutuskan untuk menikah?" tanya Zico kembali.
Anna dan Nenek Andari bergantian menjadi penyimak.
__ADS_1
"Kapan ya, Sayang?" tanya Amar menoleh ke belakang.
"Saya rasa beberapa hari sebelum kita berdua menikah. Pertemuan kami yang sangat singkat pun mengantarkan kami duduk bersanding menjadi mempelai di pelaminan," ucap Amar.
Zico hening dengan wajah datarnya menatap jalan mengendalikan mobil yang ia kendarai.
"Kamu sendiri bagaimana dengan pernikahanmu? Sebelum kamu memberikan undangan yang terkesan mendadak, saya mendengar kamu telah memiliki kekasih yang sangat cantik dan kaya raya. Kami semua sangat terkejut, saat menghadiri pernikahanmu."
Ciiiittt
Zico menginjak pedal rem dengan sangat dalam membuat kendaraan itu berhenti dengan tiba-tiba. Nenek dan Anna pun terlontar ke depan.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Amar marah. Amar menolong Nenek Andari yang terbentur dengan bangku yang ia duduki.
"Nenek tidak apa-apa?" tanya Amar.
"Nenek baik-baik saja." Nenek menoleh pada Anna yang juga terbentur ke bangku di belakang Zico.
"Aaaghh ...." Anna meringis dan meringkuk.
...****************...
__ADS_1