Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
50. Orang tua Amar


__ADS_3

"Kamu? Bukannya istri mendadak Amar?" Meskipun suasana masih gelap, Fajar masih bisa melihat orang yang membukakan pintu untuknya.


Anna segera menyambut tangan ayah mertuanya itu. "Apa yang terjadi dengan Bang Amar, Pa?"


"Kenapa kamu malah tidur di sini, tapi tidak mengetahui keadaan suamimu?" Suara mertuanya itu, cukup lantang terdengar di kesunyian malam ini.


Perasaan Anna yang tiba-tiba sedikit kacau karena mendapat berita buruk di sela mimpi, kini ia menjadi semakin kebingungan.


"Ma-maaf, Pa. Aku menginap di sini menemani Nenek sendirian."


"Hmmff ...." Ayah kandung Amar terlihat berusaha mengendalikan diri. Namun, raut wajahnya terlihat jelas memendam emosi.


"Ada apa? Kenapa malam-malam malah ribut begini?" Nenek Andari muncul dan menekan kontak lampu. Suasana seketika berubah benderang. Anna terlihat kikuk di hadapan ayah dari suaminya ini.


"Ma, Amar baru saja mengalami kecelakaan. Kondisinya kritis di rumah sakit."

__ADS_1


"A-apa?" Nenek Andari hampir ambruk, tetapi disambut oleh Anna dengan secepatnya.


"Ke-kenapa dia bisa kecelakaan?"


"Dia mabuk-mabukan, Ma. Ternyata istrinya malah tidur di sini?"


"Cukup! Kamu jangan menyalahkan Anna. Anakmu itu memang sering mabuk-mabukan! Ada atau tidak ada Anna di rumahnya." Nenek Andari menggenggam tangan Anna.


Fajar menundukan kepala, setelah mendapat murka dari wanita tua yang melahirkannya ini. "Ayo bersiap lah, Ma. Kita ke rumah sakit saat ini juga."


Beberapa waktu kemudian, Anna saling berangkulan dengan Nenek Andari menyusuri lorong rumah sakit. Fajar mengantarkan mereka pada sebuah ruangan dengan lampu yang sedang menyala. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya, yang Anna tahu adalah ibu dari suaminya, Amar.


Anna membantu Nenek Andari duduk pada bangku yang ada di sana. Setelah itu, ia buru-buru mengejar ibu dari suaminya itu menyalami sekaligus sungkem.


Ibu Amar bergaya khas wanita modern, dengan potongan rambut sebahu, menggunakan celana dasar dan blouse yang masih rapi pada tubuhnya yang masih ramping, tak dimakan usia.

__ADS_1


Namun, ia menyambut Anna dengan dingin melirik dengan sebelah mata. Ia membiarkan tangannya dicium oleh Anna, tetapi wajahnya terlihat tak rela.


"Kamu ke mana saja? Kenapa dihubungi tetapi malah tidak aktif?" tanya ibu dari suaminya itu.


"Kamu jangan membentak cucu menantuku! Malam ini dia sedang menginap di rumahku!" Nenek Andari seakan mengerti bagaimana watak dari menantunya ini, terus mengawasi gelagatnya mencoba melindungi Anna dari hal yang akan terjadi.


"Ma-maaf, Ma. Aku menemani Nenek." Jemari pada tangan Anna saling tertaut. Ia merasa takut dengan tatapan wanita yang melahirkan suaminya ini.


"Ooh, begitu?" Suara Ibu Amar, terdengar ketus dan dingin. "Jadi, kamu lebih memilih menemani Nenek itu, dibanding suamimu sendiri?"


"Regi?" Nenek menekan suara, sedikit lebih tegas.


"Ma ..." Fajar, suaminya memberi kode tangan menggantung agar istrinya ini tidak mengeluarkan semua kemurkaan kepada menantu mereka ini. Menantu yang mendadak dinikahi Amar. Ketika mereka, sudah memiliki harapan besar akan pernikahan Amar dengan Luna.


Ibu Amar langsung bersidekap dada berjalan menjauhi Anna yang tertunduk. Anna semakin tertunduk memejamkan matanya. Ini pertama kali ia berbicara langsung dengan kedua orang tua Amar. Pada waktu pernikahan, orang tua Amar buru-buru meninggalkan lokasi, karena ada bisnis yang tidak bisa ditunda.

__ADS_1


"Oh, ya ... Kamu!" Suara Regi memanggil Anna dengan ketus. "Karena kamu istrinya, ini adalah kewajibanmu menunggu putra kami!" Regi menggandeng lengan suaminya.


"Kami pulang dulu, Ma." Ia sepintas menatap sang mertua, lalu berputar menarik suaminya menjauh.


__ADS_2