
Anna menatap pantulan bayangannya di dalam cermin. Ia tidak berhenti memperhatikan bagian perutnya yang masih belum tampak seperti orang yang sedang hamil.
"Lalu, aku harus mengatakan apa saat kamu lahir nanti? Ayahmu sudah meninggalkan kita berdua. Setelah kamu lahir, aku akan bercerai dengan Bang Amar. Aku tak tega melihatnya terus tersiksa karena rasa bersalah."
Anna berjalan menuju ke arah jendela. Duduk pada bangku yang menjadi posisi kegemarannya setelah tinggal di sana. Ia menatap lurus ke arah langit biru. "Seandainya aku tidak buta pada cintanya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan menyakiti siapa pun, aku juga tidak akan mengandungmu di dalam rahimku."
Beberapa saat Anna terdiam, dia menghela napas panjang. "Namun, kenyataan yang ada sungguh sangat berbeda. Maafkan aku, aku sudah terlalu jujur memperlihatkan bahwa aku memang tidak menyukaimu."
"Apa kamu akan melakukan hal yang bod*h seperti sebelumnya? Atau memang b*doh, merencanakan keb*dohan lainnya?"
Sebuah suara mengejutkan Anna dan refleks membuatnya bangun dari renungan panjang. "Jika kamu tidak mengerti apa yang aku rasa, setidaknya kamu diam saja."
Amar menatap Anna dari kejauhan. Wajahnya Anna sama sekali tidak terlihat karena ia duduk membelakangi Amar.
"Mekipun kamu tidak menginginkannya, setidaknya kamu jangan menyakiti bayi yang ada di dalam rahimmu lagi." Amar pulang lebih cepat dibanding biasa seperti yang dijanjikannya.
Namun, sesampai rumah itu ... Amar memilih mengurung diri di dalam kamar dan tidak keluar sama sekali setelahnya.
__ADS_1
Anna mulai memikirkan apa yang harus dilakukan jika suaminya ini pulang lebih cepat. "Ah, ya ... Masak? Aku harus memasak menu makan malam untuknya."
Ini kali pertama bagi Anna memasak makan malam untuk Amar. Ini juga kali pertama bagi Amar pulang ke rumah saat matahari masih bertahta di singgasananya.
"Aaa, Bang Amar menyukai apa ya?" Ia baru menyadari, setelah tinggal bersama selama beberapa minggu, ia sama sekali tidak mengetahui makanan yang disukai oleh Amar.
Anna yang gemar memasak, kali ini memilih menu seafood. Dia sangat menyukai menu seafood dan entah kenapa dia begitu bersemangat membuatnya, melupakan rasa sakit yang kemarin masih menyiksa.
Saat malam datang, semua makanan yang dimasak Anna telah terhidang. Amar berencana memesan makanan lewat online, mencium wanginya aroma masakan yang memenuhi ruangan tersebut.
"Kalau aku sakit pun, aku tidak akan mengganggumu. Kamu jangan mengkhawatirkan itu. Aku bukan lah orang yang suka menyusahkan orang lain." jawab Anna menyendokkan nasi ke dalam piring Amar.
"Aku tidak tahu porsi makananmu. Segini cukup?"
Amar melihat takaran nasi pada piring yang ada di tangan Anna. Amar mengangguk dan mengambil piring tersebut. Akan tetapi, Amar merebut centong nasi yang masih ketinggalan di tangan Anna.
"Loh? Kok?" tanya Anna heran.
__ADS_1
Tanpa berkata, dua sendok nasi masuk kembali ke dalam piring Amar. Tanpa dia sadari, Anna menganggukkan kepala.
"Jadi, porsi makan Bang Amar sebanyak itu? Berarti lima kali lipat dari takaran makan ku."
Amar masih tidak memedulikan celotehan Anna. Ia memindahkan segala jenis lauk yang telah tersedia di atas meja. Anna pun tanpa bicara mengambil makanan untuknya sendiri. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang aneh dengan suasana ini. Anna menggeleng cepat.
'Ini hanya fatamorgana Anna. Seumur hidupmu tak akan ada yang namanya bahagia. Kamu dilahirkan ke dunia ini hanya untuk menjadi orang terbuang Anna ... Terbuang ...
Beberapa saat kemudian, Amar telah mengusap mulutnya karena menyelesaikan makan malam tanpa suara. Ia menikmati menu makan malam yang dibuatkan oleh Anna.
Perlahan, Amar merasa gatal bagian telapak tangan. Dia sedang duduk santai menonton televisi. Rasa gatal pun meningkat ke arah tangan, leher, dan seluruh tubuh. Amar tak berhenti menggaruk tetapi ia tidak mau mengatakan apa yang saat ini kepada Anna.
Anna masih asik menyusun masakan bersisa untuk dimasukan ke dalam box yang akan disimpan ke dalam kulkas.
Setelah usai, Anna pun beranjak akan kembali ke kamarnya. Namun, tanpa sengaja, ia memperhatikan Amar yang terus menggaruk tubuh dan wajahnya.
"Kamu kenapa, Bang?"
__ADS_1