
Perang antara Zico dan Amar, akhirnya membawa kekalahan pada Zico yang terpaksa membayar uang denda saat itu juga.
Pengacara pihak Zico menghubungi Wage, mertuanya yang kaya raya, hingga terpaksa harus mengganti semua denda menantunya itu.
Saat ini, Amar telah berada di beranda apartemennya, ingin memberitahukan istri berdasarkan perjanjian itu bahwa satu rencana dalam kontrak sudah dipenuhi, yakni poin keempat pada surat kontrak tersebut adalah, melancarkan aksi balas dendam kepada Zico.
Merasa bahagia, Amar membelikah buah untuk dibawanya pulang. "Dia kan lagi hamil, dia pasti sangat membutuhkan ini."
Ketika berjalan hendak memasuki lift, ponsel Amar kembali menandakan panggilan masuk. Amar melihat nama yang terterak langsung memasang raut khawatir dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Apa? Baik lah, saya akan ke sana." Amar memandang lift itu lalu memilih mundur dan akhirnya berlari kembali menuju mobilnya.
Di dalam apartemen, Anna merasa lelah dan terus terbaring di atas ranjang. Ia membelai perutnya itu sembari menangis entah kenapa.
"Maafkan aku yang selalu mengharapkan kematianmu. Aku tahu, ini bukan lah salahmu, hanya saja aku yang terlalu bodoh. Bodoh dalam melakukan itu semua atas nama cinta. Dan saat kau hadir di dalam diriku, malah selalu inginku buang." Air mata Anna terus mengalir dengan rasa sesal mendalam.
"Apakah kamu menderita saat ini karena perlakuanku?"
__ADS_1
Anna mencoba bangkit dari posisinya. "Maafkan aku ... Aku hanya wanita buruk. Aku tidak pantas menjadi ibu."
Drrrttt
Drrrttt
Ponsel Anna bergetar, ada panggilan video masuk ke dalam ponselnya. Konta yang memanggilnya itu belum tersimpan, tetapi pada foto profilnya memperlihatkan sebuah foto gelap, beraksen mirip rol film pada kamera masa lampau.
"Siapa ini?"
Anna terpaksa menjawab panggilan itu. Alangkah terkejutnya, di dalam layar ponselnya tampak wajah pria yang tadi pagi menggunakan jas putih sedang menatap dirinya.
Pria itu saat ini terlihat santai duduk di dalam kendaraan. Ia tampak salah tingkah mendapat tatapan Anna yang tajam. "Hmm, aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Terus kenapa kamu menangis?"
Anna terlupa bahwa air mata saat ini masih membanjiri pipinya. "Oh, aku hanya kelilipan saja." Air mata itu diusap kasar dengan jemarinya.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Dokter itu kembali.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja. Dokter jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan aku. Aku tidak pantas—"
"Sstt! Kamu ngomong apa sih? Kamu itu kan pasien VIP aku. Makanya aku kasih pelayanan lebih."
"Pasien VIP? Tadi saya belum sempat mendaftar jelas malah, Dok?"
Terdengar letusan tawa dari seseorang yang ada di dalam layar datar pipih tersebut. "Aku bercanda, tapi kamu itu VIP buatku. Soalnya, baru kamu yang hamil berkonsultasi si Klinik kami tanpa didampingi siapa pun. Ini sungguh sangat menarik bagiku."
"Terima kasih atas perhatian Anda, Dok. Tapi, saya harap jangan terlalu sering menghubungi saya seperti ini. Selain itu tidak pantas, aku rasa ini terlalu berlebihan.
"Kan aku sudah mengatakan bahwa kamu itu pasien VIP aku. Aku akan menawarkan diri sebagai helper yang siap untuk membantumu."
Anna akhirnya terkekeh dengan ucapan Dokter Yoga barusan. "Dokter bisa aja bercandanya."
Melihat tawa Anna di balik panggilan tersebut, membuat Dokter Yoga sumringah. "Ah, aku berasa mendapat hadiah saat melihat tawamu. Kamu terlihat cantik bila tersenyum."
"Jangan bercanda lagi, aku mau beres-beres dulu." ucanya.
__ADS_1
"Sudah aku peringatkan jangan banyak gerak! Kamu itu mesti istirahat total. Kamu udah makan belum?"
"Ini aku mau menyiapkan makan malam."