Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
81. Maaf, Dok ....


__ADS_3

Amar mengerutkan wajahnya. Ia melirik Anna dan ia menggelengkan kepala. "Apa masih perlu, kau tanya?" tanya Amar dengan suara datar.


"Apa tujuanmu ke sini? Tadi malam istrimu berulah, sekarang kau mau cari ulah juga?" ucap Amar lagi.


Anna memandang Amar dengan wajah tanya. Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Amar.


"Aah, dia ... Itu—"


"Tinggalkan tempat ini sebelum kamu saya tuntut juga!" ucap Amar tegas.


Dokter Yoga memandang Anna dan Amar bergantian dengan wajah herannya. 'Kenapa mereka terlihat berbeda? Apa yang baru saja terjadi di antara mereka?'


"Tapi saya mau bicara dengan Anna, mengenai—"


Meskipun sebelah tangan Amar masih menggendong Anan, satu tangannya lagi mengeluarkan ponsel. Ia menekan-nekan layar ponsel dan menempelkan pada telinga.


"Selamat malam ... saya ingin mela—"


"Tunggu! Baik lah! Saya akan pergi, dan berjanji akan menyelidiki ini semua!" Zico berjalan cepat menuju pintu keluar. Sejenak ia melirik ke arah Anna dan membuka pintu kaca itu lalu keluar.


Anna menundukan wajahnya. Kekhawatiran mulai muncul dalam benaknya. Dokter Yoga berjalan mendekati Anna teringin menyentuh pundaknya.

__ADS_1


"Ekhem ..." Amar berdehem membuat Dokter Yoga tersentak menghentikan tindakannya.


"Aku menaruh Anan dulu di atas. Kalian boleh berbicara dengan tenang." Amar berjalan mendekati Anna dan mengecup pipinya.


Dokter Yoga melirik Amar mengerutkan kening. "Apa yang kau lakukan padanya?"


Amar hanya tersenyum penuh kemenangan. Tanpa berkata apa-apa, dia beranjak menuju tangga dan menaiki anak tangga itu satu per satu.


"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Yoga, datar.


"Aah, ya ... Mmm ... oh, Dok, dia ... Kami ...."


Dokter Yoga menatap dalam langsung merasuki netra Anna. Anna dengan segera memutar bola matanya. "Aku, rujuk lagi dengannya."


"Jadi, kamu memang lebih memilih dia dibanding aku?"


"Maafkan aku, Dok ..." Anna menunduk dengan rasa bersalah yang hebat.


"Bahkan, kamu tak lagi memanggilku seperti kemarin."


Anna tak bergeming, masih belum bisa mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan? Apakah Anan? Apa kamu takut memilihku membuat Anan tidak mendapat kasih sayang tulus dari seorang ayah? Apakah kamu takut jika Anan tidak bahagia bila hanya memiliki seorang ayah sambung?"


"Bukan begitu, Dok. Hanya saja, aku—"


"Kamu masih mencintainya?" tebak Dokter Yoga membuat Anna kembali membisu.


Suasana kembali berubah hening. Setelah dirasa tak ada lagi yang bisa dibicarakan, Dokter Yoga menghela napas. "Baik lah, sepertinya memang tak ada kesempatan untukku."


"Maaf ...."


Dokter Yoga menatap Anna kembali. "Kamu tidak perlu meminta maaf. Di sini memang aku lah yang mencoba untuk menyelip pada celah yang sempit di antara kalian berdua. Jika memang tak ada kesempatan lagi, baik lah ... Aku tidak akan mengharap lagi."


Beberapa waktu hening kembali.


"Bahkan, kamu tak sedikit pun terlihat kasihan padaku. Ya, karena kamu terlalu cinta kepadanya." Dokter Yoga menatap Anna yang masih belum kuasa mengangkat wajah untuk membalas tatapannya.


"Maafkan aku, Dok. Hanya itu yang bisa aku katakan."


Dokter Yoga terdengar menghembuskan nafas beratnya. "Baik lah ... Aku pergi."


Anna belum berani mengangkat wajahnya. Ia menatap sepatu Dokter Yoga yang lurus bergerak menuju pintu keluar. Lalu, langkah kaki itu terhenti membuat Anna menunduk lebih rendah kembali.

__ADS_1


"Apa kamu tak berniat mencegat kepergianku?"


...****************...


__ADS_2