
Keesokan hari, Amar mendatangi rumah keluarga Candradinata, orang tua Anna. Ia ingin mencari Anna ke sana. Namun, ternyata Anna tidak ada di rumah itu.
Amar disidang oleh kedua orang tuanya di rumah itu.
"Kenapa kamu mencarinya ke sini? Apakah dia tidak mengabarimu, ke mana ia akan pergi?" Suara bariton Sugiono, membuat suasana rumah yang sepi itu menjadi mencekam.
Amar tidak berani mengangkat wajahnya. Kedua tangannya tertaut mulai menyadari mendatangi tempat yang salah.
"Apakah kalian berdua memiliki masalah?"
Amar malah sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Jadi, selama ini kamu pergi ke mana?'
"AMAR?"
Pria yang menjadi menantu di rumah ini pun terkesiap karena terbangun dari lamunannya itu.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Sugiono lagi.
"Ah, ya ... ada masalah kecil di antara kami," ucap Amar masih belum berani mengangkat wajahnya.
Sugiono menatap Amar dengan tegas. "Katakan kepada saya, sebenarnya apa alasanmu mau menjadi suami pengganti bagi Anna?"
Amar sudah tahu jawabannya, tetapi ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. "Aku menyukainya."
"Memangnya sejak kapan kalian bisa saling mengenal seperti itu?"
__ADS_1
Kepala Amar, mulai berkutat dengan jawaban yang harus diberikan. "Sejak ..."
"Pih, jangan mojokin Amar terus. Mami jadi kasihan melihatnya dicecar pertanyaan yang tak habis-habis seperti itu." Renata datang membawa minuman dan hidangan kecil.
Sugiono terdiam sejenak, melirik kesal kepada istrinya yang terlihat selalu membela Amar. "Nah, sejak kapan dia pergi dan tidak memberikan kabar kepadamu?"
"Piii?" Renata membelalakan matanya kepada sang suami.
Sugiono mengerutkan kening membalas tatapan tak suka dari istrinya itu.
"Setiap pernikahan memang selalu mengalami pasang surut. Namun, kalian ini baru menikah. Ini adalah masa di mana semua masih terasa indahnya cinta, kala mengawali biduk rumah tangga yang masih damai dan tentram." Sugiono memulai wejangannya terhadap sang menantu.
"Apa kamu mengenal semua orang yang dekat dengannya?" tanya Sugiono lagi.
Amar masih tertunduk pasrah. Ia kembali menyadari bahwa dirinya benar-benar belum mengenal Anna sama sekali. Karena, ia hanya sibuk memikirkan Luna dari hari ke hari.
Amar memberanikan diri untuk menegakan wajahnya. "Maaf ... memang banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Anna. Hanya saja, aku sudah berjanji, akan menjadi suami yang baik untuknya."
Renata tersenyum refleks menyandarkan pipi kepada punggung tangan yang sudah saling tertangkup. Mata Renata berbinar memandang suami anaknya itu. Hal ini membuat Sugiono mendelit saat melihat tingkah sang istri.
"Ekhem ..." Ia kembali menatap Amar dengan serius.
"Papi tidak akan ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian. Kalian berdua sama-sama dewasa, sama-sama bisa memutuskan, sama-sama bisa menemukan solusi. Setidaknya, kalian harus bisa berbicara satu sama lain supaya masalah yang kalian hadapi ini, benar-benar diselesaikan dengan baik."
"Nanti Papi akan menghubungi Anna. Papi akan menyuruhnya datang ke sini."
__ADS_1
*
*
*
Di rumah sakit, Dokter Yoga mencoba menghubungi Anna. Namun, panggilan terhadap kontak Anna tidak nyambung sama sekali.
"Apa yang terjadi dengannya?" gumamnya menatap layar ponsel tersebut.
"Dokter, kenapa gelisah gitu? Seperti orang yang merindu tak bisa bertemu?" tanya perawat yang menjadi partnernya dalam bekerja.
"Ah, kamu bisa aja, Cha?" Dokter Yoga gelagapan karena ada yang menyadari tingkah anehnya.
'Oh ya, ke rumah yang waktu itu ya? Aku akan menghampirinya ke sana.'
*
*
*
Pada sore hari, Nenek Andari bersidekap dada menatap Anna sedang berbicara dengan pria muda yang cukup tampan.
'Lebih tampan cucuku, Amar,' batinnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Anna meminta izin kepada Nenek Andari untuk keluar sejenak dengan pria yang dipanggil Dokter Yoga oleh Anna.
"Ah, apa kamu yakin pergi dengannya tanpa izin suamimu?"