Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
11. Luna sakit


__ADS_3

Nenek Andari menangkap sesuatu yang aneh dari ekspresi Amar. Nenek tersenyum penuh arti dan mengangguk angguk beberapa kali.


Amar memberi kode supaya perawat pria itu menjauhi Anna. Amar segera memapah Anna dan membantunya pindah ke atas kursi roda.


"Ekheeem ...." Nenek sengaja berdehem dan terkekeh melihat tingkah Amar.


Setelah itu Amar memilih untuk mendorongnya sendiri menuju ruang pemeriksaan. Ia segera menuju sebuah ruangan di mana orang yang dikenalnya bertugas di rumah sakit itu.


"Maaf, Pak? Apakah sudah membuat janji dengan Dokter Liani?"


Amar tidak mengubris pertanyaan perawat yang mengurus pelayanan pasien di depan ruangan dokter kandungan bernama Liani itu. Ia membuka pintu ruangan itu dengan cepat.


Seseorang yang ia kenal itu terlihat sedang asik berbicara dengan seseorang dalam panggilan telepon. Kaki jenjangnya terpapah di atas meja. Tidak hanya itu, ia terlihat asik menikmati permen karet ditiup hingga membentuk balon putih yang lumayan besar dan meletus lalu masuk kembali ke dalam mulutnya.


"Amar?" Dokter Liani menyadari kehadira Amar memperbaiki posisinya dengan segera. "Kenapa tiba-tiba masuk tanpa membuat janji terlebih dahu?" Liani mengambil posisi dengan sebaik mungkin.


"Aku buru-buru. Tidak sempat membuat janji dan jadwal segala. Ini sangat urgent!"

__ADS_1


Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu terlihat meringis tersenyum heran. "Kamu udah kayak kesambet s*tan aja? Apa kamu mau mengantar istrimu melahirkan?" Liani memandang ke langit-langit ruang kerjanya.


"Aku mendengar kabarmu menikah tanpa mengundang kami beberpa waktu lalu. Lah? Sekarang udah isi aja?" tanya Liani sembari mempersilakan Amar masuk mendorong wanita yang terlihat meringis kesakitan itu.


"Dok, gimana caranya agar bayi ini tidak jadi tumbuh di dalam rahim—"


Amar membekap mulut Anna yang terus berkoar dengan ketidak inginannya kepada jabang bayi di dalam rahimnya.


"Maaf, apa maksudmu?" Liani menelengkan kepalanya, karena ucapan Anna barusan tidak terlalu jelas ia cerna dalam pikirannya.


"Bisa tolong periksa keadaannya?" tanya Amar memilih langkah cepat untuk memutuskan keinginan Anna.


"Jadi karena itu kamu buru-buru menikah tanpa mengundang kami teman-teman SMA-mu?" Liani masih mencecar Amar dengan beragam pertanyaan.


"Aku tidak bisa menjelaskannya. Cepat periksa!" bentak Amar yang sudah mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Liani ini.


Liani meminta perawat yang biasa menjadi asistennya untuk menemani dirinya dalam memeriksa Anna. Setelah bermacam pemeriksaan dilakukan, tiba lah saatnya perut Anna diperiksa menggunakan USG.

__ADS_1


Liani membisu, satu alisnya naik. "Kehamilanmu sudah memasuki angka sepuluh minggu," ucap Liani membaca hasil USG dari rahim Anna.


Liani kembali melirik Amar. "Sepertinya kita memiliki bahan untuk dibahas, tentang Luna."


Wajah Amar menegang saat mendengar sebuah nama. Nama yang tidak pernah lagi ditemuinya semenjak beberapa waktu lalu.


"Apa kamu tahu, Luna menderita sakit jantung?"


Amar membisu mendengar infomasi yang didapatkannya dari Liani barusan. Deru jantungnya terdengar hingga ke daun telinga, karena nama itu masih memenuhi setiap tetes d*rah yang ada di dalam tubuhnya. Ia merasa kesakitan sendiri, mendapatkan kabar yang keluar dari Liani, sahabat Luna, kekasihnya dulu.


"Sepertinya kamu tidak tahu, dan malah meninggalkannya di saat ia sedang berjuang dalam memperpanjang waktunya untuk hidup di dunia ini."


Liani melirik wanita dengan wajahnya telah memutih, meringis memegangi perutnya.


"Beberapa waktu lalu, Luna mengatakan akan menerimamu sebagai suaminya. Namun, nahas ... Kamu sudah menikahi dia dan lebih mengejutkan lagi ... Ternyata dia sudah hamil selama sepuluh minggu. Kamu sungguh bej*t, Amar? Kau berbuat tidak senonoh dengan wanita lain di belakangnya. Membiarkannya sendirian memperjuangkan nyawanya."


...****************...

__ADS_1




__ADS_2