Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
60. Jadi lah Papaku!


__ADS_3

Kening Amar berkerut. 'Apa maksudnya? Apakah ini hanya kebetulan?'


Amar duduk di samping bocah yang meringkuk sesegukan menyembunyikan wajahnya dalam pangkuan tangan.


"Ekhem ...."


Bocah yang tadinya sesegukan mematung sejenak. Ia memutar kepala dan melirik siapa yang kini berada di sampingnya. Saat mengetahui orang itu adalah pria tadi yang membuatnya berhenti menyeerang siswa tadi, ia kembali menyembunyikan wajah.


"Jadi, namamu Anan?"


Bocah yang masih meringkuk itu tidak bergeming. Ia membiarkan wajah basah itu, karena tubuhnya kaku untuk bergerak. Tiba-tiba ia merasa malu, ada orang asing yang memergoki dirinya menangis meski memilih berada di tempat sunyi sendirian.


"Namamu Anan, ibumu Anna ... ayahmu Amar?"


Anan masih hening tanpa sahutan. Namun, telinganya telah tegak menunggu apa yang akan diucapkan oleh pria asing ini kembali.


"Lucu sekali hidup ini. Kamu tahu, nama ayahmu itu sama dengan namaku."


Refleks kepala Anan bangkit melirik pria tadi. Wajah pria yang ada di sampingnya terlihat sendu.


"Kenapa Om sedih begitu?" Akhirnya, Anan mengeluarkan suara juga.


Amar tersenyum tipis. "Ya, nama ibumu mirip dengan nama istriku. Lucu sekali bukan?"


Wajah Anan berbinar. "Waah, hebat yaaa? Kok bisa begitu ya? Apakah semua orang bernama Anna akan menikah dengan orang bernama Amar?" pertanyaan polos itu, terlontar begitu saja dari mulut bocah tampan ini.


Amar terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Entah lah. Tapi sayang sekali ya, ayahmu telah meninggal?" Amar memperhatikan tangan bocah itu yang sedang diperban.


"Ini kenapa?"

__ADS_1


Anan kembali menundukkan kepalanya. "Kemarin ada yang jahat. Tanganku ketu5uk pisau. Kalau ada Papa, pasti tidak akan seperti ini. Aku pasti diantar dan dijemput seperti kawan-kawanku yang lain. Tapi aku tahu, itu tidak akan mungkin."


Amar mengusap pundak Anan. "Wah, gawat juga ya kalau sampai diserang sama sajam begini? Bagaimana pun juga, kamu harus hati-hati. Minta diantar jemput sama mamamu dong."


Anan melipat tangan di atas meja, lalu merebahkan kepalanya kembali. "Mama tidak pernah melakukan itu. Mama hanya sibuk mencari uang. Mama tidak sayang padaku."


"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Amar heran.


"Mama, selalu cuek padaku. Apapun yang terjadi, Mama hanya diam."


Amar memandangi semua yang dipakai oleh anak itu. Ia terlihat sangat rapi, pakaiannya bersih, sepatu yang dipakai bukan benda yang ditemukan di emperan jalan, dan bisa dikatakan bahwa Anan, layak dikatakan besar dengan kehidupan lebih dari cukup.


"Mamamu sebenarnya sayang padamu. Buktinya dia bekerja keras untuk membuatmu bahagia."


Anan menegakkan kepalanya kembali. "Kenapa Om berkata begitu? Aku gak pernah dipeluk dan disayang seperti yang lain. Aku ingin Mama mengantar, menjemput, memeluk, dan sayang padaku juga." Mata Anan kembali berkaca-kaca.


Anan dengan cepat mengusap wajah dengan lengan seragam putihnya. Namun, Amar menahan, menyerahkan sapu tangan kepada sang bocah yang memiliki wajah tampan.


Amar tersenyum kecut. "Ambil lah! Saya bukan orang jahaatt!"


Anan kembali hening. Ia masih tak mau bergerak. Karena merasa terlalu lama, Amar membuka lipatan sapu tangannya itu, lalu mengusap wajah Anan yang basah.


"Mamamu sayang kepadamu. Jika dia tidak sayang, dia tidak akan memedulikanmu. Jika dia tidak peduli, maka dia tidak akan melarangmu ini itu." Setelah itu Amar merapikan rambut pria kecil itu.


"Nah, begini kamu terlihat paling ganteng satu sekolahan." canda Amar.


"Om ... Bagaimana dengan tantenya Om? Anak Om ada berapa orang? Om pasti sayang sama mereka."


Amar tersenyum kecut. Ada asa dan sesal menyatu dalam kesedihan panjang. Pencariannya selama ini, tak membuahkan hasil. Detektif yang ia sewa, ternyata diam-diam berkhianat memberikan informasi yang salah.

__ADS_1


Ia baru mengetahui itu semua akhir-akhir ini. Orang tuanya membayar detektif yang ia sewa dengan bayaran berkali-lipat untuk memberikan informasi yang salah.


Orang tua Amar sangat murka saat mengetahui Anna pergi meninggalkan putra mereka, di saat Amar dalam keadaan tak berdaya. Tanpa mau tahu alasan yang sesungguhnya.


Berulang kali, orang tuanya mengenalkan Amar kepada wanita lain, tetapi ia bersikap dingin dan tak pernah menanggapi wanita-wanita itu.


"Om, kenapa bengong begitu?"


"Ah, tidak. Aku hanya teringat pada istriku yang telah pergi."


Anan mencerna ucapan pria yang sedikit membuatnya bingung. "Berarti istri Om sudah meninggal juga?"


Amar hanya tersenyum masam.


"Tadi nama istri Om, Anna kan? Seperti nama mamaku. Nama Om, Amar kan? Mirip nama papaku. Bagaimana kalau Om jadi papaku saja?"


...****************...


Yuhuuu, mampir yuk Kak di Karya kakakku ini.


Napen: Lady Mermad



JANGAN LUPA SUBCRIBE YA!


Siska Jesika Wiguna adalah gadis mandiri yang harus rela mengorbankan masa mudanya untuk menafkahi keluarganya pasca kebangkrutan yang dialami ayahnya. Membuat Siska harus membanting tulang membiayai kuliah dan biaya hidup mereka.


Cakra Adi Pragya, kakak kelas Siska sekaligus saudara laki-laki sahabatnya. Pria ini orang yang dicintai Siska sejak dia kelas sepuluh. Lima tahun mereka tidak bertemu, sekali bertemu saat Cakra menginap di hotel tempat Siska bekerja sebagai house keeper. Cakra yang mabuk dan kecewa setelah mengetahui Nabila akan menikahi Nathan, dengan paksa merenggut kesucian Siska.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan kisah mereka?


__ADS_2