
Anna seakan menyadari ada keganjalan dari sikap suaminya. Ia memeluk Amar dari belakang. Amar yang sedang mengaduk sesuatu yang ada di dalam wajan pun mematung sejenak. Lalu ia kembali melanjutkan aktivitasnya seakan tak terganggu sedikit pun oleh tingkah laku Anna yang masih asik memeluknya.
"Bang, kenapa diam?"
Amar melirik sejenak dan kembali bergerak seperti biasa. Namun, ia masih tak bergeming seakan tak mendengar perntanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sang istri.
"Bang, kamu ngambek ya?"
Kembali Amar melirik. "Emangnya aku anak kecil yang ngambekan?"
Anna mengangkat kepala yang tadinya tersandar pada punggung Amar. "Lalu, kenapa diam aja?"
"Hanya tidak tahu harus bicara apa." Amar kembali mengaduk-aduk makanan yang ada di wajan.
Anna mulai tertarik dengan isi wajan yang diaduk oleh Amar. Ia melihat nasi goreng yang tampak begitu merah.
__ADS_1
"Apa orang tuamu menyukai makanan pedas?"
Amar menegakan kepala. Matanya menengadah memikirkan sesuatu. Ia mencoba mengingat makanan kesukaan orang tuanya. Tak lama kemudian, terdengar helaan napas yang panjang.
Anna bergerak mengambil sebuah sendok, lalu menariknya secuil. Tanpa pikir panjang, Anna mencicip dan ... "Uhuk ...." Ia tersedak oleh rasanya.
Amar melongo, tetapi ia sedang tak ingin banyak bicara. Ia pun menyendoki sedikit nasi goreng buatannya. Amar segera menuju tempat cuci piring dan mengeluarkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Hahahaha, kocak," gumam Anna. Karena rasa masakan yang dibuat Amar sungguh tidak karuan.
"Tidak terdefinisi," jawab Amar memandangi wajan yang penuh terisi nasi goreng itu.
Anna sedikit mendorong Amar beralih posisi tepat berada di depan kompor. "Kalau kamu lagi ngambek, jangan sampai berpikir masak sendiri ya? Nanti kamu dan Anan bisa kelaparan setelah mencicip rasanya."
Anna mengecek sisa nasi yang ada di dalam penanaknya lalu memindahkan seluruh isi ke dalam wajan. Ia mencari bawang goreng yang selalu disiapkan, lalu menambah tomat dan kecap. Semua itu dikerjakan dengan gesit membuat Amar tak berkedip melihat aksi sang istri di dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Anna telah menyelesaikan memodivikasi rasa makanan yang hampir dilempar masuk ke dalam tong sampah. Setelah ia mencicip makanan itu, Anna tersenyum puas.
"Sekarang, kamu sudah bisa menyajikannya di hadapan Papa dan Mama. Tenang saja, aku akan mengatakan ini adalah masakanmu."
Amar tampak bingung menggaruk pelipis meskipun tak terasa gatal. "Kamu ... Hmmm ...."
"Kenapa? Katakan lah? Apa yang membuatmu marah? Jika kamu diam ngambekan gak jelas gini, semua akan semakin memburuk."
Amar terpana menatap bola mata Anna cukup lama. Setelah itu, sebuah senyuman terulas di bibirnya. "Ah, bagaimana pun juga, yang kodratnya ngambekan itu khusus buat perempuan." Amar memeluk Anna dan mengecup pucuk kepala istrinya itu.
"Aku, tidak suka kalau kamu mengungkit-ungkit masa lalu. Apalagi kamu selalu menyebut namanya dan membanding-bandingkan dengan keadaan kita saat ini. Biar kan dia temang di sana. Aku tak mau kamu terus mengulanginya."
Anna membalas pelukan suaminya ini. Akhirnya ia mendapatkan jawaban alasan kemarahan Amar. Ia mengangguk dan tersenyum menengadahkan wajah menatap suaminya.
"Baik lah, maafkan aku. Ini mungkin dikarenakan aku yang terlalu cemburu pada masa lalumu. Seandainya aku yang lebih dulu mengenalmu dan sebaliknya. Mungkin kita sudah bahagia semenjak lama."
__ADS_1
Amar menyugar helaian rambut yang menutup wajah Anna. Ia mengecup bibir itu. "Yang jelas, saat ini kamu yang utama bagiku."