
Anna menangkap sesuatu sepertinya yang tidak baik. Namun, Anna tidak berani berspekulasi.
Dokter Yoga terlihat panik dan mencoba kembali memeriksanya. Dokter Yoga kembali memutar transduser sekitar rahim Anna mencoba mencari posisi keberadaan janin itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara nyaring yang keluar dari speaker yang ada di monitor USG. Raut wajah Dokter Yoga terlihat sedikit lega, tetapi masih menyemburatkan rasa khawatir.
"Ini bayimu, kira-kira sudah sebesar buah strauberi. Namun, detak jantungnya cukup lemah."
Dokter Yoga menyudahi pekerjaannya dan langsung menyetel mode cetak. "Sayang sekali suamimu tidak menemani pemeriksaanmu. Padahal saya ingin memberika banyak catatan kepadanya."
Anna pun mencoba bangkit dari tidurnya. Ia turun dan duduk di bangku yang tersedia. "Dia terlalu sibuk dengan dunianya, Dok. Tolong katakan kepada saya aja."
"Ya, sepertinya kamu harus mengurangi pekerjaan yang berat, dan banyak istirahat hingga keadaan janinmu udah kembali normal. Kira-kira hingga usia kehamilan empat bulan, lebih baik kamu bedrest aja."
Dokter tersebut terlihat memikirkan sesuatu, tak lama kemudian dia mengambil ponselnya. "Kalau boleh tahu, berapa nomor kontak suamimu?"
Anna menatap Dokter tersebut dengan lurus. "Buat apa?"
"Saya akan memanggilnya untuk datang ke sini sekarang juga."
Anna memutar bola mata dan akhirnya menggeleng. "Tidak usah, saya bisa melakukan semuanya sendiri."
Dokter Yoga mulai merenung menyandarkan diri melipatkan tangan di dadanya. 'Apa mungkin ini adalah kehamilan yang tidak diinginkan dan pasangannya pun tidak mau bertanggung jawab? Makanya, dia berharap bayi di dalam kandungannya gugur. Ooh, sekarang aku mengerti alasan dia terlihat tidak bahagia semenjak kedatangannya.'
"Hmmm ... Jadi begitu? Apa kamu sanggup menjalani semuanya sendiri?"
__ADS_1
Anna menekuk wajah, tanpa reaksi apa pun. Beberapa waktu suasana kembali terasa hening. Anna melirik Dokter Yoga terus memperhatikan dirinya.
"Kenapa Dokter melihatku seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Anna, masih menundukkan wajah.
"Nanti mau pulang dengan siapa?" tanya dokter itu.
"Sendiri aja, Dok."
"Yakin sendiri saja?"
"Iya."
"Apa tidak ada yang bisa kamu hubungi untuk menjemput?"
Dokter Yoga menatap Anna dengan panjang kembali. "Baik lah. Aku akan memberikan sejumlah vitamin untuk penunjang kesehatan bayimu."
Dokter Yoga seperti terburu-buru menuliskan sesuatu dan menyerahkan kepada perawat yang menemaninya. "Apa masih ada pasien setelah ini?" Dokter Yoga menengok jam pada tangannya.
"Masih ada lima orang lagi." terang perawat melihat catatan.
"Saya akan memanggil Dokter Rita untuk menggantikan sejenak. Tolong serahkan catatan ini kepada Dokter Rita."
"Baik, Dok."
Dokter Yoga melepaskan jas putih yang melekat di tubuhnya. Ia buru-buru keluar meninggalkan Anna yang sudah memasang wajah kebingungan.
__ADS_1
"Dokternya udah mau pulang?" tanya Anna kepada perawat.
"Resep vitaminnya mana?" tanyanya lagi.
"Ah, dokter Yoga mau—"
Perhatian mereka teralih karena pintu ruangan tersebut terbuka dengan tiba-tiba. Ternyata, Dokter Yoga datang menyerahkan kantong yang berisi vitamin. "Ayo buruan ambil!"
Anna gelagapan mengangguk menerima kantong tersebut. "Dokter buru-buru ke mana?"
"Ayo, aku antar pulang!"
Anna menggelengkan kepala. "Tidak usah, Dok. Aku bisa sendiri. Lagian nanti apa kata suami jika melihat aku bersama pria lain."
Sampai kapan dia akan terus berbohong seperti ini? Oh, ya ... Dia pasti malu mengakui akan membesarkan anak ini sendirian. Setidaknya, aku harus memastikan pasienku selamat sampai tujuan.
"Ayo, ku antar. Kamu tidak perlu sungkan. Karena aku memang tidak bisa membiarkan pasien yang dalam keadaan sakit pulang sendirian."
Dokter Yoga membukakan pintu untuk Anna, membuat wanita berwajah sendu itu kebingungan. Namun, ia tidak bisa menolak terpaksa mengikuti keinginan Dokter Yoga.
"Kamu tenang saja, aku akan mengantarkanmu selamat sampai tujuan."
Anna berjalan tertunduk, diikuti oleh Dokter Yoga, dan ada sepasang mata yang menangkap kejadian itu.
"Kenapa dia berada di sini? Siapa lelaki itu?"
__ADS_1