
"Kenapa kamu seneng gitu?"
Amar tidak menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya. Yang jelas, jika saat ini Anna hamil, maka mereka tidak akan bisa bercerai.
'Aku ... Akan merobek surat kontrak itu,' batinnya.
"Kalau begitu, Nenek pulang dulu. Pikir kan lah kembali! Kamu mau bercerai atau kamu benar-benar mencari keberadaannya?" Nenek mulai berjalan meninggalkan cucunya itu.
Amar terlihat memikirkab sesuatu yang teramat panjang. Sehingga, ia tidak menyadari bahwa neneknya telah menghilang dari depan matanya.
"Nenek? Kemana Nenek? Kenapa cepat sekali hilangnya?" Amar segera menuju lantai dasar, berharap neneknya masih berada di sana. Akan tetapi, tak tampak bayang orang yang disayanginya.
*
*
*
Anna dan Dokter Yoga berjalan beriringan menyusuri taman kota. "Apakah healing ini termasuk jenis pelayanan VIP juga?"
Dokter Yoga tidak memberikan jawaban. Dia hanya tersenyum penuh makna. "Katakan kalau kamu sudah merasa lelah! Jika kamu lelah, lebih baik kita pulang saja."
Anna memandangi hamparan suasana taman yang sejuk itu. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding tadi. "Sepertinya kita kembali saja."
Mereka berputar arah dan berjalan kembali ke arah kendaraan Dokter Yoga diparkirkan.
__ADS_1
"Hmm, apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" Dokter Yoga memandang arah jalan dan Anna secara bergantian.
"Tanyakan tentang apa?"
"Tentang orang yang selalu kamu katakan sebagai suami?"
Anna memutar kepalanya kembali memasang wajah datar. "Kenapa Dokter ingin bertanya tentang dia? Bahkan aku tidak ingin membicarakan dia."
"Ow ... maaf ... Aku terlalu ingin tahu tentang dirimu."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Dokter? Apakah Dokter sudah menikah?"
Dokter Yoga kembali tersenyum tipis. "Menurutmu?"
Anna mengedikan bahunya. "Entah lah ... Aku bertanya karena aku tidak tahu kan? Siapa tahu Dokter sudah menikah? Aku tidak mau dikatakan sebagai pelakor ngajak suami orang jalan-jalan seperti ini."
"Dokter bisa aja. Tetep nggak boleh. Aku dah banyak dosa, nggak mau nambah dosa jadi pelakor."
Lagi-lagi tawa Dokter Yoga pecah membuat Anna sendiri kebingungan. "Aku tidak bercanda lho?"
"Hanya saja, apa yang aku pikir tentangmu ternyata jauh berbeda." Dokter Yoga menatap wajah Anna. Biasanya dia terlihat selalu murung. Hari ini, Anna terlihat sedikit lebih indah dipandang.
"Apa karena gaunnya yang cerah ya?" tanya Dokter Yoga.
"Hah? Apanya?"
__ADS_1
"Hari ini kamu lebih cantik dibanding hari-hari sebelumnya. Aku suka melihatnya."
Anna menahan senyumnya. "Ternyata Dokter sejenis makhluk raja gombal. Kita kenal belum terlalu aja Dokter udah kayak gini. Apalagi para perawat, dokter lain, atau mungkin para office girl juga sudah pernah mendapatkan gombalan dari dokter?"
"Enggak, ah ... Enak aja? Emangnya aku apa godain semua orang?"
*
*
*
Saat malam, Anna turun dari taksi online yang ia pesan dari ponselnya. Ia tidak ingin Dokter Yoga tahu lokasi keberadaannya hingga memilih untuk pulang sendiri meskipun Dokter Yoga sedikit keberatan.
"Anna, kamu dari mana saja? Nenek sudah menghubungimu, tetapi kamu tidak menjawab panggilan Nenek."
Anna meninggalkan ponselnya dalam mobil Dokter Yoga, hingga membuatnya tidak mengetahui ada panggilan masuk.
Sebelum Anna menjawab pertanyaan Nenek, beliau sudah memeluk Anna. "Syukur lah, cucu mantuku yang cantik ini baik-baik saja."
Anna membalas pelukan Nenek Andari. Ia merasakan kasih sayang tulus Nenek Andari kepada dirinya.
"Aku tidak tahu bagaimana dulunya jika tidak bertemu Nenek. Mungkin udah di neraka bersama para pendosa lainnya."
"Sssttt ... Jangan berkata begitu! Kita ditakdirkan bertemu karena kita jodoh. Kamu itu jodohnya Amar. Percaya lah! Kenapa semua kebetulan ini bisa mempertemukan kalian."
__ADS_1
Anna teringat perilaku Amar yang membuat hatinya terluka. "Dia tidak berpikir sama, Nek. Jangan terus memaksakan kami untuk bersama."