
"Kau yang menceraikanku bukan? Sekarang silakan angkat kaki dari rumah ini!" ucap Silvi dengan lantang.
Zico tersenyum kecut mendengar ucapan Silvi. Tanpa berkata apa-apa ia menarik koper yang berada pada pucuk lemari menurunkannya dengan kasar. Silvi menunggu Zico memindahkan benda-benda pribadinya dan beberapa dokumen penting ke dalam tas besar itu.
Silvi berjalan memunguti berkas dokumen yang dimasukan ke dalam tas tersebut. Zico melihat apa yang dilakukan oleh Silvi berusaha merebut benda penting tersebut. Raut Silvi tampak semakin merah saat membaca apa yang tertera di dalam sana.
"Jadi, diam-diam kau membeli aset tanpa sepengetahuanku?" cecar Silvi mempertahankan benda itu di dalam genggamannya.
"Cepat serahkan! Ini adalah milikku, hasil keringatku!" Zico kembali berusaha merebut berkas tersebut.
Sementara itu, setelah mendengar kabar perceraian Silvi, ketika menangis dalam jalur telepon, kedua orang tua Silvi segera menyusul menuju rumah anaknya. Setelah menikah, Silvi dan Zico memutuskan untuk membeli rumah sendiri, lepas dari kungkungan keluarga Silvi.
"Cepat serahkan!" Suara Zico menggelegar hingga keluar kamar membuat semua orang yang bekerja sebagai asistem rumah tangga, mendengar pertengkaran itu.
__ADS_1
"Kau tidak boleh membawa ini! Ini kau beli dari uang papaku!" teriak Silvi tak mengalahkan suara Zico tadi.
Kedua orang tua Silvi sudah berada di rumah itu. Mereka terheran melihat para asisten yang dipekerjakan anaknya mematung seperti itu. "Di mana mereka?"
"Mereka ada di dalam kamar, Tuan ..." ucapnya sedikit ragu.
Zico menggenggam erat pergelangan tangan Silvi. Wanita itu tampak kesakitan.
"Zico! Apa yang kau lakukan pada anak kami?" ucap Wage dengan wajah menghitam mendapati ruangan yang tidak tertutup itu mempertontonkan anaknya sedang dis4kiti oleh Zico.
Zico mempercepat proses pembongkaran lemari memasukan pakaiannya dan segera menutup koper besar itu. Zico mengangkat koper tersebut melewati Wage yang tepat berdiri di depan pintu.
"Zico, kau mau ke mana?" tanya Wage mencegah kepergian satu-satunya pria yang mau menerima anaknya.
__ADS_1
Zico menghentikan langkahnya. "Saya telah memutuskan untuk menceraikan Silvi, Pa. Sepertinya, sepuluh tahun pernikahan kami ini, sudah tidak berarti lagi."
"DIAM KAU!" teriak Silvi dengan tangisan yang menggelegar.
"DEMI DIA, KAU MENCERAIKANKU!" Silvi telah berdiri di samping ayahnya.
Zico memutar tubuhnya. Kali ini mereka saling berhadapan. "Kau lihat sendiri bukan? Apa dia tertarik padaku? Tidak! Jangan terus menyalahkannya! Dia telah bahagia dengan keluarganya itu!"
Zico menundukan kepala. Wajahnya layu teringat akan tindakannya yang dulu meninggalkan Anna begitu saja tanpa pamit. Di saat kemunculan Anan, hingga hari ini di mana telah muncul larangan untuk menemui anak itu, Zico masih berharap jika Anan memang lah d4rah dagingnya.
"Aku akan pergi. Mungkin sedari awal aku telah banyak berdosa kepada seseorang. Wanita yang tulus mencintaiku, tetapi aku meninggalkannya bgitu saja karena dia tidak sesuai ekspektasi yang aku harapkan."
"Namun, sepuluh tahun pernikahan yang aku jalani dengan Silvi, adalah hukuman panjang yang telah aku jalani sebagi lelaki bod0h, meninggalkan wanita yang ternyata sedang mengandung anakku. Pernikahan tanpa dikaruniai anak, adalah hukuman nyata bagiku."
__ADS_1
Zico menatap Silvi yang telah dibanjiri oleh air mata. "Silvi, maafkan aku ... Selama ini aku tidak jujur padamu. Aku bukan lah laki-laki baik seperti yang orang pikirkan selama ini."