
"Baik lah, kami pergi. Papa hanya ingin memberitahukan kamu bahwa kamu akan memiliki adik." Zico merangkul Silvi dan melambaikan tangannya kepada Anan.
Anan hanya membalas dengan anggukan kepala, duduk pada bangku yang telah tersedia. "Mama, akan kasih Anan adik. Papa Zico juga bilang akan kasih adik juga. Nanti bagaimana? Apakah Anan harus membagi hati Anan kepada kedua adik?"
Sebuah sentuhan pada pundaknya membuat Anan tersentak kaget. "Eh, Papa udah sampai."
"Maaf, Cah. Kamu kelamaan nunggu Papa ya? Tadi urusan pekerjaan Papa sedikit rumit, membuat Papa terlambat jemput kamu." Amar segera menggandeng tangan Anan.
"Tadi Papa dengar kamu bilang membagi hati? Membagi hati untuk siapa? Jangan bilang kamu udah punya pacar." Amar melirik menggoda Aziel yang berjalan di sisinya.
Aziel membulatkan bibir melirik mata sang ayah menatap curiga. "Pacar? Anan sudah boleh punya pacar?"
Amar terkekeh lalu menggeleng kepala. "Jangan dulu! Kamu masih terlalu kecil untuk punya pacar." Amar melepas gandengan tangannya beralih mengusap dagu. Ia menatap Anan dari kepala hingga kaki.
"Hmmm, anak Papa ganteng gini. Pasti banyak yang suka seperti Papa dulu," ucap Amar dengan percaya diri. Amar kembali menggandeng anak kelas tiga SD itu menuju kendaraannya.
"Nanti Anan bilang Mama ya?" ucap Anan tertawa.
"Jangan! Nanti mamamu bisa cemburu dan melarang Papa bekerja. Kalau Papa tidak bekerja, nanti siapa yang biayai semua?"
Perjalanan mereka diisi perbincangan ringan membuat Anan merasa nyaman dengan Amar. Sampai di mansion, mereka langsung mencari sosok yang tadinya turut mengantar Anan ke sekolah. Namun, ternyata tak ada Anna di dalam kamar.
__ADS_1
Sementara itu, Anan langsung menuju kamarnya membersihkan diri dan mengganti pakaian. Tak lama kemudian, ia bergabung dengan sang ayah yang terlihat bingung mencari seseorang.
"Papa mencari Mama?" tanya Anan.
"Iya. Mamamu ke mana ya? Kenapa tidak ada tanda-tanda kehadirannya?" Amar membuka ponselnya, dan memanggil sang istri.
Suara ring tone ponsel Anna terdengar jelas. Ternyata benda itu terletak di atas meja makan. Amar segera mendekat dan menarik benda pipih itu. Kepala Amar tampak berputar menoleh ke segala arah.
"Biii, Bibi?" Akhirnya Amar memanggil asisten rumah tangga yang ia pekerjakan.
Dari arah pintu samping, terdengar langkah seseorang yang tergopoh. "Owalah, Tuan Amar udah pulang."
"Di mana istri saya?"
"Jadi, kalian sejak pagi di taman? Istri saya sudah makan?" Amar melangkah menuju pintu samping.
"Be-belum, Tuan. Nyonya tidak mau diajak masuk. Sibu mengurus bunga. Katanya kalau bukan hari ini, takut nggak ada waktu lagi." Bibi mengikuti langkah Amar di belakangnya.
"Sekarang kami semua akan makan siang, tolong siapkan ya, Bi? Biar saya yang menengoknya di sana." Amar melangkahkan kakinya ke arah taman samping.
"Anan mau bantu Bibi masak ya?" tawar lelaki muda itu.
__ADS_1
"Jangan, Den. Den Anan ikut Papa aja ke tempat Mama," tolak sang asisten itu.
"Nggak apa, Bi. Biar kan Papa berdua aja sama Mama. Jadi, Anan bantu Bibi masak ya?" ucap Anan kembali.
"Jangan, Den. Kalau begitu Den Anan main aja ya? Biar Bibi dan Mbak Lili yang masak."
Anan mencabik karena tawarannya ditolak. "Ya udah, Anan nonton TV aja."
Lalu, dalam televisi ia menonton serial anak. Di sana ada tontonan keluarga tentang tiga bersaudara. Tiba-tiba ia teringat bahwa dia akan memiliki dua adik sekaligus.
"Waaah, Anan harus jadi kakak yang baik bagi adik-adik. Kayak Jack itu ya? Nanti adik cewek harus kayak Jill, dan yang kecil kayak John."
Amar dan Anna saling bertatapan menanggapi cuapan Anan yang asik menonton. Anna kembali bergelayut manja pada lengan Amar.
"Sepertinya, dia sudah memikirkan bagaimana menjadi seorang kakak, Sayang. Apa kamu siap, tahun depan kita tambah lagi?"
Anna tiba-tiba merasa mual. Ia menggeleng cepat. "Ini aja belum keluar, kamu udah minta satu lagi?" sungutnya menyembunyikan diri dalam rangkulan suaminya itu.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Amar yang akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa herannya.
"Aku? Emang aku kenapa?"
__ADS_1
"Kamu sadar nggak ya? Kamu udah nempel-nempel kayak kucing gini sejak pagi."
Anna seketika melepas rangkulannya dari Amar. "Oh, jadi kamu nggak suka?"