Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
52. Sekedar pengganti yang telah pergi


__ADS_3

"*Dok, tolong ... suami saya telah bangun dari tidurnya." ucap Anna kepada Dokter yang biasanya menangani kondisi suaminya.


Dokter wanita tersebut segera mengangkat stetoskop menggantungkan pada lehernya. Dokter perempuan itu terlihat bersemangat mendengar pasien yang terus dipantau, akhirnya bisa bangun juga.


"Anna?" Saat mereka menyusuri lorong menuju ruang intensif tempat Amar dirawat, terdengar panggilan dari arah belakang.


"Dokter?" sambut Anna atas kehadiran pria itu.


"Waah, kamu ini? Kenapa malah di sini?" tanya Dokter Yoga.


"Dokter sendiri ngapain di sini?" Anna balik bertanya.


"Yaah, aku ada tugas dari klinik. Kebetulan klinik kami bekerja sama dengan rumah sakit ini."


"Waah, kalian berdua saling mengenal rupanya?" ucap Dokter Sisil yang tadinya menangani Amar.


"Oh, ya ... Dia ini pasien saya," ucap Dokter Yoga dengan santai.


Dokter Sisil manggut-manggut membulatkan bibirnya. Kalau begitu saya masuk memeriksa pasien dulu. Dokter Sisil memilih berjalan terlebih dahulu masuk ruang pemeriksaan Amar.


Dokter Yoga menatap heran Anna masuk pada ruang yang sama dengan tujuan Dokter Sisil. "Apakah Dokter Sisil merawat keluargamu?"

__ADS_1


"Iya, Dok. Beliau merawat sua—"


"Anna ... Anna ... Apa yang terjadi padaku?"


Kepala Anna berputar seketika setelah mendengar suara Amar memanggilnya. Anna segera mendekati Amar, tetapi langkahnya dihalangi oleh Dokter Yoga. Dokter Yoga, menahan lengan Anna.


"Tunggu, Dok ... Suamiku membutuhkanku."


Dokter Yoga masih teringat siapa pria yang dikatakan sebagai suami oleh Anna ini. Ia adalah laki-laki yang waktu itu membuat Anna sedih saat mereka berdua melakukan panggilan dalam video*.


Jadi, dia itu ... benar-benar suami Anna? Pria yang selalu mengurusi wanita yang akhirnya menyerah mengikuti takdir? Jadi, Anna ....


Aku tahu bagaimana rasanya*.


Dokter Yoga memperhatikan Anna yang menggenggam erat tangan pria yang terus menerus memanggil nama Anna.


Berhenti lah! Jika kamu terus begitu, maka kamu akan merasakan kekecewaan yang mendalam.


Akan tetapi, Anna masih menggenggam tangan laki-laki itu. Laki-laki yang membuatnya berpikir sebagai wanita yang tidak memiliki pasangan. Lelaki yang membuat Anna melakukan pemeriksaan kehamilan tanpa suami.


Mungkin, kali ini akan kubiarkan. Jika pada hari berikutnya masih melihat Anna menangis, mungkin ... Aku akan bersiap merebut tempat itu.

__ADS_1


Dokter Yoga pun beranjak. Ia segera menuju lokasi pertemuan khusus dokter kandungan.


Masih di tempat yang sama, Amar tak berhenti menggenggam tangan Anna. "Bicara lah! Aku ingin mendengar suaramu! Ayo! Katakan sesuatu!"


"Aku sudah bicara semenjak tadi, Bang. Tenang lah! Dokter sedang berusaha untuk menyembuhkanmu."


"Anna ... Aku minta maaf. Aku mohon kamu jangan membiarkan aku sendiri lagi. Ayo kita berusaha untuk bersama. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Apalagi Luna sudah pergi. Jangan biarkan aku m*ti dalam sepi sendiri."


Anna kembali merasakan cabikan di dalam hatinya. "Oh ... Begitu ya?"


Anna terduduk lesu. Kali ini dia tak lagi berg*irah seperti tadi.


"Katakan lah, Anna. Apa kamu mau tetap bersama denganku?"


Anna diam dalam pikiran panjang. Namun, jawaban itu tidak keluar dari mulutnya. Ia tertunduk, ingin rasanya melepas genggaman tangan itu. Akan tetapi, Amar terus menangkap kembali tangan Anna.


"Anna ... kenapa semua hening begini? Kenapa suasana sepi? Aku hanya bisa mendengar suara detak jantungku. Selain itu, aku tak bisa mendengar apa-apa."


"Anna ... Apakah saat ini aku menjadi pria yang tidak bisa mendengar apa pun lagi?"


Anna tak menghiraukan apa yang baru saja diucapkan Amar. Matanya telah berkaca-kaca bersiap untuk menjebol pelupuk yang tak kuasa lagi menahan air mata.

__ADS_1


__ADS_2