
Anna tidak memikirkan jawaban untuk pertanyaan Dokter Yoga. Ia segera menuju brangkar keberadaan sang buah hati. Ia mendekap Anan dan memeluknya.
"Maafkan Mama, Nak. Semua salah Mama," tangisnya.
"Aaagghh, Mama ..." rintihan Anan terdengar di telinga Anna.
Ia segera melepaskan dekapan Anan. "Mama, Mama, Papa ...."
Anna mengusap kepala Anan dengan penuh kasih. "Ini Mama, Nak. Apa yang sakit? Siapa yang melakukan ini kepadamu? Biar Mama yang akan menghampiri dan membalasnya," ucap Anna lagi.
Sebuah sentuhan lembut, membelai pundak Anna. "Jangan bicara seperti itu. Nanti, malah giliran kamu yang seperti ini. Aku tidak mau kalau dua orang yang aku cinta sama-sama terbaring seperti itu."
"Harusnya, kamu beri semangat kepada Anan untuk segera bangkit. Aku yakin, Anan kita adalah anak yang kuat," tambah Amar lagi.
Dokter Yoga tersenyum setuju dengan peringatan yang diberikan oleh Amar barusan. Ia pun menepuk pundak Amar sejenak.
__ADS_1
"Kalian boleh menemaninya, saya ada urusan dulu sejenak," ucap Dokter Yoga.
Ketika keluar dari UGD, ia sangat terkejut mendapati dirinya sedang ditunggu oleh gadis yang sedari tadi mengomel tidak tentu. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju ruang kerja khusus miliknya.
"Anan, anak Mama, bangun sayang! Kamu mau makan apa? Mama akan segera membelikannya untukmu."
Amar menghela napas. Ia mengusap punggung istrinya ini. "Ayo, jagoan! Bangun! Nanti ajak Papa latihan juga! Setelah itu kita pergi ke taman bermain sama-sama."
Anna merasakan ada gerakan dalam genggaman tangannya. Anan memberi respon setelah mendengar suara Amar. Anna mencium tangan Anan yang berada dalam genggamannya itu. "Nak, kamu bisa mendengar kami?"
Jemari Anan kembali bergerak. Ada sesuatu yang layu terasa dalam dada Anna. Ia merasa sangat sesak, ketika memyadari Anan lebih merespon sang ayah sambung dibanding dengan dirinya yang telah mengandung dirinya.
Anna memutar kepalanya menatap pria yang ada di sampingnya ini. "Sepertinya, akan lebih baik jika kamu yang ada di sampingnya."
Anna beranjak sedikit menjauh. Amar terheran melihat kelakuan istrinya itu. "Boy, apa yang telah kamu lakukan pada Mama? Ayo bangun! Jangan bikin mamamu terus bersedih seperti ini!"
__ADS_1
Anan terlihat semakin merespon setiap ucapan Amar. Anan perlahan membuka mata dan Amar terlihat bahagia menarik Anna untuk melihatnya lebih dekat. Anna tampak tergugu dalam tangisan di dalam dada. Ia menepis tangan Amar.
"Dia lebih membutuhkanmu. Aku bukan siapa-siapa baginya," ringisnya menahan gejolak yang akan menjadi hujan sesaat lagi
"Mama ... Mama ... Papa ... Maaf Anan." Anan memutar kepalanya mencari seseorang yang hanya terdengar suaranya saja.
Tangan Anan terangkat menjangkau ke arah Anna, sang ibu. Amat mengusap rambut lurus milik putranya itu. "Nah, gitu dong."
Anna berjalan kaku bagai robot mencoba menyambut tangan Anan yang terus terjangkau ingin mengejarnya. "Nak, apa kamu marah kepada Mama?" rintih Anna mendekap tangan anaknya itu.
Anan menggelengkan kepalanya tersenyum dengan manis. "Anan sayang sama Mama. Anan juga sayang Papa. Maafkan Anan sudah jadi anak nakal."
...****************...
__ADS_1
*(Kisah Dokter Yoga akan kita buat pada buku baru. Dia akan kita sandingkan dengan Lingga, sahabat Nesya pada Ternyata Suamiku Gigolo. Judulnya: Jodohku Bujang Lapuk) Nanti Author akan kabarkan jika sudah rilis, akan dipromo dalam update cerita ini.*