Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
88. Kesabaran setipis tisu


__ADS_3

"Diam kau! Dia ini anakku dengan suamiku!" Suara Anna terdengar tak kalah keras membalas suara pria tadi.


Amar segera kembali ke ruangan tersebut, dan menemukan Anna sedang memeluk anaknya. Zico menyadari kehadirannya tersenyum sinis.


"Sekarang saya tahu hubungan kalian itu hanyalah hubungan palsu kan? Atau, kalian hanya sekedar menyembunyikan a*b yang telah tertanam di dalam rahim Anna?"


"PERGI! Kau jangan g*la! Aku tak mengerti apa yang kau katakan!" Anna menarik tangan Anan yang terus menutup telinganya.


Zico menahan Anan. "Kau tidak bisa terus menyembunyikan kenyataan bahwa kau pernah mencintaiku. Atau mungkin masih mencintaiku hingga hari ini? Buktinya, kau masih mendatangi tempat ini, meskipun kita tak lagi bersama."


Anna melirik tangan pria yang menggenggam tangan Anan. "Kau terlalu berbesar rasa, Bung! Kau pikir ini tempat milik bapakmu? Hingga kau merasa aku ke sini karena masih ada rasa? Kau salah!" Anna menghunuskan tatapannya yang tajam, mencoba melepaskan genggaman Zico yang mencekal lengan Anan.


"Terserah apa pun yang kau katakan. Aku hanya ingin membuktikan bahwa instingku ini benar-benar nyata! Anan ini adalah darah dagingku."

__ADS_1


"Tidaaak! Anan anak Papa Amar dan Mama Anna! Om siapa? Jangan dekat-dekat!" Anan masih menutupi kedua telinganya. "Lepaskan Anan! Tangan Anan sakiiit," teriaknya kembali.


Amar menarik tangan Zico. "Kau masiy mencoba untuk mengganggu keluarga kami ternyata? Pergi lah menjauh! Atau kau akan kami laporkan atas tindakan tak menyenangkan atas kelakuanmu ini terhadap keluarga kami!"


Zico menepis tangan Amar, kasar. "Diam kau! Kau hanya lah laki-laki bod*h yang mau saja dibod*hi oleh wanita itu! Dia itu mur*han! Sudah menyerahkah sega—"


bugh


"Aaagghhh!" Zico jatug tersungkur karena seseorang baru saja melayangkan kepalan kecilnya pada pria itu.


Anan melirik seseorang yang mencekal tangannya. Di belakangnya tampak wajah Amar menggelengkan kepala dan menarik Anan dengan cepat.


"Kamu jangan gitu dong jagoan! Tapi ini bener-bener menjadi bukti bahwa tingkahmu ini sangat mirip dengan mamamu, yang tingkat kesabarannya hanya setipis tisu. Tiru Papa dong?"

__ADS_1


Anna yang mendengar ucapan Amar, hanya mencabik kesal. Ditambah lagi membandingkan sikap antara ibu dan anak ini.


Zico bangkit mengusap perutnya yang masih terasa sangat kelu. "Nak, kenapa kamu melakukan ini pada papamu? Aku lah ayah kandungmu! Kamu hadir karena buah cinta mamamu dengan Papa du—"


"DIAM KAU!" ucap Anna memutus perkataan Zico.


Anna melirik kepada suaminya. Ia hanya diam dan memohon kepada Amar di dalam hati, supaya suaminya ini memberikan izin bicara empat mata dengan laki-laki pecundang ini. Amar yang seakan mendengar isi hati Anna, menganggukan kepala, mengajak Anan keluar menuju kendaraannya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Anna dingin melipat kedua tangannya di dada.


Zico tersenyum tipis. "Sepertinya dugaanku memang benar! Kau tahu, meskipun kalian bungkam sekalipun, kekentalan d*rah ayah dan anak tidak akan pernah bisa kalian tutupi. Naluriku meyakini itu semua, bahwa Anan adalah anakku, lahir karena kisah cinta kita dulu."


"Kisah cinta? Bulshiiit!" geram Anna.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2