Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
68. Hukuman untuk Papa


__ADS_3

Anan membulatkan matanya menatap sang ibu dengan heran. "Kenapa, Ma? Papa Amar itu kan udah baik sama Anan." Air muka yang tadinya terlihat bahagia, kini berubah menjadi sedih.


Amar pun menghempaskan dirinya di atas sofa. Ia sengaja duduk di sisi kosong samping Anna. Amar tak segan menatap panjang kepada Anna.


"Anan, lebih baik kamu masuk ke dalam kamar!" titah ibunya.


Anan bangkit, tetapi ia tidak menuju kamar. Tubuhnya berbelok tepat melewati Anna menuju Amar. Orang yang ia tuju segera menyambut dan memeluknya.


"Papa ... Anan senang ternyata Papa memang papa Anan." Bocah SD itu memeluk Amar, ada buncahan rindu yang sangat besar kini bisa ia lepaskan.


"Kenapa Papa tidak berkumpul bersama kami dari dulu jika Papa masih hidup? Kenapa Papa tidak mencari kami semenjak dulu. Anan senang, ternyata Papa masih hidup, tidak seperti Mama bilang."


Amar melirik Anna yang tak mau meliriknya sama sekali. "Waktu itu, Papa sedang mendapat hukuman, hingga saat ini hukuman itu masih belum juga usai."


Anna liar menatap seisi ruangan yang ia tempati ini. Tangan Amar ingin menyentuh tangan Anna dan ingin menggenggamnya. Akan tetapi, sebelum tangan itu berada di dalam genggaman, Anna bangkit dan berjalan ke arah tangga.


Dengan gusar ia melirik waktu. "Aku rasa jam istirahat siangmu telah habis. Kamu boleh pergi."


Anan seketika memasang wajah kecewa. "Yaaah, Papa harus pergi ya? Apa Papa tidak bisa tidur di sini bersama kami?"

__ADS_1


Amar mengusap kepala Anan. "Kita tidak akan tinggal di sini. Kita akan tinggal di rumah. Papa sudah lama menyiapkan rumah untuk kita bertiga tempati."


"Kamu jangan sok akrab begitu dengannya. Anan itu anakku!"


"Tapi akta kelahirannya kamu menuliskan namaku! Jadi, tentu saja dia anak kandungku," sanggah Amar.


"Anan, apa kamu mau ikut dengan Papa?" tanya Amar lagi.


Anan mengernyitkan wajah. Ia beberapa kali menelengkan wajah, bergantian menatap Amar dan Anna. "Anan mau ikut kalau Mama mau ikut."


"Sudah lah! Aku mau menyiapkan makan siang Anan. Kamu boleh pergi dengan segera." Anna membelakangi Amar masih memasang wajah gusarnya.


Amar mengangguk dan bangkit. Bibirnya terulas senyuman penuh arti mengusap kembali kepala Anan. "Papa pastikan akan sering datang ke sini."


"Asiiiiik!" sorak Anan.


Malam hari di saat perpaduan kasih Silvi dan Zico, pria terus terlihat merenung. Bayangannya jatuh pada malam-malam indah bersama Anna. Merasakan kenikmatan saat berhasil menjadikan dirinya orang pertama menjamah Anna.


Anna terlihat semakin menarik dan cantik. Berbeda sekali dengan dia.

__ADS_1


Silvi merasakan keanehan pada suaminya ini. "Kenapa diam aja? Ayo, kencengin lagi! Siapa tau malam ini berhasil jadi anak!"


Mendengar ucapan Silvi, membuat Zico semakin kehilangan selera dan menyudahi permainannya.


"Loh? Kok udah aja? Aku masih nanggung nih?" protesnya.


Namun, Zico tidak mengubris dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Wajah Silvi terlihat kesal atas kelakuan suaminya seharian ini.


Di dalam kamar mandi, Zico tak henti memikirkan bocah yang tadi menyerangnya tadi. Entah kenapa, ia ingin sekali merasa dekat dengan bocah itu.


Tok


Tok


Tok


Silvi menggedor kasar pintu yang diisi Zico dalam renungan. Ia segera memakai pakaian dan mencuci tangan, membuka pintu. Di luar kamar mandi itu, tampak Silvi yang beringas menatap dirinya.


"Ooh, kamu memikirkan mantan kekasihmu itu lagi rupanya?"

__ADS_1


...****************...



__ADS_2