
"Mas, aku sangat merindukanmu. Apalagi anakmu. Bukan kah dari dulu kamu sangat ingin memiliki keturunan. Dan, jawaban atas doa kita, baru bisa dijawab setelah masalah bertubi-tubi mendera kita berdua."
Silvi menarik Zico yang tadinya tertunduk memandangi perut yang telah berisi janin mereka berdua. Silvi memeluk Zico kembali. "Ayo, Mas, ikut pulang lagi bersamaku. Kedua orang tuaku telah berjanji tidak akan memarahimu lagi."
"Tapi Silvi, masalah di antara kita bukan itu saja! Aku memang sangat ingin memiliki anak, seperti yang kamu katakan. Hanya saja aku—"
"Kamu jangan khawatir, Mas. Semua yang telah menjadi milikmu, akan aku kembalikan," bujuk Silvi dengan wajah memohon.
Zico menghela napas panjangnya. "Kamu itu menganggap aku hanya sebagai suami tak berguna kan? Kau menganggapku hanya suami yang hanya memanfaatkan kekayaan orang tuamu kan?"
Silvi menggeleng cepat. "Kamu jangan berburuk sangka terus seperti itu. Bagaimana pun, aku sangat mencintaimu. Aku memberikan segalanya agar kamu tidak menjauh dariku. Aku takut kehilanganmu. Sekarang, aku sedang mengandung anakmu. Ayo lah, Mas, ikut aku pulang ke rumah kita," rengek Silvi manja memeluk Zico. Ia tak memedulikan semu orang lalu lalang menatap ke arah mereka. Yang penting, bagi Silvi, Zico mau kembali lagi padanya.
*
__ADS_1
*
*
Beberapa bulan kemudian, pada sebuah mansion, di pagi hari, terdengar suara seorang wanita yang mual muntah di dalam kamar mandi. Sang suami yang tadinya masih tidur, langsung melonjak bangkit mengecek keadaan istrinya.
Anna terus memuntahkan cairan ke dalam closed dalam kamar mandi itu. Amar mengusap punggung istrinya memasang wajah khawatir.
Anna masih mengeluarkan semua yang masih mengganjal di kerongkongannya. Beberapa waktu ia bergulat dengan perasaan yang tidak nyaman hingga Anna benar-benar tak lagi mengeluarkan apa pun dari mulutnya.
Anna terkulai lemas, tenaganya seakan habis tersedot seperti ikut masuk ke dalam kloset. Amar menarik tisu yang menggantung di samping cermin besar yang ada di dalam ruang itu.
Amar mengusap bekas muntahan tersebut dari bibir Anna. Setelah itu, ia mengangkat tubuh mungil istrinya keluar dari kamar mandi super mewah yang ada dalam kamar mereka.
__ADS_1
Anna dibaringkan ke atas ranjang dengan membuat istrinya senyaman mungkin. Ia menarik sebuah gelas yang berisi air putih, yang selalu tersedia di atas nakas di sisi ranjang tidur mereka.
Setelah meminum beberapa teguk, Amar mengggenggam tangan Anna dengan kedua tangannya. Ia tersenyum menatap istrinya yang masih terlihat sangat lemah.
"Sayang, terima kasih ya? Kamu mau mengandung benih milikku di dalam rahimmu. Awalnya, bagiku cukup Anan yang menjadi anak kita. Namun, ternyata kamu memberikan aku hadiah yang sungguh luar biasa." Amar mengusap pipi pucat istrinya.
Ia baru saja mendapat kabar bahwa sebentar lagi Anan akan memiliki adik. Amar langsung melonjak bahagia dan tiada henti mengecup perut Anna yang masih terlihat rata.
"Sayang, kali ini aku janji. Aku akan menjadi suami terbaik dan paling siaga untukmu." Amar mendekati wajah Anna dan kali ini mengecup kening istrinya itu.
Anna berusaha memulas senyuman di bibirnya. "Tapi, gara-gara ini semua, aku tidak bisa mengecek salon di mall sana. Aku sangat khawatir jika masalah-masalah di salon jika tidak tertangani dengan baik. Aku—"
Amar menutup mulut Anna dengan tangannya.
__ADS_1