Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
91. Kelahiran Anan


__ADS_3

Anna refleks ingin bergerak melabrak Silvi. Namun, Amar menghalanginya. "Percayakan semuanya padaku." Amar mengambil posisi di depan istrinya ini.


"Bisa diulangi? Anan? Jadi anakmu?" Amar mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang beranjak beberapa saat.


"Mudah sekali ya? Mulutmu mengatakan bahwa akan mengambil anakku? Apalagi, kalian terlua percaya diri untuk melakukannya. Anan adalah anakku dan suamiku! Kalian tidak akan bisa melakukan apa pun untuk mengambilnya dari—!"


Sebuah sentuhan membuat Anna melirik si pemilik tangan. Suaminya baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan seorang yang sangat penting.


"Kalian telah melakukan berbagai macam kesalahan! Pertama, melakukan pencemaran nama baik, hingga membuat usaha istri saya sepi."


Refleks Anna melirik pada suaminya menanyakan hal ini dalam bentuk gerakan tangan. Amar menjawabnya dengan anggukan.


"Kedua, kalian membuat keributan beberapa kali di sini! Dan, ketiga! Kalian sudah membuat saya benar-benar merasa terhin4 karena kalian mengatakan putra kandung saya adalah anak dari pria yang bukan suaminya!"

__ADS_1


Amar merangkul Anna dengan mesra. Mata Silvi cukup mengerut melihat aksi dari pria ini. Ia beralih memandangi suaminya yang baru disadari telah lama tidak memanjakan dirinya. Ya, semenjak mereka mulai menyadari ada yang salah terhadap keluarga mereka yang tak kunjung mendapatkan anak, sikap Zico pun tak lagi mesra padanya.


"Kita buktikan padanya, Sayang! Siapa yang akan menang. Toh, Anan adalah anakku dan bisa kita buktikan lewat akta kelahirannya."


Zico memberi kode pada pria yang dibawanya tadi. Lalu, pria itu mengangguk membuka tas kerja yang dijinjingnya. Dari dalam tas tersebut, ia mengeluarkan berkas dan sejenak berdehem.


"Mohon izin waktunya sebentar, bagi orang tua Ananda Fajra Kusuma alias Anan, usia sembilan tahun. Setelah menilik beberapa waktu yang lalu, kami sudah mendapatkan informasi bahwa, Anan, itu lahir lebih cepat dari waktu yang seharusnya."


"Namun, setelah kami selidiki, ternyata anak kita bernama Anan, terlahir pada akhir Februari 2014. Nah, ini bisa saja menjadi bukti bahwa sebenarnya, Anan bukan lah anak kandung dari Bapak Amar."


Silvi melirik tajam pada Anna, dengan wajah j1jik. Dia menggelengkan kepala berganti melirik suaminya, Zico.


Di sisi lain, Zico menatap Amar dengan senyuman kemenangan. Dan beralih pada Anna yang terlihat cukup gelisah dengan hasil pelacakan yang ia lakukan dengan diam-diam.

__ADS_1


"Untuk membuktikan bahwa klient kami, Bapak Zico yang merasa berhak atas anak kami yang bernama Anan, kami meminta izin kepada wali dari yang bersangkutan untuk melakukan tes DNA. Ini demi keabsahan data dan bisa kami ajukan banding pada hukum negara ini untuk meminta hak asuh pada jalur hukum."


Tubuh Anna tersentak begitu saja mendapat informasi itu. Ia menggelengkan kepala tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Namun, Amar mengeratkan rangkulannya, mengusap lengan Anna.


"Kenapa kalian begitu yakin? Bisa jadi kelahiran anak kami secara prematur, hingga menyebabkan Anan lahir lebih cepat dari hari perkiraan." Amar menatap Zico dan pengacaranya secara bergantian.


Zico tersenyum dengan wajah licik. Ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam jas kerja yang terpasang saat ini dan langsung membukanya.


"Saya sudah menyewa detektif swasta untuk menyelidi lokasi Anna tinggal di pulau seberang. Di sana, saya mendapat informasi bahwa Anna melahirkan pada usia kandungan empat puluh minggu. Tidak hanya itu, Anna sengaja menjauh ketika suaminya usai melakukan operasi besar. Ini adalah bukti bahwa pernikahan mereka bukan lah dalam kondisi yang baik-baik saja."


...****************...


__ADS_1


__ADS_2