Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
66. Pertemuan Papa dan Mama Anan


__ADS_3

Silvi merasa geram akan bocah yang dianggap tidak sopan kepadanya. Ia menarik kerah belakang seragam Anan dari belakang.


"Katakan, kamu ini sebenarnya anak siapa?!" tanya Silvi setengah geram pada Anan.


"Lepas!" Anan menarik tangan yang tadinya sedang menahan tubuhnya untuk berherak. Tangan emput dengan daging tebal itu, digigit dengan sejadinya.


"Aaaahhgt!" Silvi meronta melepaskan diri. "Kau! Anak nakal!


Anna memeluk Anan kembali. "Urusanmu denganku! Kau jangan mengikutcampurkan dia dengan masalah di antara kita!"


Silvi menarik tangan Anna kembali. Wajah Anan diperhatikannya dengan seksama. Dengan cepat ia menjemput Zico yang tadinya menjauh, dibawa mendekat pada anak itu.


"Kenapa wajah anak ini mirip denganmu, Mas?" tanya Silvi dengan nada curiga.


"Loh? Dia mirip dengan siapa pun kan tergantung yang menciptakan," kilah Zico. Akan tetapi, tatapan Anan itu, membuat hatinya berdebar.


Sejenak, ia melirik Anna yang seakan menyembunyikan sesuatu yang besar. Rasa penasaran yang tadi dikubur, kini kembali mencuat. Karena, memang dahulu sebelum mengetahui status Anna yang sekedar anak angkat. Mereka dengan rutin melewati malam panas berdua dengan penuh cinta.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Zico bertanya dengan serius kepada Silvi. "Hal apa yang membuatmu yakin dia mirip denganku?"


Tiba-tiba, pintu kaca salon itu dibuka seseorang dari arah luar. "Permisi ...."


Orang yang baru muncul tak menyadari kehadiran Anna, karena ia hanya melihat dari arah belakang.


"Papa?" sorak Anan melihat ke arah orang yang membuka pintu salon tersebut. Anan melepaskan diri dari dekapan Anna.


"Tadi, punya kamu ketinggalan!" Orang yang dipanggil Papa oleh Anan, menyerahkan buku gambar milik Anan yang tertinggal saat memamerkan hasil gambarnya kepada Amar di atas mobilnya tadi.


"Makasih Pa. Oh ya, Pa. Mama aku udah pulang, tuh orangnya." Anan menunjuk ke arah wanita yang tidak melirik ke arah pria yang ada di pintu sama sekali.


Hal ini membuat Anna refleks memutar wajah melirik seseorang yang dipanggil oleh Anan dengan sebutan Papa. Pria yang mengusap kepala Anan tak henti menatap ke arah wanita yang ditujuk bocah yang baru menjadi anaknya ini. Amar menyukainya.


Akhirnya, kedua pasang netra itu saling bertemu. "Anna?" tanya Amar tak percaya siapa yang dilihatnya. Orang yang selama ini dicarinya, kini telah tepat berada di hadapannya.


Amar melirik bocah yang sedang diusapnya ini. "Jadi, mamamu itu benar-benar Anna yang itu?"

__ADS_1


Anan mengangguk. "Papa mengenal mamaku?"


Tanpa menjawab pertanyaan Anan, Amar bergerak cepat setengah berlari menuju Anna. Amar dengan begitu saja memeluk tubuh itu, wanita yang ia rindukan. Wanita yang ia cari tetapi tak kunjung ditemukan.


"Akhirnya ... Akhirnya aku menemukanmu juga." bisik Amar mendekap tubuh Anna sepenuhnya.


Anna mematung tak bergeming. Ia tak menyangka, orang yang selalu dipanggil dengan Papa adalah Amar, pria yang setiap harinya menorehkan luka pada dirinya. Orang yang selalu dihindari hingga memilih menjauh untuk selamanya.


"Nek, akhirnya ... Aku menemukannya." Amar mendekap Anna semakin dekat. "Mulai hari ini, Nenek bisa tenang di alam sana." bisiknya lagi.


Anna mendorong tubuh kekar yang terus saja menjepit dirinya. "Lepas, Bang? Kenapa kamu seperti ini? Saat ini kita bukan lagi—"


Amar menutup mulut Anna dengan tangannya. "Hingga hari ini, kamu masih tetap istriku!"


Anna merenuh menatap Anan dengan panjang. "Tidak mungkin! Aku sudah memberikan kuasa kepasa Nenek, supaya menggantikan aku untuk perceraian kita."


Amar semakin mendekap tubuh Anna, merangkulnya dengan erat. Segala rasa kini bercampur aduk. "Anna ... Aku tak akan pernah menceraikanmu. Maaf kan aku, maafkan aku yang selama ini telah jah4t kepadamu."

__ADS_1


[ Authornya rada ngantuk nulis ini. Maaf ya, kalau rada-rada memusingkan ]


__ADS_2