Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 13—


__ADS_3

"Apa? Anan terluka dan tidak sadarkan diri?" Tubuh Anna bergetar dan layu terduduk di atas sofa di ruko yang telah kosong semenjak ia mengikuti Amar.


Bisnis salonnya telah pindah lokasi ke sebuah mall yang ada di pusat kota. Sehingga, ruko yang belum habis masa sewanya, dibiarkan kosong begitu saja.


Namun, sempat terlintas dalam


"Ke-kenapa Sayang?" Amar duduk di samping istrinya itu.


Anna mulai bergelinang air mata. "Dokter Yoga baru saja meneleponku, katanya ia menemukan Anan dalam keadaan babak belur dikeroyok oleh preman." Anna menangis dalam dekapan Amar.


"Apa ini artinya Anan bersama dia?" tanya Amar memastikan kembali.


Anna mengangguk lemah. Belulangnya seakan remuk begitu saja saat mendapatkan berita ini. Ketika Anan kalah dalam adu wushu beberapa waktu dulu, kena pukulan dari tangannya saja, Anna merasa sangat bersalah. Namun, resiko itu sudah ia pahami sedari awal, sebagai seorang atlet, yang melatih sang anak.


Amar menarik pergelangan tangan istrinya ini. "Ayo kita ke sana menjemput anak kita!"


Amar menggenggam tangan Anna yang belum sempat mengusap air matanya. Ia mengecup kedua pipi istrinya hingga air mata itu malah menempel pada bibirnya. "Kamu jangan menangis lagi. Semua orang tahu, kamu menyayanginya lebih dari siapa pun."

__ADS_1


Amar mengajaknya keluar dari bangunan kosong itu. Mereka memasuki kendaraan dan melaju menuju klinik yang dahulunya menjadi tempat Anna memeriksa kehamilannya.


Tanpa berpikir panjang, Anna dan Amar berjalan menyusuri lorong klinik yang saat semakin luas layaknya rumah sakit sesungguhnya. Anna bertanya kepada bagian informasi mengenai pasien yang dibawa oleh Dokter Yoga.


"Oh, pasien atas nama Ananda, berusia sembilan tahun, saat ini masih dalam penanganan intensif di ruang emergency. Bapak dan Ibu bisa langsung ke sana," terang pegawai bagian informasi.


"Terima kasih, Mbak."


Anna memutar tubuhnya berjalan cepat menugu ruang emergency klinik ini. Di sana, tampak beberapa perawat sedang sibuk mengurus pasien yang ada pada satu brangkar. Anna berjalan pelan, mencoba menilik siapa yang ada di balik para nakes ini.


Ketika ia melihat wajah mungil itu kini lebam dan bengkak beberapa bagian, Anna begitu saja sesegukan mendapati buah hatinya terlihat dalam keadaan sangat mengenaskan.


Perawat lain menahan Anna. "Kami mohon Ibu bersabar dulu. Kami berusaha melakukan yang terbaik, agar anak Ibu mendapat perawatan yang maksimal."


"Tapi, saya ingin bersama anak saya, Sus. Tolong izinkan, saya ini ibunya. Orang yang berjuang melahirkannya," tangisnya dalam memohon.


"Ekhem, iya saya tahu kamu lah yang berjuang selama ini sendirian demi dia. Tapi, saya harap kamu menunggu ini beberapa saat lagi. Kami akan menanganinya dengan baik, kok." ucap satu-satunya pria yang ada dalam kerumunan itu.

__ADS_1


"Do-Dokter Yoga?"


Dokter Yoga mengangguk dengan senyumam sahajanya seperti biasa. "Kamu minggir dulu yaaah!" Ia mengedipkan mata kepada Anna.


"Ekheeemmm ...." Amar melihat tingkah Dokter Yoga barusan.


Ia menarik lengan Anna dan merangkulnya dengan mesra. "Kamu denger kan? Kamu sama aku aja di sini. Kita tunggu saja!" Amar menggenggam tangan Anna.


Dokter Yoga mengernyit tipis atas kelakuan Amar di hadapannya.


Beberapa waktu kemudian, setelah menyelesaikan perawatan pada Anan, Dokter Yoga mendekati Anna dan Amar.


"Kita harap, Anan segera bangun. Kondisinya cukup kritis. Dia dehidrasi, kekurangan energi, kekurangan tenaga. Ke mana kalian membiarkan dia kelaparan hingga dipukuli preman seperti itu?"


...****************...


Mampir yuuuk, karya terbaru Author. Masih fresh banget. Mohon dukungannya. 🙏😅

__ADS_1



__ADS_2