
"Semua ucapan mereka, tidak perlu kamu masukan ke hati. Mereka hanya orang-orang sibuk yang tidak sempat bersosialisasi dengan siapa pun. Termasuk dengan anaknya sendiri."
Anna menganggukan kepala. Ia teringat kepada kedua orang tua angkatnya. Mereka berdua sangat baik dan menyayangi Anna dengan tulus. Meskipun dulu ia pernah dibentak oleh sang ayah angkat, tetapi Sugiono tak pernah membedakan kasih sayang antara Bagas dan dirinya. Begitu pula dengan Renata. Ibu angkatnya itu udah bagai sahabat baginya.
"Nek, mungkin sebaiknya Nenek pulang aja? Biar aku yang menunggu di sini."
"Apa bedanya antara Nenek dengan kamu? Saat ini, kamu sedang hamil muda. Kamu juga membutuhkan istirahat yang cukup. Jadi, di antara kita tidak ada yang lebih diprioritaskan."
Anna duduk di samping Nenek Andari, merangkul wanita dengan rambut yang telah memutih itu. "Tapi, usiaku lebih muda. Bisa melakukan semuanya dengan lebih cepat. Oleh sebab itu, Nenek istiharat aja ya?"
Nenek Andari menatap kembali ke arah kepergian kedua orang tua Amar. "Mereka hanya tidak tahu kalau kamu sedang hamil. Kalau mereka tahu—"
"Jangan, Nek. Mereka tidak boleh tahu. Jika mereka tahu, mereka pasti makin membennciku."
Akhirnya malam itu mereka berdua memutuskan untuk menunggu hingga pagi menjelang.
Anna duduk di samping brangkar menatap tubuh yang tiada memiliki daya. Wajahnya terlihat kaku tanpa ekspresi. Yang terngiang dalam ingatannya hanyalah perilaku Amar yang tak pernah menganggapnya ada.
"Bang ... Entah kamu menyadari kehadiranku atau tidak. Cepat lah bangun! Mari kita akhiri saja segala derita ini. Hubungan tak sehat ini, tak pantas untuk terus kita pertahankan
*
__ADS_1
*
*
Setelah beberapa hari, Anna menemani Amar di rumah sakit, akhirnya membuka mata dengan sangat lebar.
Anna yang sedang membersihkan nakas yang telah penuh oleh bunga dan parcel yang diberikan oleh rekan kerja sang suami, tak menyadari itu.
Amar masih menatap lurus pada langit-langit di kamar itu. Beberapa waktu kemudian, matanya mulai liar melirik ke kiri dan ke kanan.
Ngiiiiing
Anna mendengar suara dari seseorang tersebut, memutar badan melihat ke arah sumber suara. Ia melihat Amar sedang mengernyitkan wajah menekan bagian telinganya.
Anna segera berjalan mendekati Amar. "Bang ... Akhirnya kamu bangun juga." Ia berdiri tepat di sisi brangkar.
Amar melirik Anna. Tangannya bergerak ingin menggapai tangan wanita itu. Anna mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Amar.
"Kenapa, Bang? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Apa ada yang sakit?" Pertanyaan bertubi-tubi terus dilontarkan oleh Anna.
Akan tetapi, Amar hanya melihat gerakan mulut tanpa mendengar satu suara pun. Tangan Amar kembali menggapai Anna.
__ADS_1
"Kenapa, Bang? Apa kamu bisa mengenalku?" Tiba-tiba, Anna melirik ke arah pintu.
"Tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu." Anna melepas tangan Amar. Sehingga, tangan itu terus mengambang mencoba menahan langkah Anna.
Namun, Anna benar-benar telah menghilang. Amar meneteskan air mata yang jatuh begitu saja merasakan keanehan pada dirinya.
"Anna? Anna? Jangan per—" ucap Amar, terdengar jelas oleh hatinya. Ia semakin menyadari suatu hal. Ingatannya baik-baik saja. Penglihatan begitu pula.
"Aaaah!"
"Aaaah!"
"Anna! Anna!"
Ia sedang menguji dirinya sendiri pada sebuah percobaan yang belum klinis.
Mata Amar merah padam, ia memegangi daun telinga melirik liar ke kiri dan ke kanan. "Annaaaa? Apa kamu mendengarku?"
"Anna ... Ke mana lari suaraku?"
Dari arah pintu, Anna datang dengan wajah ceria menatap ke arahnya. Seorang pria yang pernah ia lihat bersama sang istri, kini berjalan berdampingan bersama Anna. Ditambah satu lagi ia melihat wanita yang menggunakan jas putih, stetoskop bergantung di leher.
__ADS_1