Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
77. Penolakan Papi


__ADS_3

"Aku hanya bisa mengatakan, akan berusaha membuat kakakmu bahagia, mulai hari ini dan seterusnya."


Bagas menyelami sorot mata Amar. Di dalamnya ia membaca sebuah ketulusan yang berbeda dengan dulu. Akhirnya, Bagas membuang muka dan beranjak melepaskan diri dari dekapan Amar.


"Baik lah! Kita lihat bagaimana nantinya. Jika kau masih membuat kakakku menangis, aku tak akan segan merebut Kak Anna untuk menjauh darimu."


Bagas mencoba mengajak Anan, tetapi bocah itu menolak dan memilih berpegangan pada Amar. Karena merasa tertolak, Bagas segera menuju masuk ke dalam rumah. Di dalam sana, Anna tengah menangis dalam pelukan sang ibu.


"Yang penting, kamu sudah berada di sini m, Anna. Akhirnya, kami bertemu kembali denganmu."


Lalu, perhatian mereka teralih pada dua sosok yang saat ini berdiri di pintu masuk. Anna bangkit melepaskan rangkulannya pada tubuh Renata yang telah menua. "Mami, Papi ... Suami dan anakku juga berada di sini."


"SUAMI?" Suara bariton Sugiono memecahkan suasana yang tadinya mengharu biru karena kehadiran Anna, yang telah menghilang tanpa kabar sejak sepuluh tahun lalu.


"Iya, Pi. Kami masih suami istri yang sah."


Sugiono memasang wajah beringasnya. Dia berjalan ke arah Amar dan menatap bocah yang bersamanya. Anan tergidik melihat tatapan pria yang telah berubah ini, tetapi rautnya masih tajam mengerikan. Tatapan itu membuat Anan bersembunyi di balik Amar.


"Jadi, kalian masih dalam ikatan pernikahan?"


Amar menelan saliva, karena ia merasa takut dengan raut milik ayah istrinya ini. Ia mulai menebak cecaran seperti apa yang akan dilayangkan kepadanya. Karena, mereka tahu Amar masih di kota ini dan terlihat duduk tenang tanpa memikirkan bagaimana nasib anak mereka yang entah hilang ke mana.


"I-iya, Pi."

__ADS_1


"Siapa itu, Pa?" bisik Anan yang sembunyi di belakang Amar.


"Ayo!" Anna mengulurkan tangannya kepada Anan, berharap Anan melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti.


Anan melirik ke arah Sugiono. Baginya, pria beruban itu terlihat sangat menakutkan. Dengan takut-takut, Anan beringsut pindah menggenggam tangan sang ibu.


"Kenalan dulu dong, sama Opa?" titah Anna.


Anan yang sudah terlanjut takut, lebih memilih sembunyi, kali ini di belakang tubuh ibunya.


"Kenapa sembunyi?" Anna menjadi geram karena tingkah anaknya ini.


"Kakek itu menakutkan, Ma. Kakek itu pemarah. Anan takut."


"Tapi Anan takut, Ma."


Sugiono menyadari adanya kesalahan pada sikapnya tadi. "Ehem ..." Ia sedikit merasa bersalah karena telah membuat cucu tampannya menjadi takut.


"Papi mau bicara empat mata dengan Amar di ruang kerja. Pastikan anakmu tidak menguping pembicaraan kami."


Sugiono melirik Amar memberi tanda kontak mata supaya Amar mengikuti langkahnya. Amar mengangguk dan mereka beralih ke lokasi ruang kerja Sugiono, di rumah ini.


Sampai di dalam ruangan itu, suasana terasa semakin mencekam. Di sana, hanya ada dua orang.

__ADS_1


"Jadi, kenapa kau biarkan anakku pergi begitu saja? Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan sepuluh tahun yang lalu?"


Amar menundukan kepala. Dia masih teringat semua petuah mertuanya ini mengenai cara bersikap dalam rumah tangga dan sebagai kepala keluarga. Namun, kenyataannya berbeda. Amar telah lebih dahulu kehilangan Anna sebelum ia melakasanakan perintah dari ayah istrinya ini.


Dia merasa teramat malu, ditambah lagi ia sadar diri, karena ia tak bisa menepati janjinya sebagai pria sejati.


"Maaf, Pi." Amar menundukan kepala.


"Kau seharusnya minta maaf kepada Anna. Bukan kepada kami!"


"Kalau yang itu, tanpa Papi katakan pun sudan aku lakukan." ucap Amar.


"Lalu, kau mau apa ke rumah ini?"


Amar menyatuan kedua telapak tangannya. "Izinkan kami menikah lagi, Pi."


Kening Sugiono mengerut. "Apa maksudmu? Bukan kah kalian sendiri yang mengatakan bahwa kalian ini suami istri sah? Kenapa kalian harus menikah lagi?"


Amar tidak tega mengatakan bahwa sebenarnya dulu Anna telah hamil sebelum mereka menikah.


"Dulu pernikahan yang kami jalani tidak serius, Pi. Jadi, kami minta izin untuk menikah kembali dan kali ini kami berkomitmen untuk lebih serius." Amar berusaha menjelaskannya, tetapi rasa canggung membuat lidahnya kelu untuk menyampaikan dengan cara yang baik.


"Oh, pantas anak saya tak bahagia? Kau menganggap pernikahan antara kalian hanya lah sebuah permainan. Mentang-mentang kau menjadi suami pengganti bagi anak kami, kau boleh berbuat sesuka hati? Lalu, buat apa diulang lagi? Tidak usah!"

__ADS_1


__ADS_2