Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
80. Dokter Yoga dan Zico


__ADS_3

Amar menggenggam tangan Anna. "Akhirnya, aku bisa memilikimu dengan utuh. Harapanku semenjak sepuluh tahun yang lalu, baru terjadi hari ini."


cup


Amar mengecup pipi Anna. Menyisakan rona merah padam pada wajahnya yang putih mulus.


"Pa, Anan juga mau!"


Amar mengangkat Anan dan mereka mencium pipi bocah itu. Amar melihat kejanggalan pada hubungan ibu dan anak ini. Anan sama sekali tidak mengemis c*uman kepada sang ibu, bertolak belakang dengan sikap kepadanya.


"Sayang, ayo sini!" Amar menarik sang istri masuk ke dalam rangkulannya. "Dia menginginkan c*uman penuh kasih darimu juga!"


Anna membeku. Ia baru sadar, semenjak kelahirannya, tak pernah sedikit pun memberikan kecupan hangat pada Anan yang telah dia kandung selama sembilan bulan. Bahkan, saking terbiasanya Anan, anak laki-lakinya itu tak pernah meminta untuk dic*um olehnya.


Anna memeluk Anan. Akhir-akhir ini memang sering memeluknya, dan itu saja sudah membuat anaknya bahagia. Sedikit kaku, Anna menarik tubuh anak itu dan mendekatkan wajahnya pada pipi Anan. Perlahan, Anan menjauhkan wajahnya. Dia menatap canggung kepada Amar. Amar memberikan anggukan petanda boleh dilanjutkan.


Anan mematung memejamkan mata saat bibir ibunya mendarat di pipi. Setelah itu, Anan dipeluk dan pecahlah tangisan Anna.

__ADS_1


"Sayang, maafkan Mama. Selama ini Mama tidak memberikan kasih yang hangat kepadamu. Maafkan Mama." Anna memeluk Anan, kali ini benar-benar dari dalam hatinya.


Anan menatap Amar dan senyumannya merekah dengan sangat lebar. Ia membalas pelakan sang ibu dan menc*um ibunya bertubi-tubi.


"Anan sayang sama Mama." Memeluk Anna dengan wajah bahagianya.


"Mama juga sangat menyayangimu. Maafkan atas sikap Mama selama ini kepadamu." Anna menguraikan air matanya. Hatinya yang telah membeku semenjak sepuluh tahun yang lalu, perlahan mulai mencair.


Amar turut memeluk mereka berdua, dan mendapat sambutan hangat dari Anan.


"Terima kasih Papa. Semenjak Papa datang, Mama menjadi sayang sama Anan." Anan memeluk leher Amar.


*


*


*

__ADS_1


Usai acara kecil syukuran di rumah orang tua Anna, mereka melaju pulang. Rencananya mereka singgah ke ruko tempat Anna membangun usaha. Anna baru sempat membuka ponselnya dan dia merenung usai membaca pesan-pesan yang masuk.


"Sayang, apa kamu mau kita honey moon keluar negeri?" Amar menyadari ada perubahan raut istrinya ini.


"Kamu kenapa?" Amar membelai pipi istrinya sejenak dan kembali berkonsentrasi mengendalikan mobil ini.


"Mas Yoga menungguku, Bang."


Ekspresi wajah Amar yang semenjak tadi sumringah, kini berubah menjadi datar. Sementara itu, Anan tengah tertidur karena terlalu lelah menghadapi hari yang panjang ini.


Sampai di ruko, salon memang sudah ditutup oleh Lasmi. Namun, Lasmi masih setia menunggunya, terlebih lagi di sana ada dua orang tak terduga tengah sabar menunggunya yang tak kunjung pulang.


Saat mendapati dua orang itu datang, Anna tak terlalu kaget. Karena, ia sudah mendapatkan kabar itu.


"Anna, kenapa pesan dan panggilanku tak kunjung kamu jawab?" tanya Dokter Yoga.


Sementara itu, di belakang, Amar sedang menyusul sembari menggendong Anan yang masih tertidur pulas. Ia tak tega membiarkan Anan tidur sendirian di mobil, meskipun nanti mereka masih akan melanjutkan perjalanan kembali.

__ADS_1


Zico memandangi bocah yang ada dalam gendongan Amar. "Anna ... Coba katakan padaku! Siapa sebenarnya anak laki-laki itu?"


__ADS_2