
Bagas, adik Anna yang telah tumbuh dewasa menatap Amar penuh kebencian. Namun, tatapan itu kini teralih pada wanita yang berjalan menggandeng tangan bocah laki-laki.
Bagas mengejar Anna dengan wajah penuh haru. "Kakak ..." Bagas memeluk Anna, kakak yang sangat ia rindukan.
"Bagas, kamu sudah besar ..." Anna mengusap punggung adiknya. Tinggi Bagas telah jauh melampaui tinggi dirinya.
"Waaah, jangan-jangan kamu punya banyak pacar nih?"
Bagas menggelengkan kepala. "Bagas janji tidak akan pernah pacaran sebelum Kak Anna ditemukan. Syukur laaah, sekarang Kakak sudah pulang." Beberapa waktu, Bagas berada mendekap tubuh sang kakak. Hatinya sungguh lah terharu.
"Syukur lah .... Mami Papi pasti akan senang bila melihat Kakak." Bagas melepaskan pelukannya dan menarik Anna masuk ke dalam rumah.
Lalu ia berjongkok menatap anak yang masih mengenakan seragam yang berdiri menatapnya heran. "Kamu pasti keponankanku."
Anan melihat ke arah Amar yang berdiri jauh dari posisi mereka. "Keponakan itu apa? Kenapa Papa Anan tidak boleh ikut masuk ke sini? Kan Papa Anan yang ngajak Mama ke sini."
Bagas tertegun melirik pada pria yang berdiri cukup jauh dari posisi mereka. Namun, tatapannya kembali teralih. "Keponakan, berarti anak dari saudara. Mamamu itu kakakku. Jadi lah kamu itu keponakanku."
Mulut Anan membulat. "Anan ga tau Mama punya saudara. Soalnya Mama selalu jauh ...." Anan menunduk rautnya pun terlihat sedih.
Kedua tangan Bagas, memegang pundak bocah itu. "Nah, nama kamu siapa?"
__ADS_1
"Anan, Om."
"Jangan Om! Aku masih muda. Om-Om itu kayak ...." Bagas melirik ke arah Amar yang terkekeh dari jauh menyimak obrolan mereka. "Papamu! Papamu itu baru pantas disebut Om-Om."
Anan mengerutkan keningnya kembali. "Papa Anan itu, papa-papa, Om. Bakan Om-Om!"
Bagas tampak berpikir kembali. "Oh iya ... Bapak-bapak maksudku."
"Jadi, Om itu emang Om-Om ...."
Bagas tersenyum kikuk karena ulang Anan. "Oh ya udah ... Ayo masuk! Ketemu Opa dan Oma di dalam."
Anan kembali melirik Amar. "Papa Anan juga masuk ya, Om? Kasihan Papa Anan berdiri di sana."
"Maaf ... Aku rasa kita tak perlu lagi membahas masalah yang telah berlalu. Aku juga tidak bisa menjelaskannya padamu, kala itu kamu terlalu kecil untuk memahami segala."
Bagas melirik Amar dengan seksama. "Lalu, kau mengabaikan kedua orang tua kami? Apa kau tak pernah memikirkan betapa kehilangannya kami?"
Amar menghela napas panjang. "Maaf."
Bagas seakan masih menunggu sesuatu kelanjutan yang ingin ia dengar. Namun, tak ada lagi lanjutannya, hanyalah sesuatu yang sepi.
__ADS_1
"Itu aja?" Mata Bagas nyalang menantang tatapan Amar.
"Karena, hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku tak bisa lagi merangkai segala kata hanya untuk menutupi kesalahanku."
Dalam beberapa waktu, hanya keheningan yang menemani kedua pria itu. Bagas masih teringat bagaimana susah payahnya mereka mencari kabar tentang Anna. Namun, hanya kehampaan yang mereka dapat.
"Sekarang, apa lagi yang kau inginkan terhadap kakakku?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karena kamu telah menyia-nyiakan kakakku selama ini. Aku tahu, kau selalu saja membuat Kak Anna sedih. Aku sangat membenci itu!" Bagas bersidekap menatap Amar. Ia masih yakin, merasakan kebencian kepada Amar, yang membuat kakaknya pergi menjauh.
"Oom, lama kali lah? Anan mau ajak Papa Anan masuk ketemu Mama."
Tiba-tiba Anan menyela Bagas yang masih ingin memberi wejangannya sebagai adik dari wanita yang telah disakitinya.
"Tunggu dulu! Aku hanya ingin melihat usaha papamu untuk memastikanku bahwa mamamu akan bahagia."
Anan mencabik dan memelas. "Ayo lah, Oom ... Anan dah capek berdiri lama. Papa pasti capek juga."
Amar terkekeh mendengar sungutan Anan. Dia hanya mengusap kepala bocah itu.
__ADS_1
Setelah suasana hening. Amar memegang pundak Bagas. "Bagaimana cara agar bisa meyakinkanmu?"
Bagas tak bergeming menatap dalamnya mata Amar yang lurus melihat ke arahnya.