
Anna tak segan menjepit dagu Silvi dengan kedua jemarinya. Meskipun tubuh Anna jauh lebih kecil dibanding Silvi, ia sama sekali tidak gentar. Karena, ia mantan atlet bela diri wushu, yang diwariskan kepada anaknya Anan.
"Apa kau bilang? Anak suamimu? Untuk apa baru kau tanyakan? Selama ini, otakmu ke mana? Pernah kau pikirkan bagaimana perasaanku yang akan menikah satu minggu lagi, tapi malah menikah denganmu?"
Silvi tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini. Dia mengira Anna hanya wanita lemah yang gampang diijak dan disakiti. Ternyata, apa yang ia pikirkan salah. Jepitan pada dagunya, terasa menyakitkan.
Anna mendorong tubuh Silvi dengan kuat! Tubuh yang hampir limbung itu disambut oleh seseorang yang sedang membawa anak laki-laki di sampingnya. Anna mendengkus kesal.
"Kenapa malah bantuin dia?"
Pria yang menyambut wanita itu, membantunya berdiri. "Aku tak ingin istriku mendapat masalah hanya karena dia terjatuh, melaporkanmu dengan cara berlebihan. Pada masa ini, kita harus lebih cerdas dibanding lawan. Karena, playing victim begitu nyata adanya mampu menjatuhkan dan memenjarakan seseorang."
Wanita itu menepis kasar tangan Amar menghembuskan napas kasar. Anna memutar tubuh dan melipat kedua tangannya. Kali ini, rasa kesal itu begitu nyata adanya.
"Namamu Silvi kan? Apa belum cukup somasi yang saya layangkan kepadamu?"
__ADS_1
Silvi mengejang. "Jadi benar, ternyata kau yang melakukannya?"
Amar menatap Silvi dengan wajah datarnya. "Jika masih mengganggu keluarga saya, maka bersiaplah pasukan berseragam datang menjemputmu! Di sini ada banyak CCTV yang akan menjadi bukti tindakan tak menyenantkan yang kau perbuat! Jadi, selain tindakan fitnahmuu pada live streaming waktu itu, tentu kelakuan impulsifmu ini akan memberatkan hukumanmu!"
Silvi mendengkus kesal. Ia melirik bocah laki-laki yang ia rasa begitu mirip dengan wajah suaminya. "Ini tidak akan sampai di sini!"
Silvi kembali melirik Anan yang tak berkedip menatap Silvi. Lalu ia berjalan dengan cepat meninggalkan tempat ia berada saat ini.
Amar pun datang mendekati Anna yang masih memunggunginya. Ia memeluk tubuh itu dari belakang, diikuti oleh Anan yang memeluknya dari samping.
"Belain aja dia terus!" cibir Anna.
"Lho? Aku membelamu lho? Masa aku membela orang lain? Nggak penting banget?" Amar melepaskan pelukannya, memutar tubuh mungil milik istrinya ini. Ia menarik tangan Anna ke atas.
"Aku nggak nyangka, tangan kecil gini bisa mendorong orang yang bobotnya dua kali darimu?" Ia melirik wajah istrinya yang masih manyun. Tangan itu dicium lalu beralih pada pipi Anna.
__ADS_1
"Kami sengaja pulang untuk mengajak Mama makan siang di luar." Amar menurunkan kepalanya memandang bocah yang tak habisnya mengeluarkan cengiran.
"Tapi, Anan mau ganti baju latihan dulu ya, Pa, Ma? Anan mau sekalian pergi latihan. Anan kan mau ikut kontes wushu nasional di ibu kota minggu depan."
Anna mengerutkan kening dan menggelengkan kepala. "Nggak boleh!"
Cengiran yang tadinya menghiasi waja Anan, seketika berubah murung. "Kok gitu, Ma? Anan mau ikut!" Kali ini suara Anan meninggi.
"Tidak boleh! Kamu itu masih terlalu kecil! Minimal usia dua belas tahun baru dibolehkan," terang Anna lagi.
"Pokoknya Anan mau ikut tanding!" Bocah itu berlari menuju tangga dan menaikinya dengan cepat.
Anna yang tak segan memperlihatkan raut kesalnya pun merasa geram. Ia ingin menyusul, tetapi ditahan oleh Amar.
"Bukan begitu caranya bicara dengan anak."
__ADS_1
Anna menepis tangan Amar.