
Anna melihat keadaan dirinya yang memang terasa semakin berisi. Dia tersenyum kecut memandangi Silvi dan Zico secara bergantian.
Zico masih terpana dengan Anna yang kali ini tampak memesona. Nenek Andari menyadari Anna sedang tersudut oleh situasi, memilih untuk mendekat.
"Ayo, Cantik! Suamimu sudah menunggu." Nenek menarik dan menggandeng lengan Anna yang masih terpaku karena tatapan Silvi.
Namun, Anna memberi aba-aba kepada Nenek Andari untuk melepasnya. Nenek Andari menganggukan kepala.
Ana berjalan anggun dengan gaun cantik yang memang sengaja dipakai demi mengikuti perintah Nenek Andari. Ia berjalan dengan percaya diri melenggok tepat di hadapan Silvi.
"Oh, tentu. Kamu tahu apa yang disebut bahagia? Ketika seorang yang kurus kini menjadi lebih berisi. Kamu juga terliha semakin gemuk—"
Tangan Silvi bergerak cepat ingin memukul Anna karena merasa tersinggung dikatakan gemuk. Namun, Anna yang merupakan seorang atlet bela diri wushu, menepis pukulan Silvi dengan siku yang terhunus kuat tepat di depan wajahnya.
"Jangan mentang-mentang ukuranku melebihi tubuhku, akan membuatku takut padamu. Apa kamu lupa, bagaimana kekacauan pesta kalian berdua kala itu?"
Silvi tersentak mendapati sang lawan yang disangkanya lemah, ternyata tak sesuai dengan tampilannya yang rapuh.
"Anna, kamu masih ..." Zico terbata-bata.
"Kenapa? Tadi kamu menyebut namaku? Kamu kehilangan uang karena suamiku?" Anna menepuk tangan tersenyum dingin.
__ADS_1
"Kalian tahu, itu belum seberapa! Karena, aku belum turun tangan!" Anna menyeringai memperhatikan raut Zico yang tadi terkagum akan penampilannya saat ini, berubah ketakutan.
"Suamimu sudah menunggu!" Nenek Andari menarik tangan Anna yang memancarkan hasrat memb*nuh.
"Sayaaang, apa benar aku udah gendut?" rajuk Silvi menghentakkan kakinya.
Namun, Zico tidak menjawab pertanyaan Silvi. Ia memandangi Anna dalam balutan gaun indah, dan Anna semakin cantik.
*
*
*
Pintu apartemen itu tak kunjung dibuka juga. Hal ini membuat nenek kesal dan akhirnya menekan bel sesering mungkin. Hal ini membuat Amar akhirnya membukakan pintu dengan tergesa.
"Kamu ke mana aja sih?" Sungut Nenek Andari memasang wajah kesal.
"Ah, aku tadi berada di belakang. Kami berdua lagi asik mengobrol, jadi tidak mendengar bell itu berbunyi." Amar kembali terlihat tidak fokus. Matanya liar melirik ke kiri dan ke kanan.
"Panggilkan lah dia!" ucap Nenek memutar-mutar kepala ke kri kanan segala arah.
__ADS_1
"Biar kan saja dia, Nek. Dia berada di belakang. Aku takut mengganggu kegiatannya."
Nenek menggelengkan dengan senyuman tipis bangkirt berjalan menuju bagian belakamg yang dimaksud adalah dapur.
"Anna? Anna?" Nenek yang membelakangi Amar terus meringsek menuju lokasi 'belakang' itu.
Namun, tentu ia tahu bahwa Anna tidak berada di dalam rumah itu. Ia hanya ingin melihat bagaimana ekspresi sang cucu.
Amar menghalangi langkah Nenek Andari. "Nenek mau ketemu dengan Anna kan? Dia mungkin sedang mengganti pakaiannya." Amar menarik Nenek duduk pada bangku kosong yanh ada di rumahnya. Amar masuk kembali ke kamarnya.
"Anna, ayo ... Ada Nenek." ucap Amar segera memutar kepalanya melirik ke arah pintu kamar. Ia sengaja membesarkan suara.
"Oh, kamu tidak mau ketemu dengan Nenek? Baik lah," ucapnya kembali. Amar kembuka pintu kamar menutupnya kembali.
"Kata Anna, ia merasa malu ketemu sama Nenek. Dia lagi berada di dalam selimut."
Nenek yang semenjak tadi tertawa mendengar permainan cucunya ini, masih asik menikmati siaran langsung drama yang hanya memiliki pemain tunggal.
Dari arah luar, tampak seorang wanita cantik mengenakan gaun. "Sepertinya ada yang menyebut namaku? Kenapa?" tanya Anna membuat Amar mengejar dan memasukannya ke dalam pelukan.
Namun, Anna mendorong Amar. "Aku ke sini bukan untuk mencarimu."
__ADS_1