Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
94. Tunjukan Padanya Kamu Menyayanginya


__ADS_3

Amar menyadari perubahan pada istrinya ini. Ia memberi kode kepada Anan untuk mengejar ibunya yang telah berjalan jauh meninggalkan area sekolah menuju salon yang berada tak jauh dari sana. Anan terlihat ragu mengikuti perintah Amar.


Melihat reaksi Anan yang seakan ogah untuk mengejar ibunya, menyerahkan pada kendaraannya kepada Darma. "Tolong bawakan mobil ini ke tempat istri saya. Saya akan jalan kaki bersama mereka." Setelah Darma menganggukan kepala, Amar berjalan mendekati Anan. Lalu, ia menepuk bokong Anan agar ia bergerak mempercepat langkah mengejar ibunya itu.


Dengan wajah bingung, Anan mengikuti perintah Amar. Ia setengah berlari mengejar Anna dan langsung memeluk ibunya begitu saja. Anna yang ternyata telah dibanjiri air mata tertegun saat menyadari bahwa anaknya telah memeluknya dari belakang.


"Kenapa Mama tidak mengajak kami pulang? Apa Mama marah lagi sama Anan?" rajuk putranya itu di belakang Anna.


Jemari pada kedua tangan Anna bergetar karena ada gugahan rasa ingin menarik bocah itu untuk segera masuk ke dalam pelukannya. Namun, tubuhnya masih kaku untuk menunjukan itu semua.


"Peluk lah! Peluk lah dia! Tunjukan padanya bahwa kamu sangat menyayangi dia!"


Suara itu membuat Anna refleks menoleh ke belakang. Ia segera mengusap air mata yang telah menghapus riasan di wajahnya meninggalkan noda maskara yang sedikit luntur.


"Ayo, kamu tunggu apa lagi? Bukan kah kamu takut kehilangannya?" Amar berdiri tak jauh di belakang mereka. Ia memberikan penguatan dengan anggukan kepala.


Anna menarik tangan Anan yang memeluk pinggangnya. "Ayo sini, peluk Mama."


Anan secepat itu juga masuk merangkul leher Anna yang duduk berjongkok. "Anan janji, Anan nggak akan nakal. Maafkan Anan ya Ma. Mama jangan marah terus ya sama Anan? Anan suka kalau Mama tidak jauh-jauh lagi dari Anan."


Anna tak henti meneteskan air matanya tanpa suara. "Kamu tidak salah, Sayang. Mama lah yang salah. Dari awal ini semua salah Mama. Anan adalah anak yang baik." Anna mengusap kepala Anan dengan sepenuh hati.


Anan menyunggingkan senyumannya kepada Anna. "Ma, Anan sayang sama Mama. Tapi boleh tidak, Anan melawan Mama?"


Anna mendorong kedua pundak Anan melepaskan dari pelukannya. "Jadi, kamu bener-bener pengen ikut pertandingan itu?"


Anan mengangguk mantap. "Tapi Mama jangan menangis kalau Anan kalahkan."


Anna bangkit dan mengusap kepala Anan. "Baik lah. Tapi, kalau sebaliknya alias kamu kalah, kamu harus sabar menunggu usia dua belas tahun ya? Kalau udah cukup umur, Mama tak akan lagi melarang kamu mengikuti pertandingan apa pun itu." Anna menunduk memeluk Anan dan mengecup kening putranya itu.

__ADS_1


Setelah itu, Amar mendekat dan memeluk mereka berdua. "Ayo, kita pulang dulu. Setelah itu, Mama akan ikut pergi sanggar Wushu, tempat Anan berlatih.


Anna dan Anan kali ini kompak menggunakan ciongsang putih dengan terikat sabuk dengan warna berbeda. Anna yang dulunya atlet tingkat nasional menggunakan sabuk bewarna hitam. Setara dengan guru besar bagi atlet wushu. Bahkan, pelatih Anan pun menunduk hormat kepadanya.


"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan kepadaku bahwa ibumu adalah atlet legendaris itu?" bisik Coach Lee.


"Soalnya, Mama ngelarang aku bercerita kepada siapa pun."


"Pantas saja kemampuanmu melebihi kawan-kawan sebayamu. Ternyata, buah memang tak jauh jatuh dari pohonnya." Coach Lee mengacungkan jempol kepada Anan.


"Apa kamu siap melawan ibumu yang sudah sabuh hitam? Sabukmu masih merah lho?"


"Tentuuu, apa pun hasilnya Anan harus berusaha terlebih dahulu bukan?"


Lalu, kedua ibu dan anak tersebut berdiri di tengah ruang luas pada sanggar latihan wushu Anan. Kali ini, mereka sepakat menggunakan tongkat.


*gambar hanya pemanis dan membuat haluan kita semakin indah dan nyata* Visual keluarga kecil ini bisa dilihat pada IG author: @sofie.espada




*


*


*


Tiga tahun kemudian, Anna sedang menggandeng gadis kecil yang cantik. Sementara itu, di depannya seorang remaja tampan sedang berjalan dirangkul oleh pria dewasa, yang tak lain adalah Amar.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Ma, Pa ... Sudah mengantar aku jauh-jauh ke negeri ini demi menemaniku bertanding." Bocah yang dulunya kecil, sekarang memiliki tubuh yang cukup tinggi hampir sejajar dengan Anna dengan usianya yang baru dua belas tahun.


Anna mengusap kepala Anan. "Ini kan sudah janji Mama, akan mendukungmu sepenuhnya untuk bertanding ke mana pun bila usiamu telah cukup."


Anna menyadari perubahan pada putranya ini. "Kamu sudah tinggi banget ya?"


Anan hanya mengeluarkan cengiran dan beralih menatap adik kecil cantiknya. Ia berjongkok hingga posisinya menjadi sama tinggil. "Dek, doakan Kakak supaya menang mewakili negara kita dalam turnamen kali ini ya? Kalau Kakak menang, mendalinya akan Kakak kasih buat kamu," ucap Anan mencoel pipi Amira, adiknya.


Bocah itu mengangguk lalu memeluk Anan. "Tatak ati-ati. Tatak menang yaaaaa," ucapnya di lidah yang masih cadel.


Anan menciuum pipi bulat adiknya dengan gemas. Lalu melambaikan tangan mengikuti Coach yang sudah melatihnya semenjak lama. Amar segera menggendong putri kecil mereka yang baru berusia dua tahun.


"Sayang, sampai kapan kita akan merahasiakan semua ini dari Anan?" tanya Anna yang mulai mengkhawatirkan status Anan yang sebenarnya.


"Masih seperti dulu, kita akan merahasiakan semuanya hingga akhir. Biarkan Anan tahu bahwa aku adalah ayahnya."


Anna menyandarkan diri pada Amar, dan menganggukan kepalanya. "Terima kasih sudah menyayangi anakku selayaknya Amira, bagai anak kandungmu sendiri."


"Anak kita ...." Amar meralat ucapan Anna, merangkul istrinya duduk pada bangku penonton di stadion turnamen internasional kali ini. Mereka berada di negeri sakura, menemani Anan merebut gelar pemenang tingkat dunia.


ADA EKSTRA PART DI BAWAH PROMO KARYA YAAH ... NASIB ZICO dan DOKTER YOGA.


Tayang tiap tengah malam.


...—TAMAT—...


Halooo kakak semua. Author mau memperkenalkan karya Author yang baru nih.


Cerita mengenai perjodohan semenjak lahir, berujung pernikahan yang tak bisa dihindari dalam usia sekolah. Ayooo mampir ... Siapa tau kakak tertarik.

__ADS_1



__ADS_2