Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 16


__ADS_3

Zico menatap Silvi, mantan istrinya. Ia mencari sesuatu yang ada di sekeliling Silvi. "Ke sini dengan siapa? Apa kau sengaja mengikutiku hingga ke sini?"


Mata Silvi berkaca-kaca menatap Zico. "Aku kangen kamu. Aku mengecek kamu dari lokasi lewat GPS."


Zico mengerutkan keningnya. Ia segera mengeluarkan ponsel. "Jadi, kamu suka mat4-mat4ain aku selama ini?"


"Bu-bukan gitu. Hanya saja, aku hanya ingin tahu ke mana saja kamu selama ini. Aku kangen banget sama kamu. Aku ingin memberitahukanmu sesuatu. Aku sendiri sangat terkejut dengan itu semua. Akan tetapi, aku yakin semua ini pasti memiliki alasan." Mata Silvi mulai menampakan genangan demi genangan hampir jebol dari bendungannya.


"Sudah lah! Kamu jangan bermain air mata lagi di hadapanku! Aku pun tidak akan menyalahkan siapa-siapa lagi. Yang terjadi biar lah terjadi! Sekarang lebih baik kita fokus pada sidang perceraian kita." Zico mulai melangkah meninggalkan tempat di mana ia bersembunyi.


Sementara itu, Silvi terus mengikuti langkah Zico, meskipun laki-laki itu mulai semakin menjauh dengan langkah panjangnya. "Mas, dengarkan aku dulu!" Butiran bening itu mulai jatuh satu demi satu.


Zico melambaikan tangan tanpa menoleh sedikit pun. "Kita sudah tidak bisa bersama lagi. Aku tidak memiliki rasa apa pun lagi!"


Silvi mempercepat langkahnya. "Mas, aku masih cinta padamu! Dengarkan aku dulu! Kau tidak boleh meninggalkanku!"

__ADS_1


Zico menghentikan langkahnya. Wajahnya mulai terlihat dingin, dan matanya melirik di ujung penglihatannya. "Kita hanya lan mantan. Kau sudah tidak bisa lagi memerintahku seperti sebelumnya! Jujur, aku tak mencintaimu! Aku hanya membutuhkan uangmu. Namun, kali ini aku sadar akan sesuatu. Bahwa, uang tidak bisa membeli kebahagiaan!"


Silvi menggeleng cepat. "Kamu jangan berkata seperti itu! Bagaimana pun kamu tidak akan bisa meninggalkanku," ucap Silvi kukuh.


"Aku per—"


"Aku hamil, Mas."


Zico tampak meluruskan punggungnya. Kali ini ia memutar tubuh dan kepalanya tampak sedikit meneleng mencerna informasi singkat yang baru saja diberi oleh Silvi. "Kamu jangan bercanda!"


"Ini anakmu. Kita berhasil setelah sepuluh tahun lamanya. Kamu tahu, ini artinya Tuhan melarang kita untuk berpisah!"


Zico menarik surat tersebut. Kandungan Silvi saat ini telah berusia sepuluh minggu. Ia menatap Silvi yang terlihat menangis dengan senyuman di wajahnya.


"Kamu tidak bisa menceraikanku. Kamu adalah ayah dari anakku. Meskipun kamu tidak cinta lagi padaku, anak kita ini bukti bahwa jodoh di antara kita tak akan bisa diakhiri begitu saja." Silvi menyandarkan dirinya begitu saja kepada Zico.

__ADS_1


"Mas, aku mencintaimu. Meskipun aku tahu, kau hanya mencintai uangku, aku tetap mencintaimu. Kembali lah padaku! Mari kita lanjutkan pernikahan ini. Karena, anak kita akan membutuhkanmu sebagai ayahnya." Silvi memeluk Zico dengan erat. Ia tak memedulikan sikap dingin pria itu, meski tak membalas pelukannya.


Silvi menarik tangan Zico yang masih menggenggam sepucuk surat hasil pemeriksaan kehamilannya. Tangan itu diletakan pada perutnya.


"Nak, ini papamu. Ayo bujuk papamu agar tidak meninggalkan kita," ucap Silvi lagi memandangi perut yang ditempelkan tangan Zico.


Perasaan Zico berdebar. Tubuhnya tampak kaku karena ini bagai serangan mendadak baginya. "Agh, kamu tidak bercanda kan?" Tubuhnya mulai bergetar.


Ada rasa haru yang muncul di dadanya. "Tuhan, apakah pendosa sepertiku masih diizinkan untuk bahagia?"


...****************...


Yuhuuu, demi menemani puasa di bulan Ramdhan Kakak semua, Author mau mengajak Kakak semua untuk membaca karya sahabat Author. Yuuuk, mari mampir.


__ADS_1


__ADS_2