Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
87. Kalahkan Mama Dulu


__ADS_3

Amar terkekeh melihat perubahan sikap istrinya ini. Anna mengetuk pintu kamar sang anak, tetapi tak satu pun sahutan yang terdengar. Anna mengetuk pintu itu kembali.


"Anan?" Anna menarik kenop pintu dan ternyata sedang tidak dikunci. Pintu itu didorong secara perlahan. Matanya perlahan memandangi seisi kamar sang anak, mencari keberadaan Anan.


Ternyata, Anan sedang bersembunyi di pojok kamar, di samping meja belajarnya. "Ternyata kamu di sana?" Anna berusaha menekan nada suaranya agar tidak meninggi seperti tadi.


Anan hanya melirik sang ibu. Lalu ia menyembunyikan wajah dalam pelukannya sendiri melipat lutut di dada. Anna memasang wajah sendu dan segera duduk di hadapannya. Tangannya membelai kepala Anan dengan lembut.


"Maafkan Mama, Anan. Mama tidak mengizinkan kamu ikut, bukan karena Mama tidak sayang. Mama ... Mama ... Sayang sama kamu, Anan." Lidah Anna terasa kelu dan kaku untuk mengucapkannya. Amar memperhatikan tindakan mereka berdua bersandar pada daun pintu.


Namun, bocah itu masih tak bergeming menyembunyikan wajahnya. Hal ini membuat sang ibu menoleh pada suami. Amar menganggukan kepalanya menyuruh Anna untuk melanjutkan kembali.


"Sekarang jangan dulu ya? Tunggu hingga berumur dua belas, aah ... Sepuluh tahun aja deh, nanti akan Mama izinkan kamu untuk ikut turnamen itu. Tapi dengan syarat ...."


Anan mengangkat wajahnya. "Apa syaratnya?"

__ADS_1


"Kamu harus latihan dengan giat. Semua gerakan dasar wushu harus kamu kuasai, seperti ma bu, gong bu, xie bu, che chuai ti, dan tan tui bisa kamu kuasai dengan benar."


"Tapi Anan sudah bisa semua, Ma." Meskipun tak terdengar suara, pipi bocah itu telah basah dengan mata yang merah.


Anan melebarkan bibirnya tersenyum. "Iya, hanya saja nanti lawanmu itu rata-rata memiliki tubuh yang tingga dan bobot ideal. Jika saja kamu lebih besar sedikit lagi, apalagi tinggimu sudah mencukupi, maka Mama akan memberikan izin setelah mampu mengalahkan Mama."


Anan membulatkan bibirnya. "Harus mengalahkan Mama dulu?" tanyanya tak percaya.


"Iya, kamu harus mengalahkan Mama dulu. Setelah itu baru Mama izinkan ikut pertandingan nasional, maupun internasional. Tapi, syaratnya harus kalahkan Mama dulu."


Anna melirik suaminya kembali. Amar mengedipkan mata dan mengacungkan jempolnya. Anna hanya tersenyum tipis, teringat kembali akan rasa jengkel pada suami yang mengatakan dia hanya sibuk pacaran.


Beberapa waktu kemudian, tiga anggota keluarga tersebut sedang menikmati makanan pada restauran yang dulunya ingin mereka datangi, tetapi tidak jadi karena ada huru hara.


Anna menikmati suasana tempat langganannya ini, meskipun suasananya memang terasa sangat jauh berbeda. Amar memperhatikan senyuman yang tak lepas dari bibir istrinya ini.

__ADS_1


"Apa kamu sangat menyukai tempat ini?"


Anna membuka matanya dan senyum kikuk menghiasi bibirnya karena kedapatan terlalu menikmati suasana ini. "Aku sudah sangat lama tidak datang ke tempat ini. Dulu, aku sering ke sini."


Amar teringat dulu ketika Zico menawarkan tempat ini padanya. "Oh, jadi karena itu kamu mengajakku ke sini? Kamu mau mengenang kisahmu dengannya?" Suara Amar terdengar cukup sumbang, membuat Anna menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Aku sudah ke sini jauh hari sebelum mengenalnya. Pria kere itu tak akan mampu membiayaiku makan di sini. Dan sialnya dia ...." Anna melirik Anan yang begitu menikmati santapan makanan yang ada di hadapannya.


Raut Amar yang telah datar semenjak tadi, akhirnya bangkit menuju lokasi out dor yang tampak begitu indah. Sepanjang mata memandang, suasana hijau begitu ramah menghia mata.


"Jadi, ini adalah lokasi mereka berkencan?" Amar hening bersandar pada dinding bangunan yang elegan itu, memandangi suasana sejuk di atas bukit, dan pemandangan lembah dan bukit yang begitu memanjangan mata, menenangkan hati. Namun, malah membuat hati Amar panas.


"Katakan! Apa dia anakku?" Sebuah teriakan terdengar jelas oleh telinga Amar dari arah dalam bangunan resaturan itu.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2