
Amar menyadari perubahan Anna. Wajah wanita yang ada di dekatnyap saat ini telah merah kegelapan. Amar mulai berhenti berbicara.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Anna menggelengkan . "Hanya aku yang salah di sini. Bukan kamu, Nenek Andari, atau pun Zico. Di sini, hanya aku yang salah." Akhirnya, tetes demi tetes butiran bening itu jatung.
"Anna, apa yang kamu katakan? Coba kamu katakan lagi!" Amar mengernyitkan wajah. Bagian rongga telinga sebelah kiri terasa berdenging hebat. Kedua tangannya menekan bagian itu.
"Kamu kenapa?" tanya Anna kembali. Kali ini Amar tidak memberi respon sama sekali.
Anna kembali meminta pertolongan Dokter Sisil.
"Pak Amar, Anda merasakan apa?" tanya Dokter Sisil semenjak tadi bertanya kepadanya. Namun, pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.
Dokter Sisil menyentuh pundak Amar, yang sedang meringkuk. Rona wajahnya menghitam, menyemburkan bayangan biru pada bagian pelipis.
"Sakiit ... Tolong Anna, aku sakit."
Anna mengusap air matanya dengan cepat. Bagaimana pun juga, dia membutuhkanku. Baik lah, setelah ini ... Ya, setelah ini aku pergi.
"Dok, tolong sembuhkan dia. Berapa pun biayanya akan kami bayar." ucap Anna.
"Ini bukan masalah biaya atau apa, Mbak. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Apa yang terjadi dengan Pak Amar, harus memeriksa dengan beberapa tes dan mendiagnosa secara tepat."
Anna mengangguk cepat. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya serahkan semuanya pada Dokter."
"Baik lah, Bu Anna. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut saat ini juga."
"Kenapa semua orang diam begini? Coba katakan sesuatu padaku." Amar masih bingung dengan apa yang terjadi.
Beberapa waktu kemudian, bermacam tes dilakukan, terutama pada indera pendengaran Amar. Tidak hanya itu, dilakukan rontgen pada bagian telinga dan pemeriksaan saraf menggunakan alat khusus.
Saat melakukan tes tersebut, baru lah Amar menyadari bahwa indera pendengarannya mengalami masalah. Sebuah jawaban yang memberikan alasan mengapa ia tidak bisa mendengarkan suara sedikit pun.
Keesokan hari, hasil dari pemeriksaan Amar telah keluar. Anna membacanya dengan seksama, dengan simpulan terjadi kerusakan pada gendang telinga Amar.
__ADS_1
"Lalu setelah ini bagaimana, Dok? Apakah ini bersifat permanen atau masih bisa sembuh?"
"Ibu yang tenang ya? Kita tunggu kondisi Pak Amar hingga benar-benar stabil. Jika sudah siap, kita akan melakukan penanganan dengan jalur operasi."
Anna memandang wajah Amar yang membisu semenjak menyadari kondisinya saat ini. Anna pun tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada pria yang tak mencintainya ini.
Keesokan hari, Sugiono membantu Anna untuk menjemput Amar pulang. Di sana, juga ada Nenek Andari yang bersiap untuk mengajak Anna dan Amar tinggal bersamanya.
"Mana mertuamu? Apakah mereka tahu kondisi suamimu saat ini?" tanya Sugiono yang merasa keanehan dengan tingkah orang tua Amar.
Sejenak, Anna menatap Nenek Andari. "Udah, kok, Pi. Papi jangan khawatir."
"Mertuamu itu terlalu sibuk. Setidaknya, di saat anak mereka dalam keadaan terpuruk begini, mereka menyempatkan hadir." ucap Sugiono gusar dan khawatir.
"Pi?" Renata membelalakkan mata, mengingatkan bahwa di sisi mereka masih ada Nenek Andari.
"Hmmff ... Hmmmff ...." Tiba-tiba, Anna merasakan mual luar biasa. Selain rasa lelah, dia juga merasa sangat lapar.
Anna berlari menuju kamar mandi dan membuang semua rasa tak nyaman.
"Udah?" tanya Renata di saat Anna mulai mencuci mukanya.
Anna menganggukkan wajah, berkumur membuang sisa yang membuat perasaannya tak nyaman.
"Kamu hamil, ya?" tebak Renata.
Wajah Anna menegang. Ia mengeringkan wajah menggunakan tisu, tetapi tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu beneran hamil ya?" Wajah Renata sumringah.
"Syukur lah jika kamu benar-benar hamil. Kamu tidak perlu lama-lama seperti kami, menunggu sangat lama baru bisa merasakan hamil." Renata merangkul putrinya itu.
Sugiono mendengar ucapan sang istri. "Ekhem ..." Dia sengaja berdehem membuat dua perempuan kesayangannya keluar dari kamar mandi.
"Pi, Anna hamil, Pi. Kita akan jadi kakek nenek," ucap Renata memancarkan rona kebahagiaan.
__ADS_1
Sugiono melirik Amar. Ia tidak menyangka, laki-laki yang dicurigai tak mencintai putrinya ini, ternyata mampu membuat Anna hamil.
Sugiono menepuk punggung Amar yang masih membisu. Amar memandang mertuanya itu dengan datar. Semuanya hanya hening tak terdengar apa pun.
*
*
*
Anna dan Amar untuk sementara tinggal di rumah sang Nenek.
Amar merawat Amar dengan sepenuh hati. Membuat pria itu tak mampu berpaling padanya. Anna menemani Amar setiap pemeriksaan ke rumah sakit. Hari-hari mereka lalui bersama pun semakin intens.
Namun, Anna melakukan hal itu semua agar Amar bisa segera pulih. Hatinya telah kukuh, untuk mengakhiri segalanya dengan Amar.
Namun, berbeda dengan Amar. Semakin hari, dia semakin nyaman dengan hadirnya Anna. Tak ada lagi Luna, tak pernah lagi keluar untuk mabuk-mabukan. Ia ingin, Anna utuh untuknya hingga akhir nanti.
"Anna, terima kasih ... Terima kasih sidah menemaniku."
Anna hanya tersenyum tipis mengangguk pelan. Perut Anna sudah membulat, Amar sudah masuk pada kamar rawat. Ia akan melakukan operasi perbaikan gendang telinga.
Amar menangkap tangan Anna yang sedang mengambilkan minuman untuknya. Gelas yang ada di tangan Anna, ia kembalikan ke atas nakas.
"Anna, apa kamu mau kita membatalkan kontrak yang telah kita buat?"
Anna mengerutkan keningnya. Ia melepaskan genggaman tangan Amar, segera mengetik sesuatu di dalam ponselnya, lalu diserahkan kepada Amar. Begitu lah cara mereka berkomunikasi saat ini.
Kenapa?
"Aku ingin kita pernikahan kita benar-benar layaknya pernikahan orang pada umumnya."
Apa hanya itu?
"Ah, sudah lah ... Aku hanya ingin mengatakan itu. Aku ingin kita menikah secara utuh tanpa perjanjian apa-apa lagi. Apa kamu mau benar-benar menjadi istriku seutuhnya?"
__ADS_1
Jika aku tidak mau?