
Apa kau mengerti sekarang." Tanya Ranti dengan memegang pipi pria tersebut dan mengelusnya dengan lembut.
"Masih marah ternyata, yasudah deh pakai jurus terakhir saja."
Leon menaikkan alisnya bingung dengan ucapan dari istrinya tersebut.
CUP
Ranti mengecup bibir pria tersebut membuat sang empu kaget karena jarang sekali perempuan ini yang berinisiatif.
"Sudah tidak marah?" Tanya Ranti dengan lembut.
"Hahh kau harus bertanggung jawab karena sudah menggodaku." Ujar Leon dengan kembali mencium Ranti.
...****************...
Setelah sekian lama akhirnya Ranti dan Leon telah tiba di rumah.
"Ais dasar laki-laki cabul, mesum, tidak tau tempat." gerutu Ranti yang berjalan begitu saja melewati para pelayan tersebut.
"Kenapa dengan nyonya?" Tanya seorang pelayan wanita terhadap rekannya.
"Entahlah terlihat nyonya sedang kesal, dan juga kenapa beliau tampak acak acakan apakah sesusah itu kuliah." Gumam para pelayan tersebut karena rata-rata diantara mereka hanya lulusan SMA saja.
Tak lama Leon ikut menyusul tapi kali ini suasana hatinya berbanding terbalik dengan Ranti. Entah kenapa pria tersebut terus saja tersenyum seperti mendapatkan sesuatu yang besar.
"Tuan tampak senang." Ucap para pelayan itu karena hal tersebut termasuk langka.
"Apakah pemikiran mu sama denganku?" Tanya pelayan lainnya.
"Hihihi ternyata begitu, kenapa kita baru sadar kan tuan memang tidak tau tempat hehehe." Ujar pelayan itu dengan menutup sedikit mulutnya karena malu.
Sedangkan di dalam kamar saat ini Ranti benar-benar sangat kesal bahkan ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sesampainya di dalam sana ia dapat melihat dengan jelas seluruh tanda yang di buat oleh pria tersebut di badannya.
"Oh astaga aku benar-benar akan berubah menjadi macan tutul karenanya." Ucap Ranti.
"Tok,Tok,tok"
"Sayang aku ikut mandi dong." Ujar pria yang menyebabkan dirinya seperti macan tutul saat ini.
"Enak saja dia bilang ingin ikut mandi, dia pikir aku akan tertipu dengan rayuannya itu apa."Gerutunya.
Didepan pintu Leon hanya terus tersenyum senang mengingat bagaimana mereka melakukan 'itu' di mobil.
"Aku sungguh sudah menjadi pria yang cabul." Gumamnya dengan senyuman tipisnya itu.
__ADS_1
Ranti akhirnya telah selesai membersihkan diri tapi ia tidak menggunakan baju tidur melainkan berpakaian seperti akan keluar.
"Sudah jam segini sebaiknya aku mulai pergi sekarang jika tidak Intan akan terluka" gumamnya ketika melihat hal menunjukkan pukul 08.00 malam itu.
.
"Dimana dia? kemana dia pergi ? tadikan dia masih didepan sini?"Tanya Ranti karena ia tidak dapat menemukan Leon di manapun.
Ranti keluar dari kamar dan mencari pria tersebut di seluruh ruangan yang ada.
"Kemana sih dia kok tiba-tiba ngilang bagaimana ini ? aku harus bagaimana? lebih baik aku telpon saja." Ranti mencoba menghubungi Leon akan tetapi malah tidak tersambung. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Alexia dan juga Martin tapi mereka berdua juga tidak dapat dihubungi.
"Astaga mereka seperti sedang berada di hutan saja kenapa semua tidak bisa dihubungi." Gumam Ranti yang tampak frustasi bahkan ia sudah menghubungi mereka lebih dari sepuluh kali.
"Drrt,drrt,drrt" Handphone milih wanita itu bergetar.
Dengan cepat Ranti melihat siapa yang menghubungi nya dan ia berpikir mungkin saja Leon ataupun Alexia dan juga Martin yang menghubungi nya. Tapi Ranti tampak terkejut saat melihat nama yang tertera disana.
"Intan?" Gumamnya. Setelah mengangkat telepon tersebut tampak Ranti langsung pergi keluar tapi ia tidak sendirian dia tentunya meminta pak Doni dan dua orang bodyguard untuk melindunginya.
"Kuharap ini cukup."Gumamnya.
Di tempat lain tepatnya di rumah intan tampak gadis itu tengah mengalami kesulitan. Bagaimana tidak, saat ini rumahnya di datangi oleh 4 orang pria bertubuh besar dan juga 1 orang pria tua.
"Oh ayolah Intan kau akan bahagia jika menjadi salah satu dari istriku, aku akan menjamin seluruh kebutuhanmu. Semuanya apapun yang kau inginkan." Bujuk pria tua itu.
"Anda sudah memiliki banyak istri kenapa anda masih terus mengganggu saya? Anda itu lebih baik menjadi KAKEK saya dari pada suami saya." Intan sengaja menekankan kata kakek agar pria tua itu sadar dengan umurnya.
"Hahaha maksudmu apa ha?aku tua begitu?" Tanyanya yang tampak mulai emosi tersebut.
"Iya baguslah jika anda mengerti."
"Baiklah mari kita buktikan aku ini sudah tua atau belum?" ujarnya dengan senyuman menakutkan.
"Kau mau apa?" Tanyanya.
"Kau sendiri tau dengan apa yang akan ku perbuat bukan." Ujarnya.
'Kumohon teman-teman aku percaya pada kalian.' Batinnya.
Saat ini ternyata Intan sedang menekan pesan suara di dalam group chat mereka yang dapat menjadi barang bukti dan juga dapat membebaskannya dari pria tidak tau diri.
#Flashback On
"Jadi bagaimana kita akan menolongnya dari pria hidung belang itu saat ini polisi terus menanyakan bukti kita sama sekali tidak punya bukti."Ujar Rina.
__ADS_1
"Hmm ini akan sulit apalagi sepertinya pria tua ini orang yang memiliki uang." Ujar Atika.
"Bukti ya? hmm bagaimana jika kita membuat bukti itu alias perangkap." Ujar Ranti.
"Maksudnya bagaimana Ran?" Tanya mereka.
"Begini kapan kira-kira pria breng*ek itu akan datang lagi?" Tanyanya.
"Hmm aku tidak tau tapi menurutku nanti malam pasti dia akan datang." Ujar Intan.
"Kira2 jam berapa dia akan datang?" Tanya Ranti lagi.
"Sekitar jam 10 malam pada saat mulai sepi."Jawab Intan.
"Dia tidak pernah melukai mu kan Tan atau berbuat yang macam-macam ?" Tanya Ranti memastikan bahwa temannya itu baik-baik saja.
"Untunglah selama ini aku bisa menyelamatkan diriku." Mendengar hal tersebut Ranti dapat bernafas lega.
"Di mana alamatmu ?" tanyanya lagi.
"Aku masih tinggal di rumah lamaku Ran, aku merasa masih banyak kenangan disana jadi aku memutuskan untuk terus tinggal di sana."
"berarti jika aku tidak salah saat ini hanya dengan tempatku saja yang paling dekat dengan rumahmu." Ranti menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kamu tinggal dia sekitar situ ya?" Tanya Rina kali ini.
"Iya aku sekarang tinggal di sekitar situ tapi tidak terlalu dekat sekitar 20 menitan masih."Jelas Ranti.
"Memang secara Tempat Ranti yang lumayan dekat jika aku butuh waktu sekitar 30 atau 40 menit begitu pula Rina."Jelas Atika.
"Tapi apa yang kamu pikirkan Ran?" Tanya Rina yang tampak penasaran.
"Aku berpikir kenapa Intan tidak mencoba untuk memancing emosi pria tersebut lalu mengirimnya ke group kita sehingga kita punya bukti."Jelasnya.
"Tapi itu terlalu beresiko Intan bisa dalam bahaya."ujar Atika.
"Sebenarnya awal dari itu aku berpikir agar kita menginap di tempat Intan tapi akan sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu apalagi memanggil polisi. oleh sebab itu bagaimana jika Atika dan juga Rina bersiap di dekat kantor polisi jdi setelah barang bukti telah dikirim kalian bisa langsung melaporkannya dan membawa polisi ke tempat Intan. Sedangkan aku akan membantu intan untuk mengulur waktu sebisa mungkin."Jelasnya Ranti tau benar jika hal ini beresiko oleh sebab itu ia sudah memikirkan untuk membawa Leon bersamanya.
"Tapi bagaimana jika kami terlambat dan kalian sudah terluka."Tanya Atika.
"Kami akan baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.
"Baiklah kuharap kita dapat berhasil dan teman-teman terimakasih karena sudah mau menolong ku." Ujar Intan dengan senyumannya.
#Flashback off
__ADS_1