
"Huh..Sialan." Leon menghela nafas panjang saat mendengar penuturan dari gadis itu.
"Baiklah, tapi ingat kau tidak boleh ikut campur terlalu dalam mengenai permasalahan anak ini. Jika nanti Martin sudah menemukan orang tuanya maka dia harus pergi saat itu juga." Ucapan Leon terdengar jelas di telinga Ranti. Ia sungguh senang karena laki-laki itu sudah mau mendengarkannya.
"Terimakasih." Ucapnya dengan senyum lebarnya.
"Dan jangan harap kau lepas dari hukumanku!" lanjutnya yang membuat Ranti kembali cemberut.
...****************...
Saat ini Ranti tengah duduk diatas ranjangnya dengan Leon yang masih melipat tangan di dadanya itu. Tatapan tajamnya seakan akan menguliti tubuh gadis tersebut.
"Apa alasanmu kali ini?" Tanyanya.
"A-aku hanya berniat menolong anak itu, dan itu terjadi begitu saja." Jawabnya sedikit gugup saat melihat ekspresi pria tersebut yang tampak tidak puas dengan jawabnya itu.
"Itu bukan alasan." Sangkalnya.
"Itu alasan maksudku aku tidak bisa membiarkan orang itu menyakiti anak itu." Jawab gadis itu dengan cepat.
"Kau tidak pernah berpikir sebelum melakukan sesuatu dan selalu begitu. Berapa kali kau telah melakukan hal berbahaya. Apa kau pikir nyawamu lebih dari satu atau bagaimana." Nada pria tersebut sedikit meninggi. Leon benar-benar kehabisan akal untuk membuat gadis itu tidak berurusan pada bahaya.
"Tapi menolong orang yang kesusahan itu adalah kewajiban."Gadis itu masih berpegang teguh pada pendiriannya.
"Kau boleh menolong orang lain jika kau merasa sanggup jika tidak maka jangan paksakan dirimu dan pura-pura lah tidak tau." Laki-laki itu mencoba menjelaskan kepada Ranti.
"Setidaknya kita harus mencoba du-"
"Sudah kubilang jangan ya jangan! tidak bisakah kau mendengarkan ku anggap saja ini perintah sebagai suamimu !" Ungkap Leon yang mulai tersulut emosi itu.
__ADS_1
"Suami? sejak kapan ha? kau bahkan tidak pernah menganggap aku sebagai istrimu!." Ucap Ranti yang mulai terbawa emosi.
"Apa maksudmu ?" Geram laki-laki tersebut saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Ranti.
"hahaha kau pikir aku bodoh Leon selama ini aku bukan gadis yang hanya diam saat tiba-tiba seseorang datang dan mengajaknya menikah. Aku tau pasti kau pasti memiliki rencana dengan menikahiku. Aku tidak tau pasti apa rencanamu tapi yang ku tau satu hal kau memanfaatkan ku kan untuk suatu tujuan?." Ucapnya dengan air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya itu. Sedangkan laki-laki itu menatap tidak percaya pada gadis tersebut.
"Tapi apa ha? aku masih mencintaimu, aku benar-benar konyol saat aku mengetahui bahwa kau memanfaatkan ku aku malah terus berpikir positif. Setiap aku memikirkan hal itu maka dalam hati aku selalu berkata bahwa setidaknya aku berguna untukmu. Karena cinta bodoh ini bahkan aku bahagia kau manfaatkan. Hiks jika kau ingin tertawa atau mengejekku silahkan aku tidak peduli." Ranti benar-benar kesal pada pria yang ada didepannya itu. Namun ia juga tidak bisa tanpa pria itu.
"Bugh" Leon memeluk tubuh gadis tersebut yang tampak gemetar karena menahan isak itu.
"Kau bodoh hiks." Ranti memukul pelan dada Leon.
"Aku membencimu hiks" Dia masih memukul dada pria tersebut.
"Ya aku bodoh." Gumam pria tersebut saat merasa bahwa pukulan gadis itu mulai melemah. Perlahan dirasakannya hembusan nafas teratur dari gadis yang saat ini berada didekapannya itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Leon ikut membaringkan tubuhnya tepat disamping gadis tersebut. Matanya hanya menatap wajah gadis itu yang saat ini sedang tenang karena tidurnya yang pulas.
"Drtt,drtt,drtt" Ponsel Leon berbunyi beberapa kali hingga akhirnya pria tersebut memutuskan untuk menerima panggilan tersebut setelah melihat nama Martin tertera disana.
"Halo bos kami sudah menangkap semua yang terlibat pada kejadian kemarin itu bos. Salah satu dari mereka bernama Iwan dan saya pikir dia mungkin buka hanya sekedar pencopet biasa karena ia mengetahui tentang King."Jelas Martin di ujung sambungan telpon tersebut.
"Hmm baiklah jaga mereka baik-baik sampai aku datang ke sana dan ya cari orang tua dari anak yang sudah kukirim fotonya padamu itu." perintahnya tanpa mau dibantah itu.
"Oh dan juga urus dua orang penjahat yang tadi kutemui di taman kota" Sambungnya yang membuat leon memejamkan matanya untuk sementara.
"Berikan mereka semua siksaan yang berat sampai aku datang," Lanjutnya dengan ekspresi datarnya tersebut.
"Baik bos" Jawab Martin yang berada di ujung sana.
__ADS_1
'Dasar orang bodoh kenapa coba mau mencari masalah dengan pria dingin itu, ya kalian akan mati ditangannya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa rupa mereka nanti huh.' pikir Martin yang saat ini kembali berjalan menemui seluruh anak buahnya agar mencari orang-orang yang disuruh oleh Leon tersebut.
Sedangkan Leon kembali membaringkan tubuhnya disamping tubuh gadis tersebut. Tangannya perlahan mulai memilih rambut panjang gadis itu dijarinya. Lama hal itu ia lakukan hingga akhirnya sang empu ikut tertidur menyusul Ranti yang telah lebih dulu terlelap itu.
Pagi yang cerah dihari yang baru itu,Ranti mulai menggerakkan tubuhnya untuk mencari posisi ternyaman dalam tidurnya.
"Hmm" Gumamnya pelan saat merasakan kehangatan dari sesuatu yang memeluknya itu.
Seperti biasa gadis tersebut terus saja merapatkan kepalanya kearah benda itu. Sedangkan Leon dengan mata terpejam mengelus punggung gadis tersebut agar kembali tertidur.
Jelas saja bukannya bangun Ranti justru kembali tertidur dengan lelap. Sedangkan leon yang sebenarnya sudah bangun itu malah enggan untuk berpindah dari kasur itu.
Lama mereka kembali tertidur hingga sebuah ketukan pintu membangunkan Ranti dari tidurnya.
"Tok,tok,tok" Ranti sontak mengerjabkan matanya. Sedangkan Leon masih pura-pura tidur dalam hatinya ia sungguh mengutuk seseorang yang saat ini sedang mengganggu paginya yang cerah itu.
Gadis itu mengerjabkan matanya dengan cepat saat melihat posisinya dan Leon yang benar-benar intim tersebut. Walaupun sudah beberapa kali hal ini terjadi namun gadis itu masih belum terbiasa dengan hal itu.
Tak mau berpikir panjang Ranti segera mendudukkan dirinya diatas kasur tersebut berniat untuk melihat siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya itu.
Langkah kakinya perlahan membuka pintu, ya walaupun saat ini ia harus menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya tersebut. Perlahan dengan pasti gadis itu membuka pintu kamarnya.
"Kakak!" ucap seorang anak laki-laki bersama dengan Nita.
"Maaf mengganggu waktu anda nyonya, dari tadi anak ini merengek ingin bertemu anda." Jelas Nita yang tidak berani mengangkat kepalanya itu. Ia sebenarnya bukan takut terhadap Ranti namun takut dengan singa yang pastinya masih berada di kamar tersebut.
"Oh ya sudah tidak apa, sini biar aku yang menjaganya." Jawab Ranti dengan tenang.
"Tidak,aku tidak setuju." Sahut seseorang dari dalam kamar tersebut.
__ADS_1