
"Ada apa Martin kenapa kau seperti habis berlari saja." Alexia menatap kesal pada Martin. Sedangkan Martin hanya menggelengkan kepalanya mencoba mengatur nafasnya kembali.
"Cepat katakan Martin aku sibuk!" Kali ini Leon yang berbicara karena ia mau menemui Ranti.
Karena malas menunggu penjelasan Martin yang lama akhirnya pria tersebut berjalan hendak meninggalkan Martin.
"VILA DEKAT PANTAI KEBAKARAN TUAN!" Ungkapnya dengan suara lantang.
...****************...
Dengan sekuat tenaga Leon berlari menuju arah dimana mobilnya terparkir. Saat ini ia merasa bahwa dunia akan benar-benar runtuh. Laki-laki itu merasakan rasa tidak enak didalam hatinya. Membayangkannya saja bisa membuatnya gila.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang seharusnya setengah jam itu malah menjadi hanya 15 menit saja di tempuh oleh laki-laki itu.
"Cepat evakuasi orang-orang yang ada didalam!." Teriak orang-orang yang ada disana.
__ADS_1
Laki-laki itu dengan cepat mencari diberbagai penjuru tempat itu tapi hasilnya tetap nihil. Dapat ia lihat bagaimana kamarnya yang merupakan. lantai paling atas itu yang memiliki api yang paling besar.
"HAI KAU DIMANA DIA? DIMANA ISTRIKU!!"Teriak Leon dengan menarik keras salah satu penjaga yang ia perintahkan untuk menjaga gadis itu.
"Sa-saya ti-tidak tau tuan." Jawabnya dengan tubuh yang gemetaran ia tau betul bahwa hidupnya akan benar-benar berakhir.
"AKH....KALIAN SEMUA DIMANA DIA ?DIMANA ISTRIKU!" Teriak Leon tidak terima. Tapi orang yang ada disana hanya terdiam tanpa menjawab sedikitpun. Mereka semua memang tidak ada yang melihat Ranti meninggalkan villa tersebut pada saat kebakaran.
"SIALAN!!" Umpatnya lalu berjalan kearah villa yang terbakar itu. Leon tidak mempedulikan api besar yang melalap villa tersebut.
"BOS!! BERHENTI BOS APA ANDA SUDAH GILA!N" Seru Martin yang membawa Leon untuk menjauh dari kobaran api itu.
"LEPASKAN AKU MARTIN ATAU KAU AKAN KUBUNUH, AKU HARUS MENOLONG RANTI DIA PASTI KESULITAN DIATAS SANA!." Ungkap pria tersebut yang dengan mudahnya berhasil lolos dari Martin dan juga anak buahnya yang ingin menghentikannya.
"DUARRRR" Suara ledakan dari dalam villa itu yang membuat Leon terlempar pada saat ingin memasukinya.
__ADS_1
"TUAN!"
"BOSS!!"
Leon merasakan sakit di seluruh tubuhnya saat merasakan bahwa tubuhnya yang terpental beberapa meter itu. Tapi dengan sekuat tenaga ia kembali mendekat kearah villa tersebut.
"DUARR." Kali ini kamar Leon yang menjadi sumber ledakan semua orang menatap iba pada Leon yang tiba-tiba saja bertumpu pada lututnya akibat kakinya yang tidak lagi mampu menopang tubuhnya.
"Hiks,Hiks,hiks aku minta maaf, aku minta maaf Ranti hiks hiks." Pria tersebut menangis dengan tanpa ragu walaupun banyak orang yang menontonnya.
"Bos anda harus tenang..." Ujar Martin mencoba untuk menghibur Leon.
"HIKS,HIKS katakan bahwa ini mimpi Martin! KATAKAN MARTIN! INI HANYA MIMPI KAN! Aku mohon katakan bahwa ini mimpi Martin dia tidak mungkin meninggalkanku...AKH...." Pria tersebut terlihat sangat frustasi dengan keadaan saat ini.
"KENAPA KAU JUGA MEREBUTNYA DARIKU HA! APA KAU TIDAK PUAS MENYIKSAKU HA! TAKDIR SIALAN APA YANG TELAH KAU BUAT UNTUKKU!" Pria tersebut berteriak sambil menatap langit malam itu.
__ADS_1