Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Rumah Hantu 1


__ADS_3

"Jangan pulang dulu, emm mari pergi ke rumah hantu bagaimana?" Tawar laki-laki itu yang membuat Ranti tersenyum cerah.


"Benarkah?" Tidak ada jawaban dari pria itu yang ada hanya anggukkan kecil yang ia berikan namun sudah berhasil membuat Ranti sangat bahagia.


"Baiklah jika begitu mari kita pergi ke rumah hantu yey..." Ucapnya sedikit menjerit lalu menarik tangan Leon agar mengikutinya.


Leon sedari tadi hanya diam memperhatikan bagaimana tangannya dan Ranti yang saling bergandengan itu. laki-laki itu benar-benar merasakan bahagia dengan apa yang mereka lakukan saat ini.


"Kita sudah sampai dan ini juga sudah ada tiketnya jadi mari kita masuk." Ajak Ranti yang sudah tidak sabaran itu.


...****************...


Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke dalam tempat itu. Mata Ranti menelisik tempat gelap dengan suara-suara menyeramkan itu


"Ka-kau takut tuan, te-tenang aku akan melindungi mu." Ucap gadis itu dengan terus memegang tangan Leon.


"Kulihat kau yang takut disini." Jawab pemuda itu dengan senyum mengejek yang tidak dapat dilihat jelas oleh Ranti.


"A-aku tidak takut, untuk apa takut dengan orang kan? ini semua kan hanya bohongan." Jawab Ranti dengan nada yang sedikit gemetar.


"Benarkah begitu?." Tanya pria itu.


"Tentu saja." Jawabnya dengan pasti.


"Kau tau aku pernah dengar jika tempat ini dulu jadi tempat pembantaian satu keluarga. Tapi oleh pihak hiburan dibangun rumah hantu agar lebih terasa mistisnya." Ujar pria tersebut dengan wajah yang serius.


"Ma-mana ada yang seperti itu." Jawabnya.


"Akh......." Jerit gadis itu saat melihat wanita dengan rambut panjang tiba-tiba muncul dihadapannya.


"CEPAT LARI!!" Teriaknya tanpa sadar ikut menarik Leon bersamanya. Laki-laki itu hanya mengikuti kemana arah gadis itu membawanya tanpa berniat untuk melawan sedikitpun.


"Cepat!Cepat kita harus bersembunyi tapi dimana?Leon bantu aku mikir jangan diam." Ucapnya dengan panik sehingga memanggil pria tersebut tanpa embel-embel tuan lagi.


"Kenapa harus sembunyi? Bukankah kau bilang itu hanya manusia biasa tadi?." Tanya pria itu.

__ADS_1


"Hais kau tidak tau yang tadi itu beneran tau, kau lihat saja betapa menyerahkannya tadi. Aku yakin ini benar-benar tempat pembantaian seperti yang kau katakan tadi." Ucapnya masih dengan nada paniknya.


"Kau percaya?" Tanya Leon dengan alis yang ia naikkan tersebut.


"Aku percayalah tadi itu pasti hantu beneran. Astaga..." Ucap Ranti yang masih menempel pada pria tersebut.


"Si bodoh ini sangat mudah ditipu, kupikir setidaknya ada pintarnya sedikit ternyata nol besar." Gumam Leon dengan nada yang hanya dapat ia dengar sendiri.


"Kau bilang apa?" Tanya Ranti saat merasa mendengar bahwa laki-laki itu sedang berbicara sesuatu.


"Tidak ada aku tidak bilang apa-apa. Tapi satu hal yang harus kau ingat kedepannya jangan mudah percaya dengan orang lain mengerti!" Ucap pria tersebut dengan nada seriusnya.


"Iya iya aku mengerti tapi sekarang kita harus sembunyi.Ayo cepat lari dari sini!." Ajak gadis itu yang langsung menarik tangan Leon dengan cepat.


Sepanjang jalan hanya ada suara teriakan dari gadis itu. Dan jangan lupakan teriakan itu tepat didekat telinga Leon hingga rasanya gendang telinga pria itu dapat pecah dibuatnya.


"Ayo masuk sini!" Ucap gadis itu saat menemukan sebuah lemari disana.


"Disini?" Tanya pria itu.


"Iya disitu, Jika tidak mau dimana lagi. Cepat masuk nanti zombie itu datang ke sini." Ucap Ranti dengan sangat serius.


"Brak" Pria yang berperan sebagai zombie itu membuka pintu ruangan yang terdapat Leon dan Ranti didalamnya. Walau saat ini mereka tengah bersembunyi dari zombie itu.


"Deg"


"Deg" Suara jantung Leon yang berdebar saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh dadanya. Sejenak akalnya terus berpikir dan menebak benda apakah itu hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.


"Bisakah kau menjauh sedikit dariku." Ucap pria itu dengan nada yang hampir berbisik itu.


"Tidak bisa, nanti ketauan." Ranti menjawab dengan santainya tanpa menyadari posisi mereka yang sangat berbahaya saat ini. Bagaimana tidak berbahaya jika saat ini gadis itu menempel padanya. Bahkan tidak ada lagi jarak diantara mereka.


'Sialan ! ' Umpat pria itu dalam hati saat menyadari bahwa imannya memang diuji untuk saat ini. Leon Bahkan menggenggam erat kedua lengannya hingga kuku kukunya memutih akibat dari genggamannya sendiri.


"Jangan bergerak atau kau akan menyesalinya." Lanjut pria tersebut saat menyadari bahwa gadis itu tidak bisa diam sama sekali.

__ADS_1


"Leon diamlah suaramu terlalu besar." Ucap gadis itu yang memang dalam kondisi panik jadi ia tidak akan memikirkan hal lainnya kecuali menghindar dari mahluk yang mengejarnya saat ini.


"Jika kau terus bergerak bukan zombie itu yang memakanmu tapi aku yang akan memakanmu." Ancamnya.


"Ish apaan sih."


"Akh..." Teriak Ranti saat tangan pria itu tiba-tiba saja mencengkeram erat pinggangnya hingga saat ini ia dan Leon benar-benar sangat dekat.


"Deg"


"Deg" Jantung Ranti berdebar kencang saat melihat manik mata hitam itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


"I-itu..."


"Sudah sadar sekarang?" Tanyanya dengan suara yang tampak berat itu.


"Le-lepas." Ucap Ranti terbata saat menyadari sesuatu yang tidak-tidak dalam otaknya.


"Bukankah kau harus bertanggung jawab dulu?" Tanyanya kembali dengan suara berat itu.


"Anu i-itu.." Gadis itu benar-benar tidak dapat berpikir dengan jelas saat ini.


Perlahan dengan pasti wajah Leon mulai mendekat kearahnya. Gadis itu dengan pasrah hanya bisa memejamkan matanya tanpa berani melihat sedikitpun.


"Brak"


Pintu lemari dibuka lebar oleh Zombie jadi-jadian itu. Mendadak suasana langsung berubah menjadi canggung. Sedangkan zombie itu jangan tanya ekspresi nya langsung memerah saat melihat kejadian tersebut.


"Emm kalian lanjutkan aku akan pergi hehehe." Ucapnya dan langsung berlari dari ruangan itu meninggalkan Ranti dan juga Leon yang masih setia didalam lemari itu.


'Hampir saja terjadi hadehhh... terimakasih zombie kau lah penyelamat ku.' Pikir Ranti yang merasa sangat bersyukur dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan pria itu memasang muka masam tanpa mau melihat kearah gadis tersebut.


'Mahluk sialan, mengganggu saja shiitt..' Umpatnya yang merasa benar-benar kesal. Ingin rasanya pria tersebut menembak kepala Zombie jadi jadian itu.


"Door"

__ADS_1


"Akh..." Suara tembakan tiba-tiba berbunyi dari luar ruangan tersebut membuat Ranti secara cepat membulatkan matanya. Sedangkan Leon hanya menaikkan satu alisnya.


"Ternyata ada yang ingin bermain-main disini ya ? Baiklah mari kita ladeni." Gumamnya dengan aura membunuh tersebut.


__ADS_2