Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Penawaran


__ADS_3

"Ya nggak lah." Ucap Leon yang membuat Ranti bagai disambar petir itu.


"Jangan kaget begitu dong, aku belum selesai ngomong. Kamu itu nggak akan pernah jelek Dimata aku mau kamu udah nenek-nenek atau bagaimana bentukmu aku akan menganggap kamu paling cantik. Karena yang aku lihat itu dari sini." Jelas Leon lalu menunjuk dada Ranti.


"Kamu suka susu aku." Ujar Ranti yang langsung membuat Leon menepuk jidadnya.


"Bukan itu sayangggg, tapi dari hati maksudnya." Jelas Leon dengan penuh kesabaran.


...****************...


"Sial kita datang terlambat Xia." Ungkap Martin ketika melihat gubuk kosong didepannya.


Alexia tidak menanggapi gadis itu hanya terus berjalan masuk kedalam tempat itu.


"Semuanya berdebu."Keluh Martin saat melihat tempat itu yang tidak terurus sama sekali.


"Diamlah Martin." Perintahnya kepada laki-laki itu.


"Kenapa ?"Tanyanya yang tampak bingung.


"Ada suara." Jelas Alexia.


"Tak, tak, tak." Suara seperti jam terdengar samar.


Setelah mendengar hal itu Alexia sedikit membeku.


"Sialan!." Umpatnya lalu berlari keluar dari rumah itu dengan terus menggandeng Martin dibelakangnya.

__ADS_1


"Hei Xia! Ada apa?"Martin tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Kita harus lari jika tidak mau mati konyol." Ungkap Alexia.


"Ha?." Tampak pria itu masih tidak mengerti.


"DUARR!!" Rumah itu hancur berkeping keping lalu terbakar begitu saja.


Martin menoleh kebelakang lalu membulatkan matanya.


"Awas Xia!..." Mereka terpental cukup jauh akibat dorongan dari ledakkan itu.


Saat ini tempat itu tampak berantakan sedangkan tampak sosok Martin dan juga Alexia yang terluka akibat ledakkan itu.


"Martin!!HEI MARTIN! BANGUN SIALAN!."Alexia mencoba untuk mengguncang tubuh Martin yang tampak penuh luka itu karena telah melindunginya dengan cara memeluknya pada saat ledakkan itu.


"Keadaannya memburuk bagaimana ini?." Alexia tampak sedikit panik melihat rekannya itu sedang diambang maut.


"Prok,prok,prok." Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar. Segera gadis itu Melihat kearah sumber suara.


"Sungguh teman sejati." Ucap pria yang datang bersama dengan beberapa orang dengannya. Mereka semua tampak memegang pistol bersamanya. Alexia bukanlah gadis bodoh yang tidak tau apakah mereka musuh atau teman.


"Siapa kalian?." Tanyanya dengan nada dinginnya.


"Hmm kami tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan darimu." Jawabnya lalu mengarahkan pistol kearah Alexia.


"Bajingan sialan!."Umpat Alexia.

__ADS_1


"Hahaha kau sudah sangat takut." Alexia hanya diam mendengar perkataan dari laki-laki itu.


"Apa maumu?." Tanya gadis itu.


"Akhirnya kau peka juga." ucapnya.


"Jangan bertele-tele."


"Aku ingin tau apa kelemahan dari bosmu itu, tepatnya sang king." Ucapnya dengan senyum liciknya.


"Hanya itu?" tanya Alexia.


"Iya cukup itu dan jika kau mau memberi tahukan kami. Maka aku akan membawa teman baikmu itu segera menemui dokter." Tawarnya yang membuat Alexia berpikir sejenak.


"Baiklah tapi sebelum itu aku mau bertanya siapa yang telah memerintahkan kalian?." Tanyanya.


"Kenapa kau ingin tau."pria itu tampak mengerutkan dahinya.


"Huh, setelah aku mengatakan kelemahan dari king otomatis aku akan dibunuh olehnya karena berani berhianat bukan? oleh sebab itu aku berencana untuk menjadi anak buah dari bos kalian juga." Jelasnya.


Pria itu tampak menganggukkan kepalanya merasa setuju dengan pernyataan dari gadis itu.


'Anggap saja ini agar gadis bodoh ini mau memberi tahukan apa kelemahan king setelah dia memberi tahukan tentang king maka aku akan langsung membunuhnya. Sehingga bos tidak kan takut terbongkar identitasnya.' Pikirnya.


"Baiklah."Jawab pria itu.


Tidak ada respon dari Alexia ia justru m Mandang tajam kearah pria tersebut.

__ADS_1


"Dia adalah James." Ungkap pria itu.


__ADS_2