Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Sadar


__ADS_3

"Sayang hiks ayo bangun hiks... me-mereka bilang bahwa kau sudah pergi hiks me-mereka sangat bodoh jelas-jelas kau masih akan menua bersamaku. ki-kita hiks akan memiliki banyak anak dan kita akan hidup sampai tua bersama hiks kumohon jangan tinggalkan aku hiks...." Ujarnya dengan memeluk tubuh itu.


Sedangkan di tempat Ranti ia saat ini sedang mengikuti nenek itu menyebrangi sungai yang sangat indah dengan perahu yang juga indah.


"Sebentar lagi kita akan sampai dan kau akan bahagia selamanya." Ujar nenek itu dengan bahagia.


Ranti tidka menjawab sepanjang jalan ia benar-benar merasa berat seperti ada sesuatu yang membuatnya merasa berat untuk pergi.


Dia akhirnya melirik kearah taman bunga Daisy yang tadi ia tempati. Tiba-tiba saja angin berhembus kuat membuat gadis itu melihat kearah bayangannya yang ada di atas air. Sejenak Ranti terdiam saat melihat bayangan itu.


"Nenek...maaf" Ujarnya lalu melompat kedalam sungai tersebut.


...****************...


Saat ini ruangan itu tampak dipenuhi duka, pria itu terus menangis tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya.


"Hiks,hiks,hiks" Isak nya yang saat ini membenamkan wajahnya di ceruk leher milik gadis itu.


"Jangan menangis....kau tidak malu." Nada pelan tapi lembut terdengar jelas ditelinga laki-laki itu.


Orang-orang yang melihat hal tersebut terdiam karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Di....dia ?"


"Diamlah." Ujar Amelie menenangkan Martin yang sangat terkejut.


Leon perlahan menjauhkan dirinya dari ceruk leher Ranti lalu manik mata tersebut bersinar kala menghampiri tatapan sendu gadis itu.


"Ka-kamu kembali" Ujarnya sebelum memeluk kembali gadis itu.


"Iya aku kembali." Jawabnya.


"Hiks, hiks, syukurlah hiks syukurlah..." Ujarnya yang masih memeluk gadis itu.


FLASHBACK ON


"Nenek...maaf" Ujarnya lalu melompat kedalam sungai tersebut.


"Kenapa nak ?Tanya nenek dengan senyuman tulusnya.


"Ranti belum boleh pergi nek, walaupun banyak masalah yang menunggu tapi Ranti masih mau tetap hidup, Ranti masih ingin melihat anak Ranti tumbuh dan juga tidak semua sahabat Ranti yang mengkhianati Ranti nek masih ada dan banyak sekali yang sayang dengan Ranti. Dan untuk mamak dan bapak...Mereka orang baik pasti mereka mengerti serta untuk Leon..." Gadis itu menjeda kelimatnya.


"Untuk Leon, Ranti ternyata sangat mencintainya nek jadi... walaupun nanti dia menggianati atau membohongi Ranti..."

__ADS_1


"Ranti tetap bahagia,..." Ujarnya dengan senyuman.


Mungkin orang-orang akan menilai dirinya bodoh atau lainnya. Tapi begitulah Ranti, dia tidak akan mudah untuk membenci orang yang sudah pernah singgah dihatinya.


"Inilah cucuku dia sangat baik..." Ujar nenek Ranti menepuk pundak gadis itu.


"Nenek harap kau selalu bahagia..." Ujarnya sebelum cahaya menelan mereka berdua.


"terimakasih nek." Ujar Ranti.


Bau obat langsung menyeruak memasuki indra penciumannya. Gadis itu merasa ada sesuatu yang memeluk tubuhnya dan samar-samar ia dapat mendengar suara Isak tangis yang sangat dekat.


Mata yang tertutup akhirnya terbuka tapi ia sedikit memejamkan matanya lagi saat cahaya itu masuk ke matanya. "Silau" satu kata itulah yang menggambarkan kondisi penglihatannya saat ini.


'Berat...astaga siapa ini? kenapa dia?'


'Leon..?" Sadarnya.


FLASHBACK END


"Kamu sadar hiks..akhirnya....aku pikir hiks..." Ujar pria itu dalam Isak tangisnya.


"Leonnnn jika k-kau memelukku sekuat ini, makaa aku akan mati karena sesak nafas ugh.." Ujarnya dalam dekapan Leon.


"Huhh" Ranti menghela nafas panjang saat pria itu melepaskan dirinya.


Setelah itu suasana sedikit hening sedangkan pasutri tersebut hanya saling bertatapan.


"Jangan melihatku seperti itu,..." Ujar Ranti kala melihat bagaimana pria itu menatapnya. Bagaimana bisa seorang Leon yang hebat melihatnya seperti anak anjing minta di elus. Ranti terus berpikir apa pria ini bertingkah menyedihkan karena tidak boleh memeluknya.


"Memang aku kenapa ?" Tanyanya dengan wajah yang masih memerah akibat menangis.


"Jangan dipikirkan, sekarang aku tanya ada apa dengan keadaanmu, lihat itu kau sangat berantakan." Ujar Ranti saat melihat rambut yang biasanya rapi itu kini seperti orang yang habis bangun tidur belum lagi dengan rambut yang mulai tumbuh di daerah dagu dan di bawah hidung mancung pria tersebut.


"Kamu kenapa sih sayang....ini semua karena kamu yang nggak mau bangun." Ujar Leon dengan memajukan bibirnya. Sungguh istrinya ini bukanlah tipe orang yang bisa diajak romantis.


"Kenapa gara-gara aku ? kan aku nggak ngapa-ngapain.." Jawabnya dengan cepat.


"kamu tidak akan mengerti..." Ujar pria itu lalu membalikan mukanya enggan menatap Ranti yang saat ini masih berbaring santai.


"Ya udah." Jawab Ranti.


"Hiks, hiks" Suara Isak tangis terdengar jelas di telinga Ranti.

__ADS_1


'Eh siapa yang nangis ?' Pikir Ranti yang saat ini sedang memejamkan matanya.


Perlahan gadis itu membuka matanya, mencari sumber suara tersebut hingga akhirnya ia menyadari jika suara itu berasal dari pria yang berdiri membelakanginya.


'dia nangis lagi? hadehhh...' Pikir Ranti. Dan sepertinya ia tau sebab dari kejadian ini.


"Cup cup cup sudah jangan menangis." Ujar Ranti yang langsung mengelus rambut pria tersebut dari belakang.


"Aku tidak nangis hiks, hiks nggak nangis kok." Ujarnya namun Isak tangis masih terdengar jelas.


'Jelas-jelas itu lagi nangis tapi bilangnya nggak, dasar pria aneh untung cinta.' Pikir Ranti tapi apa yang dilakukan pria tersebut cukup ia sukai.


"Iya iya kau tidak menangis....hmm bagaimana jika kau jangan membelakangi ku, soalnya aku mau di peluk." Ujar Ranti dengan lembut.


Tidak ada respon dari pria itu tapi dapat Ranti lihat dari belakang jika laki-laki itu mencoba untuk menghapus air matanya.


"Ya sudah kalau nggak mau, nggak apa-apa aku mau tidur aja." Ujarnya dengan santai.


"Nggak boleh....aku mau meluk..." Ujar Leon yang langsung memeluk Ranti tapi kali ini tidak kuat.


"Hahaha bayi besar ku yang lucu." Ujar gadis itu.


"Aku bukan bayi besar." Tolak Leon yang masih berada di dalam pelukannya.


"Benarkah ?"


"Iya..aku bukan bayi besar."


"Bayi besar ku marah rupanya." Ranti sangat suka menggoda pria tersebut.


"Aku bukan hmm"


"Iya iya bukan hahahaha."


"Sayang...."Rengek Leon saat Ranti dengan senang terus meledeknya.


"Baiklah-baiklah aku akan berhenti hehehe jangan ngambek nanti nggak ada yang mau loh." Ujar Ranti yang saat ini sudah berbaring tapi dengan pria itu yang sudah ikut naik keatas ranjangnya. Lalu memeluknya dan membenamkan wajahnya di dada gadis itu.


"Biarin...cukup kamu aja yang suka. Yang lain aku nggak perduli." Ujarnya.


"gombal" Ujar gadis itu dengan senyuman di wajah pucatnya.


"Ehem...apakah kalian berdua tidak menganggap ada makhluk lain di ruangan ini ?" Tanya Martin yang memang menjadi penonton disana bersama dokter dan juga Amelie.

__ADS_1


__ADS_2