
"Door" Martin menembakkan peluru tepat mengenai betis pria itu membuatnya jatuh tersungkur dengan karung yang tampak berisi Manusia terjatuh begitu saja.
"Cepat selamatkan nyonya!" Perintah Martin.
Mereka dengan cepat membuka ikatan karung tersebut namun dengan cepat mereka membulatkan matanya karena terkejut.
"Sial kita ditipu!" Umpat pria itu saat melihat bukan Ranti yang berada di dalam situ melainkan hanya seorang pelayan biasa.
...****************...
Suasana tampak kacau diberbagai tempat, semua tampak terjebak dengan masalahnya masing-masing.
"Hmm" Alexia tersenyum kecil kala melihat pistol yang mengarah padanya.
"kenapa kau tertawa?" Tanya laki-laki itu sedikit kebingungan.
"Karena kau bodoh."
"Jleb"
"Akh" Pria itu menjerit kesakitan saat Alexia dengan cepat melemparkan sebuah pisau kepadanya.
"Sudah ku bilang kau bodoh." Ujar gadis itu dengan mengambil pistol milik pria tersebut yang terjatuh karena ulahnya tadi.
"Jika kejadiannya seperti ini maka aku harus memotong ibu jari dan juga jari telunjukmu kita lihat apakah kau masih bisa menggunakan senjata ini lagi."
"Ti-Tidak aku mohon jangan lakukan itu." Pinta pria itu.
__ADS_1
"Tidak aku mohon."
"AKH KAU MEMANG IB- IBLIS" Teriaknya saat Alexia mulai memotong jari-jarinya. Hanya ada teriakan dari pria itu namun Alexia seakan-akan menikmati hal tersebut walau darah ikut mengenai wajahnya.
Pria tersebut tersungkur dengan darah yang menyelimuti tangannya. Lidahnya seakan kaku tidak dapat berkata lagi karena terus berteriak.
Disisi lain Martin tengah sangat panik dengan apa yang terjadi saat ini. Bagaimana mungkin ia salah mengejar orang dan mereka ditipu seperti ini.
"Bos akan benar-benar membunuhku kali ini." Gumamnya dengan penuh frustasi.
"Bos saya menemukan sebuah surat dari mayat itu." Ucap salah satu anak buahnya itu.
Dengan cepat Martin mengambil surat itu lalu membukanya dengan cepat. Setelah membacanya Martin membulatkan matanya karena terkejut.
"Ini..." Ucapannya.
"Hais mobil sialan tidak bisakah lebih cepat!!" Ujarnya dengan kesal.
Tapi beberapa saat kemudian dia dapat tiba disana dan melihat bagaimana orang itu membawa Ranti yang dalam keadaan tidak sadarkan diri memasuki helikopter itu.
Leon dengan cepat turun dari mobilnya sedangkan anak orang-orang yang melihatnya sibuk menyerangnya dengan banyak peluru.
"Door."
"Door"
"Door" Baku tembak terjadi namun kali ini pria itu hanya seorang diri tapi bagi Leon adalah hal mudah mengalahkan mereka semua tapi hal terpenting saat ini bukan untuk mengalahkan orang itu tapi membawa Ranti sebelum helikopter itu berangkat.
__ADS_1
Ranti yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri karena pengaruh obat perlahan mulai membuka matanya.
"Ugh..." Rintihnya saat merasakan sedikit pusing. Perlahan pandangannya mulai jelas dengan suara keributan itu mulai menghiasi indera pendengarannya.
Tak lama ia sadar dengan siapa yang saat ini sedang berdiri disana melawan begitu banyak orang.
"Leon..." Gumamnya.
Ranti ingin melangkah untuk pergi kearah pria itu namun seseorang menahan tangannya dengan kuat.
"KAU SIAPA, LEPASKAN AKU!! AKU INGIN BERSAMANYA LEPAS!!" Teriak gadis itu yang dapat didengar oleh Leon yang masih sibuk dengan pria-pria yang tengah menahannya itu.
"Ranti..." Gumamnya.
"LEON AKU TIDAK MAU PERGI, KU MOHON LEPASKAN AKU!!" ujarnya dengan lantang.
Hingga akhirnya Helikopter itu mulai terbang ketika Leon yang juga telah selesai mengurus orang-orang itu.
Leon dengan sekuat tenaga berlari kearah Helikopter itu lalu melompat dengan sekuat tenaga tapi ia tidak bisa menjangkaunya. Pria itu terduduk diatas pasir pantai itu dengan keadaan yang kacau bahu kanannya yang terus mengeluarkan darah dan bajunya yang juga berantakan.
"Aku tidak berguna..." Gumamnya dengan menatap sedih kearah Ranti yang terus berteriak memanggil namanya.
"LEON HIKS LEPAS AKU TIDAK MAU IKUT DENGANMU!! LEPAS! LEON...!HIKS" Ranti menangis saat melihat bahwa Leon sama sekali tidak bisa menjangkaunya.
"BUGH" Pria itu memukul tengkuk Ranti menyebabkan gadis itu pingsan seketika.
"Leon maaf..." Gumamnya sebelum menutup mata.
__ADS_1