
Samar-samar Leon merasa bahwa ada orang yang membawanya dari kerumunan lalu setelah itu ia sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Ranti...."Gumamnya.
Sedangkan di dalam ruangan Ranti tampak para dokter tengah sibuk menyelamatkan gadis itu.
"Kita membutuhkan donor darah untuk pasien sesegera mungkin, dia terlalu banyak kehilangan darah."
"Baik dok,.."
Di tempat lain tampak dokter juga menangani Martin, Amelie dan juga Leon yang keadaannya juga tidak baik sama seperti Ranti.
"Andai saja aku bisa datang sedikit lebih cepat." Gumam Darwin yang merasa sangat bersalah itu.
...****************...
Hari berlalu dengan begitu cepat dan kejadian beberapa hari lalu membuat seorang pria tampak masih terbaring di atas kasur rumah sakit itu.
"Ukh"
Kelopak mata yang senantiasa tertutup akhirnya terbuka juga menampilkan manik mata tajam bewarna hitam itu.
"Dimana ?" Gumamnya yang masih tampak kebingungan.
"Tuan akhirnya anda sadar juga." Ucap seorang wanita dengan pakaian perawat yang baru saja tiba tersebut.
"Saya akan panggilkan dokter dan keluarga anda." Ucapannya.
Tidak ada jawaban dari pria itu, ia hanya diam sambil mengingat kejadian yang telah ia alami beberapa hari yang lalu serta bagaimana ia dapat berada di tempat itu.
"Ranti." Gumamnya saat mengingat kejadian itu. Leon mencoba untuk bangun, ini bukan waktunya untuk beristirahat saat istri tercintanya masih belum ia ketahui keadaannya saat ini.
"Akh" Pria itu mencoba untuk berdiri tapi itu justru membuatnya kesakitan.
"Apa yang tuan lakukan, anda masih sakit dan belum diperbolehkan untuk banyak bergerak," Tegur pria tua dengan pakaian khas dokter.
"Bukan urusanmu." Jawab Leon dengan hawa membunuhnya. Saat ini ia benar-benar harus menemui Ranti dan memastikan agar gadis itu tidak dalam bahaya.
"Sa-saya hanya menasehati anda." Ujar Dokter itu dengan gugup karena ia juga tau tentang bagaimana kekuasaan pemuda di depannya ini.
__ADS_1
"Kau!" Geram Leon.
"Ehem, ayolah Leon jangan membuatnya dalam kondisi yang sulit." Ujar Darwin yang baru saja datang dan tidak sengaja mendengar apa yang pria itu katakan.
"Dimana Ranti?" Tanya Leon yang sudah sangat penasaran dengan keadaan wanita itu.
"Emm dia baik." Jawab Darwin setelah berpikir sejenak.
"Apa maksudmu ?"
"Yaaaa dia baik, oh dan Amelia serta Martin juga sudah dalam keadaan baik. Mereka sungguh kuat bahkan mereka lebih dulu sadar dari pada kau." Ujar Darwin mencoba untuk mecari topik lain.
"Baguslah, jika begitu aku mau ketemu Ranti." Ujar Leon.
"Itu kau bisa menunggu nanti."
"Apa salahnya jika sekarang ?"
" Ya tidak apa-apa tapi kan kau masih belum boleh banyak bergerak, dan jika kau ingin bertemu dengannya berarti kau harus bergerak banyak kan." Bujuk Darwin. Ayolah membujuk keluarga satu-satunya ini memang sangat rumit. Mereka sepupu tapi kenapa sangat sulit untuk berhadapan dengan Leon.
"Jangan banyak bicara, aku bukan orang bodoh. Bawa aku ke tempat Ranti sekarang." Ujar Leon tampak kesal
'Terserah saja apa yang terjadi selanjutnya. Memang aku yang bodoh mencoba untuk mengelabuhi pria ini.' Darwin benar-benar merutuki kebodohannya yang luar biasa itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi Darwin!!"
"Haaahhh baiklah aku menyerah untuk membodohimu."
"Cepat!!"
"Ya ya ya sebenarnya pada saat itu kau jatuh pingsan, dan langsung dibawa ke UGD juga dan kau koma untuk beberapa hari. Sedangkan Ranti..." Darwin menjeda kalimatnya mencoba untuk berpikir bagaimana cara menjelaskan yang baik pada pria itu.
"Dan Ranti dia kehilangan banyak darah, tapi syukurlah bayi kalian sangat kuat seperti mu sehingga ia dapat bertahan."
Mendengar hal itu membuat Leon bisa sedikit bernafas lega.
"Tapi..."
"Apa yang tapi."
__ADS_1
"Tapi istrimu masih dalam keadaan koma hingga sekarang dan karena tubuhnya yang cukup lemah. Dokter mengatakan jika kemungkinan untuk dia bertahan hidup sangatlah kecil." Ujar Darwin
"Ka-kau bercanda kan? kau bohong kan? dia sangat Kuat bagaimana mungkin? KAU BOHONG KAN!! a-aku harus menemuinya dia pasti menungguku sekarang." Ujar Leon yang tampak histeris bahkan saat ini ia telah mencabut selang infus secara paksa dari tangannya itu.
"Tu-tuan saya mohon pikir kan kesehatan anda." Ujar Dokter itu.
"Diamlah!!" Ucap Leon dengan penuh emosi.
"A-aku harus pergi sekarang, Darwin cepat antar aku ke tempat Ranti !! oh kau tidak mau jika begitu aku bisa mencarinya sendiri!!" Ujarnya.
"Brak" Pria itu terjatuh saat hendak turun dari kasurnya.
"Tuan!"
"Leon!"
"Kaki sialan!!" Umpatnya yang saat ini tengah bersimpuh tersebut.
"Ini makanya aku melarang mu, huuuh aku harus bagaimana menghadapi sikap keras kepalamu ini." Darwin benar-benar kesal dengan sifat gila milik pria itu.
"Jadi aku harus diam saja gitu? kau pikir aku bisa, hanya diam disini menuggu dia pergi dariku ? kau gila!! Kau tau Darwin pada saat aku kehilangan keluargaku aku benar-benar rasanya ingin mati tapi aku tidak mati dan masih bisa bertahan. Dan jika aku kehilangan anakku saja aku pasti akan sangat hancur. Berbeda jika aku kehilangan Ranti maka aku akan ikut mati bersamanya. Dia satu-satunya alasan ku untuk bertahan di dunia yang memuakkan ini. hikss" Air mata turun begitu saja. Jujur saja Darwin tidak pernah melihat Leon yang serapuh ini.
"A-aku tidak bisa membayangkan hiks jika aku harus hidup tanpanya. A-aku hanya berharap dapat hidup bahagia dengan Ranti. A-aku berharap dapat melalui hari yang tenang dan indah bersamanya. A-aku hanya ingin ketika aku bangun pagi maka wajah indahnya yang akan pertama kali kulihat. A-aku tidak pernah berharap apapun dalam hidupku tapi untuk kali ini saja kenapa Tuhan juga tidak membiarkan aku bahagia hiks hiks." Ujarnya yang tampak Rapuh.
Sebenarnya di ruangan itu hanya ada Leon dan juga Darwin. Dokter dan juga suster itu sudah lama Darwin minta untuk keluar.
"Kau pasti bisa bertahan Leon begitu pula Istrimu itu." Hiburnya.
"Hiks, a-apa aku tidak pantas bahagia?"
"Kau pantas bahagia Leon, kau sangat pantas. Jadi sekarang tenangkan dirimu mari kita lihat Istrimu itu." Ujar Darwin. Sepertinya Darwin harus mengalah bagaimana pun dia harus mempertemukan Leon dengan Ranti dan mungkin saja itu dapat menghibur laki-laki itu.
"Baiklah." Jawab Leon dengan cepat.
'Kenapa Ekspresi nya cepat sekali berubah, ayolah dimana Leon yang cengeng tadi padahal dia sangat menyedihkan tadi tapi sekarang dia kembali membuat orang yang terlihat menyedihkan. Dasar psikopat gila.' Pikir Darwin dengan seluruh akal sehatnya.
"Cepatlah carikan aku kursi roda!!" Pintanya tidak sabaran.
'Oh ya tuhannn' Pikir Darwin dengan kesal.
__ADS_1