
Tak lama Alexia datang dengan orang-orang berbaju hitam bersamanya.
"Semuanya sudah siap bos tinggal menunggu eksekusi saja." Ucap gadis itu dengan hormat walaupun saat ini ia merasakan mual melihat mayat yang bertebaran disana.
"Mereka semua akan membayar dengan nyawa mereka." Ucapnya lalu berjalan menuju mobil yang sudah di sediakan dan pergi begitu saja di ikuti oleh Alexia dan orang-orang berbaju hitam yang merupakan pengikutnya yang sangat setia.
...****************...
Angin malam tampak semakin dingin di tambah dengan angin laut akibat hujan yang ikut menerpa. Tampak ombak sangat besar sehingga tidak mungkin bagi Martin mengantar Ranti untuk pulang.
Apalagi saat ini gadis itu hanya diam berdiri di ujung dermaga dengan menatap bintang malam itu.
"Huuuh kenapa bos sangat suka membuat dirinya dalam masalah." Gumam Martin dengan terus mengawasi Ranti. Karena bukan tidak mungkin gadis tersebut nekat dan lompat kedalam laut itu.
"Cuaca akan sangat buruk kami tidak mungkin pergi dari sini itu sama saja dengan bunuh diri." Martin memijit pelan keningnya memikirkan apa yang akan ia lakukan berikutnya.
"Martin..." Merasa namanya dipanggil laki-laki itu lalu menatap Ranti yang berjalan kearahnya. Masih jelas ia dapat melihat kesedihan dari mata gadis itu.
"Iya nyonya."
"Kapan kita akan pergi?" Tanyanya.
"Hmm sepertinya kita harus menundanya nyonya karena cuaca yang tidak mendukung." Jawabnya.
Ranti mendengar hal tersebut diam sesaat lalu tak lama senyum tulus terbit begitu saja namun tetap saja Martin tau jika itu hanya sebuah senyuman tanpa kebahagiaan sedikitpun.
__ADS_1
"Jadi kita akan menunggu sampai pagi disini, itu tidak buruk juga."
"Tidak nyonya mana mungkin seperti itu, disini sangat dingin anda bisa sakit jika berada disini terlalu lama." Ujar Martin
"Aku tidak apa kau bisa pergi bersamanya dan aku akan tetap disini."
"Ti-tidak nyonya anda harus ikut dengan saya ke kediaman tuan yang lainnya di pulau ini."
"maaf tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Kau tau sendiri Martin semuanya telah berakhir aku tidak berhak berada didekatnya lagi. Dia akan risih jika melihatku, dari tadi aku sudah memikirkannya bahwa ini bukanlah salahnya tapi..." Gadis itu menjeda kalimatnya lalu tersenyum kecut.
"Tapi apa nyonya?"
"Tidak nyonya anda..."
"hmm sepertinya cuacanya semakin memburuk lebih baik kah segera pergi martin." Ranti mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Saya bisa di bunuh jika meninggalkan anda disini nyonya, jadi mohon ikut dengan saya maka saya tidak akan membawa anda ke tempat yang memang tidak ingin anda datangi."
"Maksudnya?"
"Intinya anda ikuti saja saya." jawabnya dengan berjalan kearah mobil.
__ADS_1
"Ayo nyonya saya tidak ingin menjadi manusia es jika berdiri disana." guraunya.
Ranti tersenyum kecil lalu mengikuti Martin ke dalam mobil tersebut.
Sedangkan di tempat lain Leon benar-benar melakukan pembantaian ia membunuh banyak tetua yang suka ikut campur dan mencoba untuk menggulingkan kekuasaannya.
"Kau memang iblis Leonardo." Ucap pria tua yang saat ini telah bersimbah darah itu.
"Aku memang iblis dak kau mau apa?" Pria tersebut menatap tajam pada pria tua terhadap.
"Tuan sekarang semua tamu yang anda undang ke pulau ini sudah kita habisi semua. Rencana anda telah berhasil untuk menyingkirkan mereka selama setahun ini." Ucap Alexia.
Tidak ada jawaban dari pria tersebut ia hanya melangkah keluar dari ruangan yang sudah bersimbah darah itu. Tempat yang awalanya menjadi tempat dimana ia mengadakan rapat kini menjadikan tempat pembantaian besar besaran.
Laki-laki itu menatap keluar jendela dari mobil yang ia tumpangi saat ini.
'Ternyata semua akan terasa biasa saja padahal aku sangat ingin membalas mereka semua tapi ketika aku sudah melakukannya aku tidak bahagia. Rencana matangku selama setahun ternyata tidak sebahagia yang kubayangkan. Aku kembali sendiri dia sudah pergi dan itu terbaik untuknya.' Pikirnya.
Hingga akhirnya ia tiba dalam sebuah rumah yang memang masih rumahnya di pulau tersebut.
Dengan cekatan pria itu membersihkan dirinya untuk menghilangkan darah yang menempel pada tubuhnya itu. Saat ini pria tersebut hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya dan menampilkan tubuh bagian atasnya dengan rambut basah yang berkilau.
Taklama ia membuka laci yang terletak di samping tempat tidurnya. Diambilnya satu bungkus rokok yang terletak disana. Pada dasarnya Leon sering menghabiskan waktu luangnya untuk mengisap rokoknya tapi ia tidak pernah melakukan hal tersebut semenjak kedatangan Ranti dalam hidupnya. Karena dari penyelidikan yang ia lakukan pada gadis itu bahwa Ranti memiliki penyakit gangguan pernafasan dan tentu asap rokok sangat berbahaya bagi gadis itu.
Laki-laki membakar ujung rokoknya lalu menghisapnya perlahan. Dari jendela kamarnya ia masih dapat melihat suasana sunyi di pulau tersebut. Tak lama kunang-kunang mulai menghiasi pohon-pohon yang berada disana sehingga seakan-akan Leon melihat banyak bintang di atas pohon pohon yang mengelilingi tempatnya berada kali ini.
__ADS_1
"Dia akan bahagia jika bisa melihat ini." Gumamnya.