
"Jangan memujiku aku tidak sebaik itu." Ujarnya.
Hanya itu perbincangan mereka hingga akhirnya Leon sudah harus pergi ke negaranya. Jujur saja pemuda itu tampak senang dapat berkumpul dengan keluarganya lagi. Bayangan ayah, ibu dan juga adiknya yang manis selalu muncul di benaknya.
Hingga akhirnya setelah beberapa jam perjalanan ia tiba di sebuah rumah besar. Pemuda itu tampak senang mendorong kopernya dia bahkan membawakan oleh-oleh untuk keluarganya.
"Ibu, ayah, aca..." Panggilnya tapi tidak ada jawaban satu pun.
"Kemana mereka semua?" Gumamnya yang melihat rumah yang ramai itu menjadi sangat hening.
"Hmm pasti mereka membuat suprise untukku." Gumamnya dengan bahagia.
...****************...
Lama Leon mencari tapi tetap tidak ada siapapun di rumahnya. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pergi ke dalam kamar sang adik karena biasanya gadis kecil yang baru berumur 14 tahun itu pasti sedang ada di kamarnya.
"Aca..." Panggilnya tapi tetap saja tidak ada orang di kamar yang identik dengan tema princess itu.
Perasaan Leon semakin tidak enak, dia bukanlah orang bodoh yang tidak bisa berpikir saat ini rumahnya tidak terkunci sedangkan saat ini sudah jam 7 malam. Tidak mungkin orang rumah ini pergi dalam keadaan rumah terbuka .
"Ibu, ayah..." Panggilnya ketika tiba di kamar milik orang tuanya.
Namun hasilnya juga nihil, tidak ada siapapun disana kasur juga masih tampak rapi.
Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk menunggu di kamarnya saja. Ia masih berusaha berpikir jika keluarganya sedang keluar dan lupa untuk menutup pintu sedangkan pelayan bisa saja mereka semua sedang ada urusan.
"Cklek" pintu kamar Leon terbuka namun setelah pintu itu terbuka pria itu rasanya tidak bisa bernafas melihat pemandangan yang ada didepannya. Air mata menetes begitu saja tanpa bisa ditahan. Rasanya jantungnya seakan berhenti berdetak. Lantai dikamarnya yang awalnya berwarna putih kini telah merah. Leon dapat melihat dengan jelas sosok yang di carinya sedang berkumpul di kamarnya. Ayah, ibu dan juga adiknya yang saat ini sedang berpelukan tapi dengan peluru yang sudah tertanam di kepala mereka.
__ADS_1
"Hiks, hiks, a-ayah...hiks hiks bangun ayah hiks a-aku membawakan ayah makanan kesukaan ayah hiks ayah..." Tangisnya bahkan saat ini pemuda itu mengambil bungkusan makanan lalu membukanya di depan jasad pria tua itu.
"Ibu hiks, ibu bangun a-aku sudah pulang hiks ibu hiks anak nakal mu ini sudah pulang Bu hiks a-aku janji tidak akan melawan ibu lagi dan tidak akan pergi lagi hiks jadi kumohon ibu ba-bangun...ibuuuu." Tangisnya dengan terus menggoyangkan tubuh wanita paruh baya yang tampak sudah bersimbah darah itu. Tapi tak lama matanya melirik pada sosok gadis kecil yang sangat ia sayangi.
"Caaa" Panggilnya dengan lembut dan membelai pipi gadis itu yang sudah ternoda oleh darah.
"hiks ca Abang pulang ca, Abang beliin aca sesuatu ca hiks ca ja-jangan tinggalin Abang ca....hiks ca...aca udah janji dengan Abang mau pergi jalan-jalan kan sesudah Abang pulang. Ayo ca bangun hiks Abang akan pergi kemanapun aca mau." Ujarnya lalu memeluk tubuh mungil itu tanpa memperdulikan saat ini bajunya dan juga tangannya sudah penuh dengan noda darah tersebut.
"hiks hiks arghhhhh hiks ku- kumohon ini hanya mimpi hiks i-ini hanya mimpi hiks i-ini ha-hanya mi-mimpi." Ujarnya sebelum akhirnya pemuda itu jatuh pingsan.
Saat ini Leon tengah berada di rumahnya namun dengan kondisi yang berbeda. Tampak adiknya yang tengah duduk salah satu kursi bersiap untuk makan. Ibunya tampak sibuk membantu menyusun makanan di atas meja lalu sesekali memarahi ayahnya yang tidak becus dalam memasang dasi itu.
"Kau ini sudah tua tapi masih saja tidak bisa memasang dasi dengan benar." Omel wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu.
"Biarkan saja aku melakukan ini agar kau tetap peduli padaku." Ujar pria paruh baya itu dengan senyuman pada istri tercintanya.
"hmm baiklah kita akan jalan-jalan..." Wanita paruh baya itu terdiam saat melihat kearah Leon yang menatap sendu kepada mereka.
"Ayo Leon, kenapa berdiri aja di situ. Sini sayang makan." Ajak wanita itu.
"Abang ayok duduk sini samping aca." Tawar gadis kecil itu.
"Ayo nak makan nanti kamu terlambat loh." Kali ini pria paruh baya itu yang mengajaknya dengan senyuman.
"hiks" Leon menghapus air matanya lalu berjalan dengan senyuman kearah keluarga tercintanya itu.
'Tadi pasti hanya mimpi.' pikirnya bahagia.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya seakan-akan tersentak lalu matanya perlahan terbuka karena sinar matahari yang menerpa wajahnya.
Leon melihat sekelilingnya dimana ia masih berada di kamar dengan nuansa putih tapi tak lama tubuhnya mendadak gemetar saat mengetahui jika tadi hanyalah mimpi. Sedangkan saat ini adalah kenyataan dimana ia sudah kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
Pemuda itu sangat terpuruk dengan apa yang menimpanya, setelah kejadian itu dan memakamkan keluarganya Leon hanya terus mengunci dirinya di kamarnya tanpa keluar sedikitpun.
Hingga akhirnya pemuda itu memutuskan untuk balas dendam dengan apa yang terjadi padanya. Dia terus berusaha mencari siapa pelaku pembunuhan keluarganya hingga akhirnya ia tau jika pelaku pembunuhan keluarganya adalah pimpinan mafia yakni Anton yang saat itu menjabat sebagai King di dunia mafia.
Perjalanan yang di lalui oleh pemuda itu tidaklah mudah. Hingga akhirnya ia bertemu dengan anak yatim piatu dan menolongnya dan akhirnya di beri nama Martin lalu dengan bantuan Amelie mereka akhirnya memiliki kekuatan yang cukup meski pada saat itu Amelie harus jatuh ke dalam jurang.
Tapi usaha mereka membuahkan hasil Leon dapat membunuh Anton.
"Apakah kau yang membunuh keluarga Wira ?" Tanya Leon yang sudah berada unggul dari pada pria yang saat ini sudah banyak luka di badannya.
"Hahaha jadi kau pasti anak sulungnya kan?"
"Kau!."Geram Leon namun Martin dapat menahan bosnya itu.
"Kau tau pada saat mereka akan mati ayahmu dan juga adik serta ibumu memohon padaku, mereka bilang tolong biarkan anak sulungku" Ujarnya dengan bahagia.
"BUGH." Leon dengan segera memukul pria tersebut hingga tampak bibir bagian bawahnya yang mengeluarkan darah.
"Bos tenanglah." Pinta Martin.
"Hahaha ini menarik sekali."
"Kenapa kau membunuh keluargaku ha!!" Teriaknya.
__ADS_1
"Biar kuberi tau ya, aku membunuh mereka karena aku iri, aku sahabat ayahmu kami dulu sama sama di besarkan di panti yang sama tapi kenapa dia bahagia dan memiliki keluarga lengkap sedangkan aku hanya sendirian hahaha aku benci melihat Wira yang sangat bahagia aku sangat benci. Dan karena itulah aku membiarkan mu hidup agar Wira tidak akan bahagia di neraka sekalipun karena putra tersayangnya akan terus tersiksa, sendirian, dan juga kesepian hingga akhirnya mati." Ujarnnya dengan tatapan seperti orang gila itu.