
" Tapi jika ia memang pelayan yang diutus bagaimana?" Kali ini wanita berambut pirang pendek yang bajunya tidak kalah terbuka menimpali.
" Tidak mungkin ada pelayan tempat bos seperti dia, pasti lebih berkelas lah" ejeknya.
"PLAK" Ranti yang emosi lalu mendatangi resepsionis itu dan menamparnya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih memegang rantang makanan yang akan diberikan kepada Leon tersebut.
...****************...
Suara tamparan bergema keras di dalam ruangan tersebut. Tiga orang wanita yang tampak mencemoohnya terdiam karena kejadian itu.
"Kau berani sekali !!" Geram Resepsionis tersebut dengan tangan kanan memegang pipinya yang tampak memerah itu. Ranti yakin pasti bahwa tamparannya itu sangat sakit, karena tangannya sendiri pun juga sakit saat menampar wanita tersebut.
"Ya aku berani" jawabnya santai.
"Hei gadis rendahan tidak tau diri, seharusnya kau tau di mana tempatmu." salah satu temannya ikut mencemooh Ranti.
" Yang rendahan itu kalian, dengan tidak tau dirinya mengerjai orang lain lalu bukannya minta maaf tapi malah mencemoohnya dari belakang" Balas Ranti.
" Kurang ajar!" ucapnya gadis berambut pendek itu dengan mencengkeram erat dagu Ranti.
" Lepas !! Jangan menyentuhku dengan tangan kotor kalian !" Emosi Ranti tidak senang jika ada yang menyentuh bagian tubuhnya. Dengan cepat ia mengibaskan tangannya dengan cepat agar tangan gadis tersebut menjauh.
" Oke baiklah kami mengaku salah " Ucap wanita resepsionis itu dengan senyumannya yang ramah.
Kedua teman wanita tersebut yang awalnya terlihat kesal kini menatap aneh kearah wanita resepsionis itu. Tapi hanya di balas dengan senyuman oleh wanita tersebut.
" Baiklah jika kau telah menyadari kesalahanmu, aku juga tidak mau memperpanjangnya, yang tadi ku anggap sebagai kesalahpahaman saja." Ucap Ranti sedikit aneh dengan tingkah wanita di depannya yang mendadak berubah.
" Jika begitu dimana ruangan tuan Leon ?" Tanyanya kembali kepada wanita resepsionis itu.
Wanita itu menunjukkan dimana ruangan Leon berada dengan ramah. Setelah mendengar penjelasan dari Resepsionis tersebut Ranti menganggukan kepala tanda mengerti.
" Terimakasih dan maaf soal tamparan tadi," Ucap Ranti dengan senyuman tulusnya.
Gadis itu lalu berbalik dengan senyuman di wajahnya. Setidaknya ia dapat melihat pria tersebut.
__ADS_1
" BRAKK,"
" PLANGGG..." suara rantang yang di bawanya telah hancur berantakan.
" Rasakan itu" ejek wanita resepsionis itu dengan tangan yang ia lipat ke dada saat berhasil mendorong Ranti dari belakang. Dorongan itu yang tanpa diketahui Ranti tentu membuat gadis tersebut tersungkur ke depan.
" Hahaha kau memang bagusnya seperti itu, sejajar dengan kaki kami" sahut teman wanita resepsionis itu.
Ranti hanya diam memperhatikan makanan yang akan diberikannya kepada Leon telah hancur berantakan begitu saja.
" Makanannya..." gumamnya pelan.
Ranti segera bangkit dan menjambak wanita yang mendorongnya itu.
" KAU WANITA MENYEBALKAN !!" teriak Ranti masih dengan kuat menjambak wanita tersebut.
Tentu saja keributan mereka mengundang para karyawan kantor untuk menonton pertengkaran tersebut.
" siapa wanita itu ?"
" Lihatlah ia menjambak Karin dengan kuat sekali"
Bisik-bisik diantara karyawan yang melihat kejadian itu. Gadis bernama Karin yang merupakan wanita resepsionis itu, sepertinya sudah sangat kesakitan karena tangan Ranti yang masih setia menjambak rambutnya.
" PLAK" Satu tamparan melayang di wajah Ranti dari salah seorang teman Karin.
Sejenak suasana menjadi hening karena suara tamparan. Ranti mengusap sedikit darah yang keluar dari bibirnya.
" SIALAN" Umpat Ranti.
" PLAK!,PLAK!" Ranti membalas dua kali tamparan ke wanita yang telah berani menamparnya itu.
Pertengkaran mereka justru bertambah memanas, kali ini Ranti benar-benar menjambak kedua wanita tersebut.
"Ada apa ini ?" suara bariton yang familiar di telinga Ranti dan membuat semua orang disana meneguk ludah kasar. Sedangkan Karin dan teman-temannya sudah berkeringat dingin.
__ADS_1
Orang-orang disana langsung menunduk takut saat seorang pria dengan setelan jas lengkap dan wajah tampannya yang rupawan itu mendekat kearah mereka.
" Bos Anda harus menghukum gadis ini karena telah berbuat keributan di kantor anda." ucap Karin dengan akting tersakiti nya. Sedangkan Ranti hanya menatap malas kearah Karin.
" Drama queen" Gumam Ranti yang dapat didengar oleh orang-orang yang ada.
Karin melirik tajam kearah Ranti yang juga memandangnya tajam.
" Mau apa kau melihat ku seperti itu." Ucap Ranti tegas. Ia benar-benar merasa kesal dengan wanita seperti Karin ini. Dia yang bersalah akan tetapi ia juga yang paling merasa tersakiti.
"Jadi kau yang membuat keributan di kantor ku ?" Tanya Leon sambil menatap tajam Ranti yang sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" A-aku ? Bukan aku tuan dia yang lebih dulu aku ha-"
" Tidak perlu ada penjelasan kau bukanlah pegawai disini, jadi tentulah kau yang telah mengganggu suasana disini." Potong pria tersebut.
Karin tersenyum kemenangan saat merasa Leon berpihak padanya. Hingga ia memikirkan sebuah cara untuk membuat gadis tersebut bertambah malu.
" Anda benar tuan hiks wanita ini dari tadi memaksa ingin menemui anda katanya ia mengenal anda, saya hanya melarangnya karena anda tidak suka di ganggu dan juga sangat sibuk. Akan tetapi wanita ini memaksa dan malah menjambak saya dan juga rekan saya." Keluhnya dengan air mata yang terus mengalir. Tentu saja membuat orang-orang memandang hina kearah Ranti.
" Tidak! tidak ,bukan seperti itu yang terjadi. Tuan Leon anda percaya padaku kan ?" Ranti melihat semua orang yang menatap hina padanya. Namun gadis tersebut tidak terlalu memikirkannya karena baginya jika Leon akan mempercayainya dan itu cukup baginya.
" Martin usir wanita ini, aku tidak mengenalnya." Perintah Leon kepada Martin.
Ranti yang mendengar hal tersebut hanya dapat membeku. Perlahan air mata jatuh begitu saja dari kelopak matanya membasahi pipinya yang saat ini terdapat cakaran dari Karin dan temannya.
' Dia benar-benar tidak percaya padaku bahkan tidak mengenalku ?' Pikirnya dengan terus memandang sendu kearah Leon yang saat ini bahkan membalikkan badannya hendak berjalan pergi meninggalkannya.
Martin segera mendatangi Ranti dan ingin membawanya namun tanpa di sangka gadis tersebut menepis tangan Martin.
" Aku bisa sendiri," ucapnya dengan tegas yang membuat Leon menghentikan langkahnya dan menatap kearah gadis tersebut.
" Maaf atas keributan yang telah saya perbuat, Ternyata saya yang salah mengenali orang. Dia ..." Jedanya menatap Leon.
" Dia orang lain dan kami memang tidak saling mengenal dan tidak akan pernah mengenal" Ucapnya tegas lalu berjalan dengan tegap melewati Leon menuju pintu keluar.
__ADS_1
Saat ini hujan deras masih terjadi di luar.Namun, gadis tersebut tidak mempedulikannya. Langkah kakinya terus menuntunnya untuk semakin menjauh dari tempat dimana ia merasa hatinya sangat sakit.
"Hiks, Hiks, Hiks sa-sakit ini sungguh sakit... hiks, hiks, hiks." Rintihnya di bawah hujan yang semakin mengguyur basah tubuhnya.