
Kakak!" ucap seorang anak laki-laki bersama dengan Nita.
"Maaf mengganggu waktu anda nyonya, dari tadi anak ini merengek ingin bertemu anda." Jelas Nita yang tidak berani mengangkat kepalanya itu. Ia sebenarnya bukan takut terhadap Ranti namun takut dengan singa yang pastinya masih berada di kamar tersebut.
"Oh ya sudah tidak apa, sini biar aku yang menjaganya." Jawab Ranti dengan tenang.
"Tidak,aku tidak setuju." Sahut seseorang dari dalam kamar tersebut.
...****************...
Ranti menatap laki-laki tersebut dengan tatapan tidak percaya. Matanya menatap tidak suka pada laki-laki yang berstatus suaminya itu.
"Masuklah jangan hiraukan dia." Jawab Ranti dengan lembut kepada anak laki-laki itu.
"Masuk maka akan kupatahkan kakinya." Ancam Leon dengan nada dinginnya yang membuat Ranti membulatkan matanya.
'Bagaimana bisa ia berkata begitu pada anak kecil.' Pikir gadis itu tidak percaya.
"Baiklah maka aku yang akan keluar." Jawab Ranti dengan tegas.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk keluar." Pernyataan Leon yang membuat gadis itu benar-benar kesal.
"Aku tidak perlu izinmu." Ranti melangkahkan kakinya dengan perlahan meninggalkan kamar tersebut.
Melihat hal tersebut dengan cepat Leon melangkahkan kakinya menuju kearah pintu dimana gadis tersebut berada.
"Mau apa kau?" Tanya Ranti yang mulai geram dengan kelakuan dari pria tersebut.
"Akh ... Lepas kan aku Leon! lepas!!" Jerit Ranti dengan tubuhnya yang saat ini digendong oleh pria itu.
"Bugh" Leon melepaskan Ranti tepat diatas kasur sehingga tidak ada sakit yang diderita oleh gadis tersebut.
"Kau benar-benar menyebalkan!" Teriak gadis itu melihat leon berjalan kearah pintu lalu menguncinya dari luar.
"AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBALASMU FREDERICK LEONARDO ZE!!"Teriak gadis itu dengan suara yang menggelegar.
Sedangkan diluar saat ini Leon tengah berhadapan dengan seorang anak kecil dan juga pelayannya itu. Anak kecil tersebut menatapnya dengan tatapan tajam sedangkan Nita menundukkan kepalanya karena merasakan aura membunuh dari pria yang ada didepannya itu.
__ADS_1
"Kau apa yang kau lakukan pada kakak itu?" Tanya anak kecil itu dengan berani.
"Dia istriku jadi itu urusanku bukan urusanmu." Jawab Leon dengan nada datarnya. Sungguh pria tersebut sama sekali tidak peduli dengan umur dari lawannya saat ini.
"Aku akan menyelamatkan kakak dari laki-laki jahat sepertimu ini." Jawab anak kecil itu.
"Coba saja jika kau bisa," Tantang Leon lalu berlalu pergi ke kamar lainnya untuk membersihkan dirinya yang saat ini baru saja bangun tidur itu.
Setelah pria tersebut membersihkan dirinya ia kemudian berjalan meninggalkan kediaman mewahnya itu dengan kemeja hitam yang melekat pada tubuhnya itu. Sedangkan dari jendela lantai atas tersebut Ranti melihatnya dari balik tirai.
"Tetap tampan seperti biasanya." Gumam gadis itu saat melihat Leon memasuki mobil mewahnya itu. Ranti sendiri bingung kenapa ia mudah sekali untuk memaafkan pria itu. Bahkan ketika pria itu menyakitinya lagi-lagi Ranti akan memaafkannya dan kembali mencintainya seperti biasa.
"Aku memang sudah bodoh." Rutuknya pada dirinya sendiri.
Sedangkan sang empu yang didalam mobil hanya diam sedari tadi tanpa mengatakan satu patah katapun.
Hingga mobil mewah itu tiba di bangunan besar dengan pria-pria berjas hitam berdiri menyambutnya disana. Mereka sedikit membungkuk saat Leon mulai berjalan dengan gagahnya kedalam tempat tersebut.
"Bos anda telah tiba." Martin datang dan langsung menyambut kedatangan Leon dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Iwan mengerjabkan matanya saat menyadari bahwa ruangan itu mulai terbuka dan menampilkan sosok yang belum dapat ia lihat dengan jelas karena sinar yang baru ia rasakan setelah sekian lama.
"Kau" Ucapnya terkejut saat melihat Leon yang saat ini tengah berada tepat didepannya.
"Bugh" Martin menundukkan kepala Iwan dengan paksa saat melihat pria itu dengan berani menatap kearah Leon itu.
"Kau sama sekali tidak berhak bahkan jika hanya melihat bos." Ucap Martin dengan nada dinginnya.
Sedangkan pria yang lainnya menang sudah tergeletak lemas dilantai. Bahkan Martin sendiri tidak tau apakah mereka masih hidup atau tidak tapi satu yang ia tau pasti bahwa laki-laki bernama Iwan ini akan mati ditangan Leon.
"Kau adalah penyebab dari semuanya." Pernyataan dari bibir Leon yang langsung membuat suasana mencekam disana. Iwan yang mendengar hal itu meneguk ludahnya kasar.
"Ke-kenapa kau bisa ada disini?" tanya Iwan yang tengkuknya masih ditahan oleh Martin itu.
"Karena aku malaikat maut mu." Jawab laki-laki itu dengan pisau yang cukup tumpul ditangannya itu.
Mendengar hal tersebut laki-laki yang bernama Iwan itu mulai merasakan takut. Namun egonya lebih tinggi dan ia malah mengejek pria itu.
__ADS_1
"Hahaha malaikat maut katamu, jika saja hari itu aku tidak mendengarkan gadis bodoh itu dan langsung membunuhmu maka aku akan untung besar."Jawabnya yang masih dengan nada sombongnya.
"Bugh"
"Akh.."
"Sret"
"Jleb"
"Akh..." Suara demi suara terdengar saat Leon dengan perlahan memukul lalu menusukkan pisau itu ke punggung Iwan.Sedangkan Iwan hanya dapat menjerit pilu saat merasakan bahwa saat ini tubuhnya sedang tercabik-cabik itu.
"Ber-berhenti...kau tidak tau kalau kau sedang berhubungan dengan anggota mafia yang sangat ditakuti. Mendengar hal itu Leon menghentikan aksinya lalu menatap taja pria itu.
"Apa nama gengmu itu ?." Tanya Leon dengan alis yang sedikit ia naikkan itu.
Laki-laki itu terdiam lalu beberapa saat ia tampak terus berpikir keras.
"Aku tidak bisa memberitahukan padamu." Jawabnya.
"Benarkah?" tanya Leon yang saat ini sedang tersenyum mengerikan itu.
Dengan perlahan pria itu kembali menyiksa iwan dengan pisau yang saat ini masih ada ditangannya itu. Tanpa ampun Leon terus menusukkan pisau tersebut ke tubuh pria malang itu.
"Cih Martin urus dia jangan sampai dia mati dulu aku masih kurang puas." Ucap pria itu yang langsung berjalan menjauh dari ruangan tersebut.
Hal yang pertama yang ia lakukan adalah membersihkan tubuhnya didalam kamar yang memang sudah disediakan tempat itu.
"Aku ingin pulang rasanya." Gumam pria tersebut yang saat ini sedang berendam didalam bathup dengan aroma khas laki-laki yang biasa ia gunakan.
Sedangkan ditempat lain Ranti sudah berhasil melarikan diri bahkan. saat ini dirinya tengah berada didalam kamar dari anak laki-laki yang ditolongnya kemarin malam itu.
"Ojan udah minum obat atau belum?" Tanya gadis itu pada anak laki-laki yang bernama ojan itu
"Sudah kak, ojan janji akan selalu mengkonsumsi obat ini biar cepat sehat." Ungkap nya
"Baguslah jika begitu." Jawab gadis itu dengan tenang.
__ADS_1